Senin, 05 September 2022

Penyembahan dan Pemberitaan Firman

 1.      Penyembahan dan Pemberitaan Firman

Pemberitaan Firman Tuhan (Khotbah) dalam liturgi ibadah merupakan unsur yang penting yang tidak dapat diabaikan. Bahkan bagi Gereja-gereja aliran Calvinis, pemberitaan Firman Tuhan merupakan unsur tertingi dalam liturgi ibadah. Alasannya adalah karena pada waktu pemberitaan Firman, maka Allah berbicara kepada manusia. Tetapi bagi kebanyakan aliran gereja masa kini, semua unsur liturgi adalah penting. Yang sangat disayangkan adalah banyak Gereja yang telah kehilangan semangat Pemberitaan firman. Atraksi menjadi lebih penting dari pada khotbah, kehadiran penyanyi rohani lebih utama dari pada pemberitaan Firman.

Sesungguhnya, mendengarkan Firman Tuhan dengan penuh minat dan rasa hormat merupakan salah satu unsur penyembahan. Banyak orang Kristen antusias bernyanyi, berdoa, tetapi malas mendengarkan khotbah. Maka tidak sedikit jemaat yang menghabiskan waktunya untuk “berdoa” dan “menyembah” di menara doa tetapi tidak pernah sama sekali mau belajar firman Tuhan. Hal ini bisa berakibat fatal, karena orang yang semacam itu memiliki semangat tetapi belum tentu melakukan penyembahan dengan benar. Penyembahan yang benar harus melibatkan kesetiaan untuk mendengar isi hati Tuhan. Ada saatnya penyembahan di mana kita duduk dengan penuh hormat mendengarkan pemberitaan Firman Allah.

Bagaimana seharusnya kita meresponi Firman Allah? Nehemia 8:3-9 memberikan taladan bagaimana cara meresponi Firman Tuhan. Dari perikop itu kita dapat belajar beberapa hal dalam meresponi pemberitaan Firman Allah yaitu:

Pertama, mendengarkan dengan penuh perhatian. “Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu” (Neh. 8:4). Ini adalah hal pertama yang harus dipertunjukkan ketika firman Tuhan disampaikan.

Kedua, menerima Firman Tuhan. “Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri. Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: ‘Amin, amin!,’ sambil mengangkat tangan.” (Neh. 3:6-7a). Para penyembah Allah yang mendengarkan khotbah harus menerima Firman Allah dengan antusias, dan bahkan mengambil komitmen untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah melalui khotbah itu.

Ketiga, menyembah Allah. Mendengarkan Firman Allah harus membawa kita pada penyembahan. Dalam Nehemia 8:6b kita melihat tanggapan dari seluruh umat Israel setelah mendengar Firman Allah, “Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.” Itulah tujuan tertinggi dari pemberitaan firman Allah. Kita bukan hanya memahami Firman Allah lalu dijadikan sebagai bahan perdebatan, atau untuk diteruskan kepada orang lain. Mendengar Firman Tuhan harus membuat kita semakin menyembah Tuhan.

Dewasa ini banyak orang atau anak-anak muda bahkan para pelayan, begitu sibuk melayani tetapi tidak mengambil kesempatan untuk mendengar firman. Pada waktu khotbah para pemain musik dan pelayan lainnya menghilang. Tuhan Yesus mencela cara ini dalam kisah Maria dan Marta. Sekalipun Marta begitu sibuk melayani Tuhan Yesus, namun ia dicela karena tidak mendengarkan Tuhan berbicara. Sebaliknya Maria duduk tenang mendengarkan perkataan Tuhan (Luk. 10:38-42). Tuhan lebih senang kepada orang yang mendengarkan Firman-Nya ketimbang orang-orang yang terlalu sibuk melayani sampai tidak sempat mendengarkan Firman-Nya.

Oleh karena itu Gereja perlu memformulasikan siasat supaya para pelayan, pemain musik tidak keluar pada saat pemberitaan Firman Allah. Mereka diharuskan mendengar khotbah. Kalau perlu gereja dapat mengambil kebijakan menyiapkan tempat duduk khusus bagi para pelayan liturgi ibadah sehingga dapat mendengarkan Firman Tuhan dengan penuh perhatian. Jemaat dan pelayan perlu diajar untuk bersikap sopan pada saat pemberitaan firman Allah. Waktu pemberitaan firman bukanlah saat berbicara kepada orang di sebelah, bukan saat untuk membuka SMS (short Message Service), email, twitter atau facebook. Semua kesibukan yang lain, juga peralatan elektonik seperti hand phone harus dinonaktifkan pada saat ibadah sedang berlangsung.

Berhubungan dengan isinya, khotbah yang disampaikan dalam kebaktian haruslah Firman Allah, berita keselamatan dalam Kristus dan kehendak Allah bagi jemaat. Tidak dapat dipungkiri bahwa para pengkhotbah mencoba mengangkat berita-berita menarik supaya jemaat tertarik mendengar khotbah mereka. Pengkhotbah juga mencoba menghindari ancaman-ancaman dari firman Tuhan supaya mereka tidak berhenti diundang khotbah. Atau mereka mencoba memformulasikan cerita-cerita lucu semacam dongeng, kesaksian-kesaksian ajaib dan janji-janji Sukses dari Teologi Kemakmuran. Itu memang pesan-pesan yang sangat disukai orang-orang Kristen pada masa kini. Akan tetapi jika tidak berdasarkan kehendak Tuhan, maka khotbah itu akan menjijikkan hati Tuhan. Akhirnya penyembahan dalam liturgi ibadah itu menjadi rusak.

Semua unsur dalam liturgi ibadah, baik votum, musik, nyanyian pujian, kolekte, pemberitaan firman, paduan suara, vokal group, pengakuan iman dan sebagainya harus dilakukan dengan sikap penyembahan kepada Allah. Kita boleh menghabiskan waktu ibadah atau pelayanan di Gereja dan banyak orang memuji kita. Akan tetapi jika tidak disertai dengan semangat dan motif penyembahan, maka ibadah kita menjadi sia-sia. Kita mengikuti kebaktian dengan tujuan untuk bersekutu dengan Allah dan memuliakan Dia. Liturgi ibadah dikemas sedemikian rupa oleh masing-masing denominasi Gereja dengan tujuan penyembahan bersama.

Oleh: Hasrat P. Nazara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar