1. Penyembahan dan Pemberitaan Firman
Pemberitaan
Firman Tuhan (Khotbah) dalam liturgi ibadah merupakan unsur yang penting yang
tidak dapat diabaikan. Bahkan bagi Gereja-gereja aliran Calvinis, pemberitaan
Firman Tuhan merupakan unsur tertingi dalam liturgi ibadah. Alasannya adalah
karena pada waktu pemberitaan Firman, maka Allah berbicara kepada manusia.
Tetapi bagi kebanyakan aliran gereja masa kini, semua unsur liturgi adalah
penting. Yang sangat disayangkan adalah banyak Gereja yang telah kehilangan
semangat Pemberitaan firman. Atraksi menjadi lebih penting dari pada khotbah,
kehadiran penyanyi rohani lebih utama dari pada pemberitaan Firman.
Sesungguhnya,
mendengarkan Firman Tuhan dengan penuh minat dan rasa hormat merupakan salah
satu unsur penyembahan. Banyak orang Kristen antusias bernyanyi, berdoa, tetapi
malas mendengarkan khotbah. Maka tidak sedikit jemaat yang menghabiskan
waktunya untuk “berdoa” dan “menyembah” di menara doa tetapi tidak pernah sama
sekali mau belajar firman Tuhan. Hal ini bisa berakibat fatal, karena orang
yang semacam itu memiliki semangat tetapi belum tentu melakukan penyembahan
dengan benar. Penyembahan yang benar harus melibatkan kesetiaan untuk mendengar
isi hati Tuhan. Ada saatnya penyembahan di mana kita duduk dengan penuh hormat
mendengarkan pemberitaan Firman Allah.
Bagaimana
seharusnya kita meresponi Firman Allah? Nehemia 8:3-9 memberikan taladan
bagaimana cara meresponi Firman Tuhan. Dari perikop itu kita dapat belajar
beberapa hal dalam meresponi pemberitaan Firman Allah yaitu:
Pertama, mendengarkan dengan penuh
perhatian. “Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di
depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan
perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian
seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu” (Neh. 8:4). Ini adalah
hal pertama yang harus dipertunjukkan ketika firman Tuhan disampaikan.
Kedua, menerima Firman Tuhan. “Ezra
membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi
dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit
berdiri. Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang
menyambut dengan: ‘Amin, amin!,’ sambil mengangkat tangan.” (Neh. 3:6-7a).
Para penyembah Allah yang mendengarkan khotbah harus menerima Firman Allah
dengan antusias, dan bahkan mengambil komitmen untuk melakukan apa yang
dikehendaki Allah melalui khotbah itu.
Ketiga, menyembah Allah. Mendengarkan
Firman Allah harus membawa kita pada penyembahan. Dalam Nehemia 8:6b kita
melihat tanggapan dari seluruh umat Israel setelah mendengar Firman Allah,
“Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai
ke tanah.” Itulah tujuan tertinggi dari pemberitaan firman Allah. Kita bukan
hanya memahami Firman Allah lalu dijadikan sebagai bahan perdebatan, atau untuk
diteruskan kepada orang lain. Mendengar Firman Tuhan harus membuat kita semakin
menyembah Tuhan.
Dewasa
ini banyak orang atau anak-anak muda bahkan para pelayan, begitu sibuk melayani
tetapi tidak mengambil kesempatan untuk mendengar firman. Pada waktu khotbah
para pemain musik dan pelayan lainnya menghilang. Tuhan Yesus mencela cara ini
dalam kisah Maria dan Marta. Sekalipun Marta begitu sibuk melayani Tuhan Yesus,
namun ia dicela karena tidak mendengarkan Tuhan berbicara. Sebaliknya Maria
duduk tenang mendengarkan perkataan Tuhan (Luk. 10:38-42). Tuhan lebih senang
kepada orang yang mendengarkan Firman-Nya ketimbang orang-orang yang terlalu
sibuk melayani sampai tidak sempat mendengarkan Firman-Nya.
Oleh
karena itu Gereja perlu memformulasikan siasat supaya para pelayan, pemain
musik tidak keluar pada saat pemberitaan Firman Allah. Mereka diharuskan
mendengar khotbah. Kalau perlu gereja dapat mengambil kebijakan menyiapkan
tempat duduk khusus bagi para pelayan liturgi ibadah sehingga dapat
mendengarkan Firman Tuhan dengan penuh perhatian. Jemaat dan pelayan perlu
diajar untuk bersikap sopan pada saat pemberitaan firman Allah. Waktu
pemberitaan firman bukanlah saat berbicara kepada orang di sebelah, bukan saat
untuk membuka SMS (short Message Service), email, twitter atau facebook. Semua
kesibukan yang lain, juga peralatan elektonik seperti hand phone harus
dinonaktifkan pada saat ibadah sedang berlangsung.
Berhubungan
dengan isinya, khotbah yang disampaikan dalam kebaktian haruslah Firman Allah,
berita keselamatan dalam Kristus dan kehendak Allah bagi jemaat. Tidak dapat
dipungkiri bahwa para pengkhotbah mencoba mengangkat berita-berita menarik
supaya jemaat tertarik mendengar khotbah mereka. Pengkhotbah juga mencoba
menghindari ancaman-ancaman dari firman Tuhan supaya mereka tidak berhenti
diundang khotbah. Atau mereka mencoba memformulasikan cerita-cerita lucu
semacam dongeng, kesaksian-kesaksian ajaib dan janji-janji Sukses dari Teologi
Kemakmuran. Itu memang pesan-pesan yang sangat disukai orang-orang Kristen pada
masa kini. Akan tetapi jika tidak berdasarkan kehendak Tuhan, maka khotbah itu
akan menjijikkan hati Tuhan. Akhirnya penyembahan dalam liturgi ibadah itu
menjadi rusak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar