Rabu, 14 September 2022

Analisa Leksikal "Dosa yang tidak Mendatangkan Maut" (1 Yohanes 5:16)

 ANALISIS LEKSIKAL

1 Yohanes 5:16

Analisa literal terhadap “dosa yang tidak mendatangkan maut” mencakup pembahasan beberapa kata kunci yaitu pengertian “maut,” “dosa” dan “mendatangkan” secara umum. Dalam pandangan umum dosa dipahami sebagai perbuatan yang tidak benar, perbuatan yang melawan hukum Allah atau kesalahan. Tentang pengertian “dosa”, telah dibahas pada bab sebelumnya. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, dosa diartikan dala dua hal yaitu: (1) perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama: ya Tuhan, ampunilah segala -- kami; dan (2) perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara).[1] Untuk kata kerjanya, berdosa berarti berbuat dosa: misalnmya dilakukannya perbuatan yang nista itu tanpa perasaaan berdosa; dan arti yang kedua adalah  berbuat kesalahan, misalnya ia merasa kepada orang tuanya karena tidak mematuhi perintah dan nasihatnya.[2] Konsepsi umumnya adalah hal-hal atau perbuatan atau tindakan yang tidak benar, yang bertentangan dengan kebenaran. Berdosa artinya melakukan hal-hal yang tidak benar itu.

Yudaisme menganggap pelanggaran terhadap perintah ilahi sebagai dosa. Yudaisme menggunakan istilah ini untuk memasukkan pelanggaran hukum Yahudi yang tidak selalu berarti kehilangan moralitas. Yudaisme berpendapat bahwa semua orang berdosa di berbagai titik dalam hidup mereka, dan berpendapat bahwa Tuhan selalu mengendalikan keadilan dengan belas kasihan. Yudaisme menjelaskan tiga tingkat dosa yaitu:

(1)     Pesha - Dosa yang disengaja; tindakan yang dilakukan dengan sengaja menentang Tuhan;

(2)    Ovon - Ini adalah dosa nafsu atau emosi yang tidak terkendali. Itu adalah dosa yang dilakukan dengan sengaja, tetapi tidak dilakukan untuk menentang Tuhan;

(3)    Cheit - Ini adalah dosa yang tidak disengaja.[3]

 

Yudaisme berpendapat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan semua orang telah melakukan dosa berkali-kali. Namun keadaan berdosa tidak menghukum seseorang ke hukuman; hanya satu atau dua dosa yang benar-benar menyedihkan yang mengarah pada apa pun yang mendekati gagasan Kristen tentang neraka. Konsepsi alkitabiah dan rabi tentang Tuhan adalah tentang pencipta yang mengendalikan keadilan dengan belas kasihan.  Dalam konteks  “dosa yang yang tidak mendatangkan maut” berarti perbuatan yang tidak benar, namun tidak mendatangkan maut, bagi mereka yang melakukannya. Dengan melihat konsepsi Yahudi (Yudaisme), dosa yang tidak mendatangkan maut berarti dosa yang tidak mengakibatkan seseorang masuk ke neraka.

Kata yang perlu diperhatikan secara literal adalah “mendatangkan” maut. Apakah kata ini diartikan membawa, atau mengakibatkan atau ada beberapa pandangan lain. Secara umum “mendatangkan” merupakan kata jadian yang kata dasarnya adalah “datang.” Kata datang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti:

(1) membawa dari tempat lain.
contoh: 'siapa yang mula-mula mendatangkan pohon kina ke Indonesia'

(2) memasukkan; mengimpor
contoh: 'pengusaha-pengusaha nasional diberi kesempatan untuk mendatangkan mesin pertanian dari luar negeri'

(3) memanggil
contoh: 'mereka mendatangkan ambulans untuk mengangkut korban kecelakaan'

(4) menyebabkan
contoh: 'banjir telah mendatangkan kerugian besar'

(5) mengundang untuk diajak bertanding
contoh: “persatuan sepak bola Indonesia mendatangkan kesebelasan Brazil.”[4]

 

Dari pengertian di atas, ada beberapa konsepsi yang dapat terbangun ketika kata ini ditetapkan pada ayat yang sedang dibahas. Bisa berarti menyebabkan atau bisa juga berarti membawa. Mengingat bahwa konteksnya adalah berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, maka sangat mungkin kata mendatangkan berarti mengakibatkan. Hal ini merupakan konsekwensi dari dosa itu.

Dalam versi-versi Alkitab berbahasa Inggris, ‘kata mendartangkan diterjemahkan dengan kata “lead” atau “leading.” Ini berarti bahwa dosa itu memimpin atau mengarahkan ke maut. Menurut Kamus Thesaurus, mendatangkan mengandung pengertian yaitu:

Mendatangkan = melahirkan, melantarkan, memanggil, memasukkan, membawa, membuahkan, membuat, memicu, memperkenalkan, mencetuskan, menerbitkan, mengadakan, mengakibatkan, menghadirkan, mengimpor, mengundang, menimbulkan, menjadikan, menumbuhkan, menurunkan (hujan), menyebabkan, menyelundupkan, menyulut, merangsang, mewujudkan.[5]

 

Dengan memperhatikan arti kata “mendatangkan” dari beberapa kamus, maka diperoleh gambaran bahwa mendatangkan yang dimaksud di ini merupakan suatu keadaan yang timbul baik sdisebabkan oleh suatu hal maupun yang tidak disebabakan oleh hal sebelumnya. Mengingat bahwa ayat yang sedang dibahas memiliki konteks dan keterkaitan antara kata yang satu dengan kata yang lain, maka dapat dipastikan bahwa kata ini merupakan sebab atau akibat dari suatu hal lain baik sebelumnya ataupun sesudahnya.

Dalam teks aslinya, memakai kata depan Yunani pro.j (pros) yang secara umum diterjemahkan menuju atau kepada.[6] Terjemahan versi-versi bahasa Inggis lebih tegas menunjukkan bahwa kata ini disebabkan oleh tindakan sebelumnya (dengan menggunakan kata “lead”), yaitu dosa. Sebagai akibat dari dosa itu, maka ada keadaan yang memimpin pada maut. Atau dengan memperhatikan kata Yunaninya, berarti dosa itu sedang menuju maut. Itu maksud kata “mendatangkan” berdasarkan analisa literalnya.

Kata yang cukup penting untuk dianalisa secara literal adalah “maut.” Ada banyak pandangan mengenai “maut “ yang dimaksud di sini. Bisa berarti hukuman mati pada masa kini, bisa berarti putusnya hubungan dengan Allah, atau kecelakaan, atau berarti neraka. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, “maut” beratri kematian.[7] Di sini tidak ditemukan pengertian yang khusus. Ada kecenderungan dari pengertian ini bahwa dosa yang mendatangkan maut adalah dosa yang mengakibatkan kematian, yaitu kematian secara fisik.

Menurut Lewis, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, maut kadang dipahami sebagai kematian fisik, akan tetapi lebih banyak dipahami sebagai kematian secara rohani. [8] Bahkan kata ini diidentikkand dengan “alam maut” yang kadang dipahami sebagai upah dosa.

Dari satu sudut kematian termasuk peristiwa yang paling lumrah: ‘manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja’ (Ibr 9:27). Kiranya bisa diterima tanpa perbantahan: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama dengan Dia” (Yoh 11:16). Dari sudut pandang yang lain, maut atau kematian merupakan hal yang paling tidak wajar. Maut adalah upah dosa (Rom 6:23), karma itu patut ditakuti. Kedua sudut pandang ini terdapat dalam Alkitab, dan tidak boleh dilalaikan. Secara biologis kematian adalah keharusan, tapi kematian manusia tidaklah seperti kematian binatang.[9]

 

Dari beberapa pengertian di atas, ada dua pengertian maut di sini yaitu kematian secara fisik, dan juga kematian secara rohani. Tidak dipastikan apakah maut dalam pengertian ini mengacu pada hukuman neraka atau bukan. Konteks dari ayat yang sedang dibahas menetukan pengertian “maut” yang sedang dibahas Ini. Kedua kemungkinan ini bisa diterapkan dalam ayat yang sedang dibahas, akan tetapi kebanyakan penafsir mengaitkannya dengan hal-hal yang rohaniah.

Dalam terjemahan Alkitab Bahasa Inggris, hamper semua  versi memakai kata “death.” Sebelumnya telah dibahas dari Terjemahan Alkitab Bahasa Infdonesia Sehari-hari, menerjemahkan “kehilangan kehidupan kekal.” Berdasarkan teks aslinya, kata Yunani yang dipakai adalah qa,naton (thanaton) yang merupakan kata benda akusatif, maskulin tunggal.[10] Kata dasarnya adalah qa,natoj (tahanatos) yang secara umum diterjemahkan “kematian,” baik kematian secara fisik, maupun kematian secara rohaniah.[11]

Secara literal disimpulkan bahwa maut adalah kematian yang bisa mengacu pada kematian fisik, dan bisa juga mengacu pada kematian rohani. Akan tetapi yang menjadi sorotan adalah pengertian maut dalam ayat yang sedang dibahas. Dengan memperhatikan keterkatian antara kata yang satu dengan kata yang lain serta konteks yang sedang dibahas, maka lebih tepat diterjemahkan kematian rohani. Dengan demikian “dosa yang tidak mendatangkan maut” secara literal disimpulkan sebagai perbuatan salah, yang bertentangan dengan hukum Allah, yang tidak mengakibatkan kematian secara rohani.

Oleh: Hasrat P. Nazara



[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1980), …

[2] Ibid.

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Dosa, diakses tanggal 11 Mei 2021.

[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia

[5] Arti kata “datang, mendatangkan” dalam Kamus Kompilasi Alkitab: Kamus Thesaurus. Sofware Komputer, SABDA cersi 5.0, (CD Room).

[6] Analisis “pro.j1 John 5:16 dalam, Bible Works, ver. 7.0. Software Alkitab, BGT Morphology, [CD ROM].

[7] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia

[8] J. D. Douglas (peny), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004),

[9] Ibid.

[10] Analisis “qa,naton1 John 5:16 dalam, Bible Works, ver. 7.0. Software Alkitab, BGT Morphology, [CD ROM].

[11] Kata qa,natoj dalam Gingrich Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, [CD ROM].

Dosa yang tidak mendatangkan Maut (1 Yohanes 5:16), Tinjauan Kontekstual Biblikal

ANALISIS KONTEKSTUAL

1 Yohanes 5:16

Dosa yang tidak mendatangkan Maut

 

Dalam proses penelitian ini, maka sebagaimana yang telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya bahwa anlisa yang pertam dilakukan adalah analisa kontekstua, maka pada bagian yang pertama ini akan dianlisa maksud “Dosa yang tidak mendatangkan maut” ini berdasarkan konteks ayat maupun pasal Surat yang sedang dibahas. Analisa kontekstual ini terdiri dari dua bagian pembahasan yaitu analisa konteks dekat, yaitu memperhatikan keterkaitan ayat yang dibahas dengan ayat-ayat sebelum maupun sesudahnya; dan analisa konteks jauh yaitu hubungan antara ayat yang sedang dibahas dengan pasal-pasal sebelum maupun sesudahnya.

 

Analisa Konteks Dekat

 Untuk memperoleh maksud “dosa yang tidak mendatangkan maut” dari konteks dekat ayat itu, maka akan diamati pembicaraan dari perikop ayat itu secara utuh. Sudah pasti bahwa dosa yang tidak mendatangkan maut ini merupakan lawan kata dari dosa yang mendatangkan maut sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat itu dan bahkan juga disinggung pada ayat-ayat sesudahnya. Lembaga Alkitab Indonesia memberikan jugdul untuk konteks ayat-ayat ini sebagai Pengetahuan akan hidup yang kekal (I Yoh. 5:13-21). Judul perikop ini sudah diterima dan diakui sebagai salah tema dalam pembahasan Surat Yohanes. Tentu saja dosa yang tidak mendatangkan maut berhubungan dengan judulnya yang menyinggung tentang hidup kekal.

Penulis Surat Yohanes mengangkat tema-tema penting untuk memberikan pengajaran yang sesuai dengan injil dan kebenaran yang didengar, dilihat dan disaksikan (1:1). Salah satu tema penting dan menarik adalah kehidupan orang Kristen yang masih hidup di dalam kegelapan dan dosa (1:6,8) yang walaupun sebenarnya terang dan kebenaran itu sudah ada dan siap menerangi kegelapan itu serta menyucikan segala dosa (1:5:7)

Menurut , keseluruhan pasal 5 dari 1 Yohanes ini membicarakan tema tentang apa yang diketahui dengan sungguh (What Do You Know for Sure)[1] Dalam Tafsiran Alkitab Wycliffe, pasal 5 ini berbicara tentang  “Penggetak Persekutuan”  dan khusus perikop ayat 13-21 berbicara tentang Iman kepada Kristus yang dibuktikan dengan keyakinan yang kita tunjukkan.[2] Sungguh penerima surat ini adalah jemaat-jemaat yang memang sungguh-sungguh telah menerima keselamatan dan hidup dalam persekutuan Kristen, sehingga perlu menerapkan (mengaplikasikan) apa yang dipercayai itu.

Dalam ayat 13, Yohanes pertama-tama meyakinkan penerima suratnya bahwa mereka memiliki kehidupan yang kekal. Berikutnya dalam ayat 14 dan 14 disinggung tentang iman bahwa doa kita dikabulkan oleh Tuhan. Ayat yang sedang dibahas menekankan tentang doa bagi dosa yang tidak mendatangkan maut. Doa ini ditujukan kepada saudara-saudara yang telah memperoleh keselamatan. Sebagai anak-anak Tuhan (sebagaimana yang telah ditekankan sebelumnya, pada ayat 6-12) penerima surat diyakinkan bahwa apa yang didoakan akan dikabulkan oleh Tuhan. Akan tetapi sangat mungkin bahwa doa yang dikabulkan oleh Tuhan adalah doa bagi dosa yang tidak mendatangkan maut.

Pada ayat 16, ditekankan bahwa doa bagi dosa yang tidak mendatqangkan maut ini dilakukan untuk saudara-saudara seiman. Sedangkan untuk dosa yang mendatangkan maut tidak dianjurkan untuk berdoa. Di sini penulis membedakan dengan tajam antara dosa yang tidak mendatangkan maut dengan dosa yang mendatangkan maut. Bagi penafsit Wicliffe, dosa yang mendatangkan maut di sini bukan dosa yang membawa pada hukuman kekal, ke neraka, melainkan sifat yang tidak kelihatan, yang sulit diubah atau kebiasaan-kebiasaan buruk sebagaimana yang terdapat dalam 1 Korintus 5.[3] Akan tetapi beberapa sarjana lain berpendapat bahwa dosa yang mendatankan maut berhubungan dengan dosa yang pada akhirnya membawa seseorang ke dalam hukuman kekal.

Selanjutnya pada ayat 18-10 Penulis menyinggung bahwa “kita” tidak berbuat dosa dan “kita” berasal dari Allah. Sementara itu Ada juga pandangan yang menafsirkan dosa yang mendatangkan maut sebagai kegitan ajaran sesat, antikristus dan penyembah berhala, seperti yang disinggung dalam ayat 21.[4] Jadi dari konteks dekatnya, sekalipun ada pendapat yang tidak mengaitkan dosa ini dengan keselamatan, namun pembicaraan dalam perikop ini berhubungan dengan doa untuk orang-orang yang sudah memperoleh kepastian keslamatan. Dengan demikian apapun dosa yang mereka lakukan tidak membuat mereka kehilangan keselamatan.

 

Analisa Konteks Jauh

Pembacaraan tentang dosa yang tidak mendatangkan maut dalam 1 Yohanes 1 5:16 sangat mungki berhubungan dengan pembicaraan pasal-pasal sebelumnya. Isi keseluruhan Surat ini adalah adalah nasihat untuk hidup dalam persekutuan baik dengan Allah maupun dengan saudara-saudara seiman. 1 Yoh disebut Surat, tapi di dalamnya tak terdapat sedikit pun ‘yg bersifat surat’ dalam anti yang sebenarnya (berbeda dari 2 dan 3 Yoh), dan lebih merupakan traktat yabg dialamatkan kepada keadaan khusus.[5] Surat ini timbul guna menampik kegiatan guru-guru penyesat yang telah mengundurkan diri dari jemaat (atau jemaat jemaat), dan yang berusaha menggoda orang-orang percaya (1Yoh 2:18, 26). Kepada merekalah Surat ini dialamatkan oleh Yohanes.[6] Dalam Surat ini, Yohanes menekankan bahwa penerima Suratnya adalah anak-anak Allah, sedangkan mereka yang lain bukanlah anak-anak Allah.

Pemabahasan yang cukup menarik, adalah memastikan apakah dosa yang tidak mendatangkan maut adalah dosa-dosa  anak-anak Allah sedangkan yang mendatangkan maut dosa orang-orang yang bukan anak-anak Allah. Pada pasal pertama Yohanes menekankan pengakuan akan ketrerbatasan anak-anak Allah dalam hal dosa. Sekalipun kita sudah mendapatkan status menjuadi anak-aak Allah, namun harus senantiasa mengaku dosa kepada Allah (1 Yoh 1:9). Ini adalah penyucian dari dosa supaya kita tetap di dalam Allah.[7]

Kemudian dalam pasal 2 disinggung tentang antikristus (2:18-27). Mereka-mereka ini jelas hidup dalam dosa dan pasti sedang menuju maut. Selanjutnya dalam pasal 3 dibicarakan tentang anak-anak Allah, dimana jita dinasihati untuk hidup dalam kasih dan persaudaraan (3:11-18). Secara egas, penulis menyatakan bahwa setiap orang yang tidak mengasihi saudaranya adalah anak-anak Iblis. Dalam pasal 4 Paulus membedakandengan sangat tajam antara Roh Allah dan Roh antikristus (4:1-21). Ada yang berasal dari Allah dan ada juga yang berasal dari Iblis: “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan (1 Yoh 4:4-6).

Ada banyak kata-kata yang dipisahkan dengan tajam seperti anak-anak Allah dengan anak-anak Iblis, kehidupan dan kematian, dan sebagainya. Tiga kali kata “kematian” dicatat dalam surat ini (1Yoh 3:14; 1Yoh 5:16-17). Dalam surat ini penulis Yohanes sebelumnya menggunakan kata “kematian” untuk merujuk kepada kematian kekal (1 Yoh 3:14). Penggunaan kata ini menggambarkan bahwa orang percaya sudah berpindah dari dalam maut (kematian) ke dalam hidup (zoen), yaitu karena Kristus yang telah memberikannya. Tentu saja kata kerja “telah berpindah,” menekankan bahwa tindakan itu telah rampung dan memberi dampak bagi kehidupan orang percaya. Ini bisa berhubungan dengan dosa yang tidak mendatangkan maut pada pembicaraan yang sedang dibahas.

Kesimpulan analisa Kontekstual: dengan memperhatikan ayat-ayat dekat (konteks dekat) dan pasal-pasal yang ada dalam surat itu, ternyata Penulis surat membedakan dengan sangat tajam anatara anak-anak Allah, yang berasal dari Allah dengan anak-anak Iblis, yang berasal dari Iblis. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara orang percaya dengan orang yang belum percaya. Pada baian teakhir ditekankan bahwa orang-orang percaya mengerti kebenaran. Sedangkan penyembah berhala adalah mereka yang tidak megerti kebenaran. Disimpulkan bahwa dosa yang tidak mendatangkan maut adalah dosa yang tidak membawa pada hukuman kekal, dosa yang tidak membuat orang pasti masuk neraka. Untuk dosa ini telah tersedia pengampunan oleh Allah dalam penebusan Kristus.


Oleh: Hasrat P. Nazara



[1] Tafsiran 1 John 5:14-dalam The Bible Exposition Commentary. Copyright © 1989 by Chariot Victor Publishing, and imprint of Cook Communication Ministries. All rights reserved. Used by permission.

[2] ____________, dalam Tafsiran Alkitab Wycliffe, Volume 3 Perjanjian Baru (Malang (Gandum Mas, 2004). 1380.

[3] Ibid.

[4] Tafsiran 1 John 5:14-dalam The Teacher's Commentary. Copyright © 1987 by Chariot Victor Publishing. All rights reserved.)

[5] J. D. Douglas (Peny), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 19989),

[6] Ibid.

[7] ____________, dalam Tafsiran Alkitab Wycliffe, Volume 3 Perjanjian Baru,  1351.

Signifikansi Dosa yang tidak ada Penghapusnya, Eksposisi Ibrani 1:26

 Ibrani 10:26 menyatakan: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Kata atau frasa yang perlu untuk diungkap dalam pembahasan ini ada tiga yaitu: pertama: apa yang dimaksud dengan sengaja berbuat dosa; kedua: apa itu pengetahuan tetang kebenaran; dan ketiga adalah apa maksudnya tidak ada korban untuk menghapus dosa.

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberikan judul perikop dari ayat yang sedang dibahasa adalah “Ketekunan.” Dengan demikian judul ini sedikit memberikan petunjuk tentang maksud ayat yang sedang dibahas. Dalam ayat 19 dikemukakan tentang kelayakan kita untuk masuk dalam hadirat Tuhan. Ini berarti bahwa pengetahuan tentang kebenaran berhubungan dengan berita Injil yang telah diterima oleh penerima Surat Ibrani. Dalam Barnes' Notes dikemukakan secara implisit bahwa Surat ini merupakan nasihat kepada orang-orang Kristen yang menerima janji-janji keselamatan dari Allah.[1] Dengan demikian maka nasihat atau peringatan ini ditujukan kepada orang-orang yang sudah menerima keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Mereka adalah jemaat Kristen mula-mula.

Pada ayat ayat sesudahnya (terutama ayat 23) juga disampaikan nasihat untuk berpegang pada pengakuan tentang keselamatan itu. Dari apa yang disampaikan di sini setidaknya ada dua pandangan tentang mereka-mereka yang sudah menerima kebenaran. Pandangan yang pertama menganggap bahwa mereka yang diperingatkan adalah yang menerima kebenaran secara lahiriah, yang mana sesungguhnya mereka belum menerima keselamatan. Pandangan yang kedua adalah mereka yang sudah menerima keselamatan, namun sedang terancam oleh penganiayaan yang besar sehingga mereka sangat mungkin untuk meninggalkan keselamatan yang telah mereka terima.[2]

Di sini diindikasikan adanya usaha untuk mempertahankan keselamatan. Dan apabila tidak kuat untuk melakukan kebenaran maka bisa menimbulkan kemurtadan sehingga mengalami kehilangan keselamatan. Dalam ayat 25 juga disampaikan nasihat supaya tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Namun demikian, pembicaraaan tentang mereka yang menerima kebenaran belum tentu ayat-ayat ini berbicara tetang usaha untuk mempertahankan keselamatan. Dalam Adam Clarke's Commentary juga dikemukakan adanya kemurtadan di antara mereka yang telah menerima keselamatan itu.[1] Namun belum dipastikan apakah mereka yang murtad itu adalah orang-orang yang sebelumnya sudah diselamatkan atau mereka yang memang sebelumnya dari awal belum diselamatkan.

Pembicaraan mengenai kematian yang mengerikan dan api yang dahsyat dalam ayat 27 menunnjukkan bahwa yang dimaksud dengan tidak ada korban penghapus dosa adalah ketiadaan keselamatan bagi mereka yang sengaja berbut dosa. Terlebih lagi dalam ayat 29 dikemukakan tentang mereka yang menginjak-injak Anak Allah, akan menmerima hukuman yang mengerikan. Namun tentang hal ini, Henry memberikan pandangannya:

Nah, kalau kita sudah memahami pembukaan dari Ibrani 10 ini, maka kita bisa melihat ayat 26-27 ini dengan perspektif yang cocok. Ketika penulis menuliskan tentang kesengajaan berbuat dosa, ia tidak bermaksud tentang dosa sehari-hari, seperti marah-marah, berbohong, dan lain-lain. Dalam konteks surat Ibrani ini, dosa di sinilah adalah ketidak-percayaan, menolak untuk percaya dan menerima Kristus. Bandingkan dengan ayat Ibr 4:7, peringatan untuk tidak mengeraskan hati dan tetap menolak Kristus.[2]

 

Henry menyatakan bahwa ini tidak berbicara tentang kemurtadan orang-orang yang sudah selamat melainkan mereka yang terus-menerus mengeraskan hati tidak menerima kebenaran itu, sekalipun mereka sudah mendengarnya. Ini adalah nasihat dan peringatan supaya orang-orang yang sudah diselamatkan tidak berlaku sama seperti orang-orang yang belum menerima keselamatan itu.

Dalam ayat 32 dan 33 dari Ibrani pada 10 ini, penulis mengingatkan penerima suratnya tentang masa yang lalu bahwa mereka telah mengalami berbagai penganiayaan dan mereka telah bertahan dalam keadaan itu. Pada ayat 34 dikemukakan bahwa mereka yang mengalami penganiayaan tersebut memiliki harta yang nilainya lebih tinggi, sehingga oleh karenannya diperlukan ketekunan untuk tidak melepaskan kepercayaan dan hal-hal ang terbaik itu. Ini adalah hal yang layak dilakukan oleh orang jemaat yang telah memperoleh kebenaran atau keselamatan. Hal ini dijelaskan dalam ayat terakhir peikop itu: “Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup”. Jadi berdasarkan analisa konteks dekatnya, maka Ibrani 10:26 ini merupakan nasihat bagi jemaat-jemaat Kristen dan peringatan bagi orang-orang yang masih belum percaya, yang hanya mengaku Kristen secara agamawi.


Analisa Konteks Jauh

Secara mendasar, analisa konteks jauh dari Ibrani 10:26 ini meliputi beberapa pasal sebelum dan beberapa pasal sesudahnya. Hal ini juga akan semakin jelas dalam pembahasan garis Besar Surat Ibrani. Banyak Sarjana Perjanjian Baru telah merumuskan garis besar Surat ini, yang isinya secara garis besar adalah menjelaskan tentang karya Kristus, tanggungjawab orang Kristen, peringatan dan nasihat. Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Garis Besar Surat Ibrani adalah sbb: Tema ajaran: superioritas Kristus, Ibr 1:1; 10:18. (a) Oknum Kristus, Ibr 1:1; 4:13; (b) Pekerjaan Kristus, Ibr 4:14; 10:18; (c) Penerapan praktis tema ajaran, Ibr. 10:19; 13:25.[1]

Menurut Bergant,  pada bagian Ibrani pasal 4-10, kematian Kristus dimaknai pengorbanan paling  sempurna yang menghapus dosa manusia untuk selama-lamanya. Untuk sampai kepada kesimpulan ini, penulis mengajak pembacanya untuk membandingkan pengorbanan yang dilakukan Yesus dan peran imam dalam tradisi Yahudi yang identik dengan kekudusan dan persembahan kurban. Penulis tampaknya mau menegaskan keistimewaan pengorbanan Kristus, karena sebagai imam Kristus sendiri mengorbankan diri-Nya sehingga tidak ada lagi medium "korban" untuk menghubungkan Allah dan manusia.[1] Di sini dia mengungkapkan bahwa hanya pengorbanan Kristus yang bisa menyelamatkan manusia.

Pada pasal-pasal selanjutnya dikemukakan tentang saksi-saksi iman, yang mana mereka semua hidup dalam kebenaran dan iman kepada Allah, mereka tidak pernah dengan sengaja berbuat dosa, sehinga mereka dipastikan memperoleh keselamatan. Pasal 12 berisi tentang nasihat supaya bertekun dalam iman, dan demikian juga isi dalam pasal 13. 

Dari analisa konteks dekat maupun konteks jauh, mereka yang sengaja berbuat dosa itu bukan orang-orang yang sudah menjadi jemaat sejati melainkan suatu perbandingan dengan orang yang belum memperoleh keselamatan. Oleh karenanya disampaikan nasihat dan peringatan supaya tidak hidup seperti orang yang akan mengalami kebinasaan. Bagi mereka yang tidak mencapai tuntutan kehendak Allah, akan ada kebinasaan. Dengan demikian tidak ada korban penghapus dosa lagi. 

Analisa Leksikal

Untuk memperoleh pemahaman dan konsepsi ytang semakin lengkap, selain analisa literal, juga dilakukan pembahasan atau alias secara khusus yaitu studi lata atau yang dikenal dengan istilah analisa leksikal. Dalam rangka menemukan makna frasa dalam Ibrani 10:26, tentang ketiadaan korban penghapus dosa jika berbuat dosa dengan sengaja, maka ada beberapa kat menjadi kunci untuk dibahas. Adapun kata-kata yang akan dibahas adalah: (1) sengaja; (2) berbuat dosa atau berdosa; (3) menerima; (4) pengetahuan; (5) kebenaran; (6) tidak ada lagi; (7) korban; (8) penghapus; dan (9) dosa. Pengurutan kata-kata yang akan dibahas ini berdasarkan teks dalam Alkitab Terjemahan Baru.

Kata yang pertama yaitu “sengaja” merupakan kata sifat Yunani Ekousi,wj (ekousios) yang kata dasarnya adalah e`kousi,wj (ekousin).[1] Menurut Gingrich Greek Lexicon, kata ini memiliki dua pengertian yaitu (1) dengan sukarela, sukarela, atau secara spontan, seperti yang muncul dalam 1 Petrus 5:2 “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Kata ini merupakan lawan dari kata avnagkastw/j (anagkastos) yaitu tidak rela. Dan arti yang kedua adalah sengaja.[2] Pemakaian secara umum kata ini berkenaan dengan kesediaan untuk melakukan sesuatu tanpa dipaksa atau ditekan - 'bersedia, dengan sukarela, atas keinginan sendiri. Dengan demikian, kosep dari perbuatan ini adalah sukarela dari diri sendiri, bukan karena pengaruh dari orang lain atau pihak luar. Dalam hal inilah tidak berlaku lagi pengampunan bagi merek yang melakukannya.

Kata yang kedua adalah berbuat dosa. Memang dalam terjemahan bahasa Indonesia terdiri dari dua kata, namun dalam bahasa Yunaninya hanya satu kata yaitu a`martano,ntwn (hamartanonton) dengan kata dasar a`marta,nw (hamartano), sebagaimana yang telah disinggung pada bagian analisa literal. Kata a`marta,nw (hamartano) secara mendasar diterjemahkan “dosa.” Dalam Louw – Nida Greek Lexicon, kata ini diartikan sebagai bertindak bertentangan dengan kehendak dan hukum Allah - 'berbuat dosa, berbuat salah, atau berdosa.[3] Kata ini muncul dalam Lukas 15:18, perumpamaan tentang anak yang hilang, yang telah menghambur-hamburkan harta milik warisan ayah mereka, kemudian ia sadar dan bertobat, lalu berkata: Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa. Konsep dari pemakaian kata ini adalah bahwa ia telah melakukan hal yang bertentangan dengan kehendak ayahnya. Kata ini dipakaia dalam pengertian melakukan hal yang salah. Dari srudi kata ini, maksud dengan berbuat dosa adalah melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah. Dalam konteks Ibrani 10:26, artinya melakukan tindakan yang bertentangan dengan maksud Tuhan.

Studi kata yang ketiga adalah “menerima” dari bahasa asli Yunani yaitu labei/n (labein). Kata dasarnya adalah lamba,nw (lambano) yang secara umum diterjemahkan mengambil atau menerima. Dalam pengertian yang aktif, kata ini berarti, mengambil, memegang, memegang erat (Mat 26: 26a; Mrk 12: 19–21; 15:23; J 19:30; Yoh 5:10; Rv 5: 8f). Rebut Mt 21:35, 39; Luk 5:26; 9:39; 1 Kor 10:13. Juga kadang diterjemahkan mengambil, menggambar, menangkap, mengumpulkan dan sebagainya. Bahkan ketika kata ini digabung dengan labw.n th.n spei/ran e;rcetai (labon ten speiran) diterjemahkan “datang dengan sepasukan” sebagaimana yang muncul dalam Yohanes 18:3. Dalam pengertian yang pasif kata ini diterjemahkan d menerima, mendapatkan, memperoleh (Mrk 10:30; 12:40; Luk 11:10; Kis 1:20; 10:43; 20:35; 1 Kor 4: 7; 9: 24f; Yak 1:12; Why. 22:17). Kata menurut Louw – Nida, kata ini juga diterjemahkan sebagai memegang sesuatu atau seseorang baik dengan kekuatan maupun tanpa kekuatan (Mat 26: 26a; Mrk 12: 19–21; 15:23;Yoh. 19:30).[4] Jadi, kosepsinya adalah bahwa suatu benda atau hal (yang dalam hal ini pengetahuan tentang kebenaran) telah berada di tangan atau pada seseorang yang menerimanya. Ia telah memegang atau menerima dengan kesadaran yang aktif. Artinya sesuatu yang diterima itu sudah ada pada mereka. Dengan demikian, mereka tidak dapat berdalih bahwa mereka belum menerimanya.

Kata yang keempat adalah pengetahuan, yang diterjemahkan dari kata asli Yunani evpi,gnwsin (epignosin) dengan kata dasar evpi,gnwsij (epignosis). Secara mendasar kata dasar Yunani ini diartikan sebagai wawasan, pengetahuan (Kol 1: 9f; 1 Tim 2: 4; Titus 1: 1; Filemon 6; Ibrani 10:26; 2 Ptr 1: 2); juga diterjemahkan sebagai kesadaran dalam Roma 3:20 dan mengenali dalam Roma 1:28.[5] Konsepsi dari kata Yunani evpi,gnwsij (epignosis) ini adalah memiliki informasi yang lebih pasti tentang sesuatu, mungkin dengan tingkat ketelitian atau kompetensi yang tinggi, mengenali tentang, pengetahuan tentang sesuatu. Ada pengenalan yang mendalam tentang pengetahuan ini. Itulah sebabnya akta ini muncul dalam pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 11:27 “tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Dalam Surat Paulus kata ini muncul dengan gagasan “mengenal kebenaran” dalam kalimat “Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran”(1 Tim. 4.3). Dari studi kata Yunani, ini ternyata orang-orang yang sengaja berbuat dosa telah sungguh-sungguh mengenal kebenaran secara mendalam. Bahkan pengetahuan ini merupakan pengetahuan sejati.[6] Berarti mereka mengetahui dengan pasti bahwa kematian Tuhan Yesus merupakan korban penghapus dosa yang sempurna dan tidak ada korban yang lain yang olehnya manusia memperoleh mengampunan atau menghapusan dosa. Hal inilah yang diketahui oleh mereka yang dengan sengaja berbuat dosa dalam Ibrani 10:26.

Kata kelima yang perlu dibahas adalah “kebenaran.” Kebenaran apakah yang dimaksudkan dalam pengertian kata ini. Dalam analisa kata Yunani asli, kata yang muncul adalah avlhqei,aj (alehteias) sebagai kata  benda genetif femini tunggal dengan kata dasar avlh,qeia (aletheia).[7] Kata dasar dasar avlh,qeia (aletheia) diterjemahkan sebagai “kebenaran.” Kosepsinya adalah isi dari apa yang benar dan dengan demikian sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi atau kebenaran yang sungguh-sungguh. Dalam Markus 5:33 muncul kata ini dengan pernyataan “ia mengatakan yang sebenarnya terjadi” dan juga mucul dalam Efesus 4:25 sebagai lawan dari kepalsuan. Ini artinya kejujuran. Kebenaran ini adalah yang sungguh-sungguh terjadi, sudah pasti, sudah tentu (Mat 22:16; Mrk 12:14; Luk 22:59; Rm. 2:2). Kebenaran ini juga merupakan karakteristika dari Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8.32 kata ini digunakan untuk merujuk pada wahyu Tuhan yang dibawakan oleh Tuhan Yesus atau mungkin kepada Yesus sendiri di mana Dia sebenarnya sebagai wahyu Tuhan. Inilah kebenaran itu. Jadi kebenaran di sini tidak lain berhubungan dengan Pribadi Tuhan Yesus Kristus dan juga karya keselamatan yang telah dilakukan-Nya. Jadi mereka yang dengan sengaja berbuat dosa, tidak melakukan kehendak Allah ini sebenarnya memiliki pengetahuan yang sejati tentang kebenaran Allah.

Studi kata yang keenam adalah kata “tidak ada lagi”. Dalam teks bahasa Indonesia terdiri dari tiga kata, namun dalam teks Yunaninya hanya ada satu kata yaitu kata keterangan waktu ouvke,ti. (ouketi).[8] Arti dasarnya adalah tidak lagi, tidak ada lanjutan, atau tidak ada lagi. Dari segi waktu, kata ini berarti tidak ada kesempatan (Mat 19: 6; Mrk 9: 8; Luk 15:19, 21; Yoh. 4:42; 6:66; 14:19); atau tidak akan pernah lagi (Rm 6: 9a; Kis 20:25, 38; 2 Kor 1:23). Ini berarti tidak diulangi lagi apa yang perlah terjadi atau apa yang pernah dilakukan. Atau juga beraqrti tidak ada kesempatan lagi untuk mengulangi hal yang sama. Jika kata ini diterapkan pada ayat Ibrani 10:26 berarti tidak dilanjutkan lagi pengorbanan penghapus dosa bagi mereka yang dengan sengaja berbuat dosa.

Kata ketujuh yang perlu dianalisa adalah kata “korban.” Kata ini berasal dari kata Yunani qusi,a (thusia) yang merupakan kata benda nominatif femini tunggal. Dalam Gingrich Greek Lexicon , kata ini diterjemahkan sacrifice (korban); offering (persembahan).[9] Pada umumnnya kata korban dan persembahan digabung untuk memberikan penekanan yang kuat bahwa hal itu sungguh-sungguh dipersembahkan atau dikorbankan. Kata Yunani untuk pengertian “korban” dan “persembahan” ini secara teologis muncul dalam Efesus 5:2 “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Kata ini juga muncul dalam Kisah Para Rasul 7:42 “Apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel?” Ini menunjukkan bahwa hanya Yesus yang benar telah berkorban dan telah mempersembahkan diri-Nya untuk menghapus dosa manusia, untuk menyelamatkan manusia. Jadi konsep korban dalam Ibrani 10:26 adalah pengorbanan Kristus, artinya tidak ada pengorbanan lain selain dari pada korban persembahan diri Tuhan Yesus Kristus.

Kata yang terakhir yang akan dibahas adalah dua kata yaitu “menghapus” dan “dosa.” Dalam bagian terakhir ayat itu muncul kata Yunani a`martiw/n (hamartion) yang diterjemahkan “dosa.” Konsep dasarnya sama dengan dosa yang telah dibahas sebelumnya. Ada kalanya dosa ini juga dipahami sebagai keadaan yang mengancam atau mengikat seseorang. Untuk kata “menghapus” diterjemahkan dari kata Yunani avpolei,petai (apoleipetai) yang merupakan kata benda, kini, pasif, indikatif, orang ketiga tunggal dari kata dasar avpolei,pw (apoleito).[10] Secara mendasar arti kata Yunani ini adalah meninggalkan, membelakangi (2 Tim 4:13, 20; Titus 1: 5). Juga diterjemahkan tidak masuk (Ibr. 4:6).[11] Dalam pemakaiannya, konsep meninggalkan atau tertinggal atau menghapus bisa dipahami dalam hal sebagai kesengajaan dan juga ada yang tidak disengaja. Dalam Ibrani 10:26 tentu saja menghapus dalam hal ini memiliki suatu alasa atau tujuan. Artinya bahwa dosa-dosa manusia dengan sengaja dihapus atau ditinggalkan supaya manusia memperoleh keselamatan. Akan tetapi frasa yang dikemukakan adalah bahwa tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa mereka yang dengan sengaja melakukan dosa.

Kesimpulan dari analisa leksikal adalah sebagai beikut: peringatan ini dimulai dengan keadaan di mana orang-orang yang dinasihatkan telah menerima atau telah dengan sungguh sungguh mengelanal kebenaran sejati, bahwa hanya di dalam Yesus Kristus ada keselamata yang pasti. Mereka mengetahui dengan pasti tentang kebenaran itu. Namun demikian mereka dengan sengaja berbuat yang berlawanan dengan kehendak Allah. Mereka tidak melakukan kebenaran itu, justu berbuat dosa dengan sengaja. Dengan demikian mereka tidak memperoleh penghapusan dosa. Artinya tidak memperoleh keselamatan.

 

Analisa Historis

Pada bagian ini penulis akan memaparkan historis atau sejarah apa yang terkandung di dalam ayat ini, hal ini dilakukan agar mendapatkan makna yang lebih rinci dari Ibrani 10:26, karena dengan begitu penulis akan mendapatkan kemungkinan – kemungkinan untuk memperjelas maksud dari ayat yang sedang dibahas. Ulasanya sebagai berikut:

Surat Ibrani ini ditulis dengan tujuan dan maksud yang jelas yaitu salah satunya adalah untuk menghimpau setiap orang agar tidak murtad, dan memiliki iman yang hanya tertuju kepada Allah saja. Alsan penulis surat Ibrani menyampaikan dalam surat ini untuk  mempertegas bahwa Kristus lebih dari segalanya. Mengapa hal ini disampaikan oleh penulis agar setiap pembaca surat mengetahui bahwa pada saat itu ada beberapa hal yang sangat penulis waspadai yaitu tentang a). Bahaya kemurtadaan, b). membandingkan Kristus dengan tokoh dan nabi-nabi yang terdapat di dalam Perjanjian Lama, c). Kembali kepada arah Yudaisme, dan lebih kepada suatu tradisi Yahudi.[12]

Kita setuju bahwa surat Ibrani dituliskan pada tahun 64 – 70, sedangkan pada saat itu Roma sedang dipimpin oleh Kaisar Nero. Kaisar Nero pada zaman itu adalah Kaisar yang menganiaya umat Kritiani.[13] Pada saat itu hal yang tergambar di dalam surat ini adalah suatu peristiwa dimana  jemaat Kristen Yahudi yang takut dipandang sebagai pecahan dari Yudaisme,penulis menghimbau agar orang – orang tidak kembali kepada sinagoge, tetapi untuk bersama-sama menangung cemoohan karena mengikut Yesus yang tersalibkan. Karena dimata orang – orang Roma, Yudaisme merupakan agama yang sah  (religion licita), sedangkan Kristen tidak dipandang sebagai suatu agama. Hal ini terlihat dimana orang – orang Yahudi dibebaskan dari pengorbanan  kepada dewa –dewa atau kepada Kaisar. Namun, apa yang akan terjadi begitu otoritas Romawi mengetahui bahwa gerakan Kristen ini sekarang didominasi oleh orang – orang non Yahudi dan yang semakin tidak diakui oleh kelompok Yudaisme, sehingga hal ini sangat membuat situasi di Roma sungguh menyulitkan.[14]

Namun jika kita mengingat konteks pada waktu itu (abad I) dimana orang Kristen pada saat itu mengalami penganiayaan yang amat berat khususnya pada pemerintahan Nero dan Diocletian. Dari  kondisi ini membuktikan bahwa posisi orang Kristen yang ada pada saat itu adalah suatu kondisi yang sedang dilema, orang Kristen yang ada saat itu sedang merasa dilema dikarenakan harus diperhadapkan dengan suatu pilihan, pilihan tersebut adalah antara Yesus dengan Kaisar yang ada saat itu. Dengan adanya kondisi ini membuat orang Kristen yang tadinya percaya dan memiliki iman kepada Yesus pada akhirnya menyangkal imanya  kepada Yesus. Sikap inilah yang disebut sebagai suatu tindakan “menyalibkan Yesus yang kedua kali dan menghina-Nya di depan muka umum (ayat 6b)” Edy Frances mengatakan  bahwa orang-orang Kristen yang memiliki sikap seperti ini adalah orang Kristen yang disebut akan binasa dan diposisikan sebagai orang yang tidak pernah dilahirkan kembali. Dan mereka adalah orang-orang yang belum benar-benar mengalami suatu pertobatan. Jadi bisa dikatakan bahwa orang-orang ini adalah orang yang tetap memiliki pola hidup yang lama dan belum sepenuhnya bertobat, hanya saja  orang-orang ini mirip dengan ornag percaya yang asli. Bisa dikatakan bahwa kehidupan orang-orang itu penuh dengan kejahatan ibarat tanah terus menghasilkan semak duri dan rumput duri, walaupun sudah banyak menerima air hujan (ayat 7-8).[15]

Latar Belakang Kitab Ibrani

Kitab Ibrani adalah sebuah surat yang unik dan istimewa dikarenakan oleh beberapa pandangan menurut pengamatan penulis. Dimana kitab ini merupakan surat yang tidak mencantumkan secara terang terangansiapa jati diri penulis atau nama penulis dan tidak diawali dengan satu kata sapaan yang hangat seperti mungkin kata pembukaan, perkenalan seperti surat yang lainnya.” Yang mana surat-surat yang pada jaman abad pertama selalu membubuhkan alamat dan tujuan surat secara lengkap.[1]

Dalam hal ini, penulis mencoba mengungkapkan latar belakang kitab Ibrani ini. Mengapa sampai surat ini dituliskan dan dikirim kepada orang Ibrani. Orang Ibrani dalam Perjanjian Lama merujuk kepada keturunan Sem anak dari Nuh, atau suku bangsa. J.D. Douglas mengatakan:

Dalam Perjanjian Lama secara mantap menggunakan ‘ivri’ sebagai suku bangsa. Karena istilah ini sering diucapkan oleh atau dialamatkan kepada orang-orang Non – Israel, maka banyak menganggap dalam ‘ivri’ adalah kemungkinan lain mengacu kepada orang ‘Israel’ dalam situasi dimana orang tersebut bukanlah warga Negara merdeka yang berdaulat atas sebidang tanah, mungkin sesuai dengan bg-bg PL.[2]

 

Pertumbuhan yang sangat pesat dari gereja orang – orang bukan Yahudi yang terlepas dari Yudaisme baik dalam sifat maupun keyakinannya hanya dimungkinkan oleh perpisahan yang tegas dan mutlak diantara keduanya anggota-anggota gereja Yahudi masih berpegang pada pelaksanaan hukum secara ketat, meskipun mereka mempercayakan keselamatan mereka kepada Yesus sang Mesias.

            Pada waktu itu keterangan diantara orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi yang tersa panjang tiga puluh tahun yang pertama dari sejarah Kristen makin menghebat, ketika gereja menyaingi sinagoge dalam jumlah dan dalam jumlah perkembangannya di dunia. Kitab Ibrani ditulis untuk menjawab dilemma tersebut. Selain itu juga kitab Ibrani ini menunjukakan tempat-tempat pemukiman orang-orang Yahudi. “ Selain orang-orang Yahudi yang tinggal di Israel, masih ada orang-orang Yahudi yang tinggal di tempat-tempat lain pada zaman Perjanjian Baru. Ada yang tinggal di Mesir, di kota-kota pantai Afrika bagian Utara, di propinsi Asia kecil, di Italia, dan dipantai Eropa bagian selatan. Keadaan orang-orang Yahudi ini sering mengalami aniaya dan ditindas.”[3]

 

Penulis Surat Ibrani

Surat ini sampai saat ini belum diketahui siapa yang menjadi penulis surat Ibrani ini, ada yang mengatakan bahwa penulis surat ini adalah Rasul Paulus, Apolos, Barnabas, Lukas dan Timotius. Semua tokoh ini pernah disebut sebagai penulis surat Ibrani beserta dengan setiap argumen mendukung yang mengklain sebagai penulis dari surat ini. Surat ini sendiri tidak menyebutkan atau bahkan menyinggung secara tersirat sekalipun siapa yang menulisnya. Terdapat dua pandangan utama yang paling menonjol dalam menetapkan penulisan surat ini, yaitu sebagai berikut:

Pertama bahwa yang menulis surat ini adalah Paulus, alasan yang digunakan untuk mendukung pandangan ini yaitu adanya seorang penulis tidak dikenal yang telah dibina dan dipengaruhi oleh Rasul Paulus sehingga memberikan warna Paulus yang khas kepada surat ini.

Kedua Tradisi Aleksandria dan pengaruhnya, berlandaskan penggunaan Perjanjian Lama terutama secara tipologi.

Dalam buku Tafsiran Alkitab Wycliffe volume 3,Charles F. Pfeiffer& Evertt F Harrison mengungkapkan beberapa alasan yang mendukung Rasul Paulus sebagai penulis surat dan alasan yang membantah bahwa tidaklah paulus yang menuliskan surat ini, berikut ulasanya:[4]

1). Alasan pendukung Penulisnya Paulus 

Pertama, Alasan yang mendukung kepenulisan Paulus sangat bersandar pada pasal 13 dari surat ini. Sifat pribadi dari pasal ini merupakan ciri khas Rasul Paulus, demikian pula gaya penulisan suratnya. Penyebutan Timotius dan Italis (13: 23) tampaknya berhubungan langsung dengan dengan sang Rasul. Hal yang lainnya juga adalah terdapat persamaan yang menonjol di antara bahasa surat ini dengan bahasa surat-surat paulus (1:4, 2:2, 7:18, 12:22) dan argumnetasi Kristologi yang terdapat dalam surat ini sama dengan Kristologi Paulus di dalam surat-suratnya.William barcley, dalam bukunya yang berujudul “pemahaman Alkitab setiap hari surat ibrani” menegaskan bahwa bapak gereja memberikan pendapat bahwa penulis kitab ibrani itu ialah Paulus. Namun berbeda alasan yang diutarakan mereka masing-masing. “Clement dari Alexadria cenderung berpendapat bahwa pauluslah yang mula-mula menulis surat ini dalam bahasa ibrani, lalu Lukas menerjemahkannya,sebab gaya bahasanya berbeda sekali dengan gaya bahasa Paulus”[5] Pada abad kedua, rektor sekolah teologia Alexandri, Pantaenus (30-190 TM), menerima sepenuhnya bahwa Paulus adalah penulis surat ini. Kemudian muridnya yang benama Clement (150-15 TM), meneruskan ajaran gurunya juga menerima Paulus sebagai penulis surat ini. Namun demikian ia menambahkan penjelasan sebagai berikut: surat ini ditulis oleh rasul Paulus dalam bahasa ibrani, kemudian diterjemahkan oleh Lukas dalam bahasa Yunani.[6]

Ada pandangan dari tokoh bapak gereja barat, yakni Eusebiusyang berpendapat bahwa Pauluslah yang menulis kitab ibrani. Namun dia tidak memberikan sama sekali apa yang menjadi alasannya. Ferner fenton memikir, bahwa tak ada orang selain Paulus yang sanggup menulis semuanya kitab ibrani itu dalam bahasa ibrani, yang mungkin disuruh orang lain menerjemahkannya kedalam bahasa Yunani lewat menyruh pembantunya.[7]Ada juga tokoh lainnya yang hidup antara tahun 347 sampai 420 TM yaitu Jerome Hieromineus, saat menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa Latin, ia berpendapat bahwa Rasul Pauluslah yang menulis kitab Ibrani”.[8]Dr. Campbell Morgan memperkirakanbahwa Surat Ibrani itu ditulis oleh Lukas dengan cara didikte, dan sumber pemikirannya ialah Paulus.Sedangkan Schofield menduga bahwa kitan Ibrani itu adalah hasil khotbah atau pengajaran Paulus yang bisa diajarkan di sinagogesinagoge orang Yahudi”.[9] Sekalipun faktanya ada berbagai perbedaan tentang siapa penulis sesungguhnya surat Ibrani, tetapi pada umumnya, pandangan yang turun-temurun melalui abad-abad, dan masih dipegang, ialah bahwa Rasul Pauluslah yang menulis surat Ibrani ini.[10]

2). Alasan Pendukung Tidaklah Paulus yang menulis

Beberapa alasan yang menyatakan bahwa bukanlah Rasul Paulus yang menulis, yaitu sebagai berikut: a). Tidak disebutnya nama Rasul Paulus secara khusus sebagai penulis sebagaimana dilakukan olehnya di dalam surat – surat yang diakui telah dituslinya. b). pemakaian bahasa yang kaidah penyusunan, pembahasan dan gaya penulisnnya lebih tinggi daripada yang digunakan Paulus. c). Pengembangan logika dari argumentasi yang dikemukakan bukan merupakan ciri Paulus, Irama surat Ibrani bersifat retoris dan Hellenistis, dan gaya penulisannya secara umum, jauh lebih tenang dan ketat dibandingkan dengan gaya penulisan Paulus. Hal selanjutnya yang menjadi suatu perbedaan doktrinal sangatlah tampah dalam surat ini, doktrin itu adalah : 1). Pembahasan tentang iman, 2). Pandangan eskatologi yang terdapat dalam pasl 12, 3). Penerapan hukum Musa di dalam argumtasinya, 4). Konsep tentang tempat peribadatan.

Menurut Willi Merxsen dalam bukunya pengantar perjanjian baru bahwa Penulis surat ini tidak mencantumkan namanya, sehingga tidak diketahui pasti. Pada abad-abad pertama kekristenan hingga Abad Pertengahan, surat Ibrani diyakini ditulis oleh Rasul Paulus, meskipun tidak dimulai dengan nama Paulus, seperti surat-surat Paulus lainnya.[11] Sedangkan menurut pendapat dari Klemen dan Orgenes memiliki pendapat bahwa penulis surat Ibrani ini adalah Rasul Paulus. Hal ini dikarenakan, menurut pendapat Klemen bahwa surat ini ditulis dalam dialek Ibrani, tetapi diterjemahkan oleh Lukas dan mungkin juga dalam proses penerjamahan pada waktu mendapatkan pengaruh dari tradisi dari pendahuluanya yaitu Pantaenus.[12]

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Merrill. C. Tenney, berpendapat bahwa yang menulis surat ibrani itu ialah rekan dari Timotius dan mungkin termasuk rekan Paulus (Ibr 13:23). Ia menafsirkan seperti itu dengan alasan, yang menulis kitab ibrani ini mengutip kata seperti “orang benar itu akan hidup oleh percayanya (Hab 2:4) sama seperti diperbuat oleh Paulus dalam roma 1:17, dan Gal 3:11.[13]

Namun yang terpenting bahwa “tidak dituliskan dengan jelas siapa penulis dari surat Ibrani ini, hanyalah Tuhan yang mengetahui dengan pasti.” Tetapi pada umumnya, pandangan yang turun-temurun melalui abad-abad, dan masih dipegang, ialah bahwa Rasul Pauluslah yang menulis surat Ibrani ini.[14]

Jadi, penulis membuat suatu simpulan bahwa penulis dari Surat Ibrani ini adalah Rasul Paulus, karena dari segi tata bahasa dan gaya yang khas yang dimiliki Pauluslah yang cocok untuk menulis surat ini. Serta hal ini juga sependapat dengan pendapat dari buku – buku yang lain yang menyatakan bahwa Paulus adalah penulis dari surat Ibrani ini.

Tahun Penulisan Kitab Ibrani

Penulisan surat Ibrani ini juga menjadi suatu pokok pembahasan, dimana tahun penulisannya ini banyak dibicaran oleh beberapa tokoh yang menyebutkan berbagai pandangan tentang tahun penulisan ini, berikut adalah beberapa pendapat, yaitu:

Berbagai faktor ikut menentukan tanggal surat ini ditulis, yang terpenting di antara semua faktor tersebut tampaknya ialah pertikaian Yahudi-Romawi yang terjadisesudah tahun 68 M serta dihancurkan Bait Allah pada tahun 70 M. memang petingkaian, bait Allah dan dihancurkan Yerusalem tidak disebut di dalam surat ini. Oleh karena itu muncul dugaan bahwasurat ini di tulis sebelum tahun 68 M atau sesudah tahun 80 M. Sebaliknya, canonFarrar, Cambridge Greek Testament ( sesudah ini disingkat CGT), mewakili berbagai pandangan abad kesembilan belas, dan Gleason L. Archer didalam bukunya the Epistle to the Hebrews: A study manual, dua-duanya mengusulkan tanggal penulisan di antara tahun 64 M dan 68 M. Archer kemudian mempersempit lagi jangka ini menjadi tahun 65 atau 66 M sebagai tahun yangpaling masuk akal, sesuai dengan bukti-bukti dari dalam dan dari luar surat. Semua pandangan yang dikemukakan mengenai tanggal penulisan menekankan pentingnya soal tidak tercantumnya dalam surat tersebut rangkaian peristiwa yang terjadi di Yerusalem pada dasarwarsa  keenam abad pertama.[15]

Surat Ibrani ini ditulis beberapa waktu sesudah generasi pertama pewartaan Kristen. Beberapa penafsir memahami hal itu dengan mengacu pada ibadat kuil Yahudi masa itu, karena mempergunakan waktu sekarang dalam melukiskan kurban-kurban Yahudi. Surat Ibrani tidak menyebuh tentang kenisah Herodes atau upacaranya. Kenisah itu dihancurkan oleh pasukan Roma tahun 70 M dan tidak ada bukti berdasarkan ini bahwa Surat Ibrani ditulis sebelum atau sesudah penghancuran.[16]John Arthur Thomas Robinson dalam bukunya yang berjudul  "Redating the New Testament" menjelaskan bahwa surat Ibrani ditulis sebelum tahun 100 Masehi, Robinson menyakini surat ini ditulis pada tahun 67 M.[17] Sedangkan Fonck, Leopold mengungkapkan dalam bukunya yang berujudl “Epistle to the Hebrews”  menjelaskan bahwa penggunaan istilah-istilah dari Kemah Suci dalam kitab ini memberikan tarikh penulisannya sebelum kehancuran Bait Suci pada tahun 70 M, karena jika penulis tahu mengenai kehancuran Yerusalem dan Bait Suci pasti akan mempengaruhi perkembangan argumennya. Jadi, tarikh penulisan kitab ini diperkirakan adalah sekitar pertengahan kedua tahun 63, atau permulaan tahun 64.[18]

Dari ulasan yang telah dipaparakan oleh penulis di atas, maka penulis mengambil suatu simpulan bahwa tahun kepemulisan dari surat Ibrani adalah pada tahu 64 – 70. Mengapa pada tahun ini, hal ini dikarenakan bahwa situasi orang – orang Kristen Yahudi yang mengalami penyiksaan  dan runtuhnya Bait Sucilah yang menjadi suatu patron bagi penulis untuk menyatakan bahwa ini ditulis pada waktu itu.

Tujuan Penulis Kitab Ibrani

Tujuan utama surat ini ialah memberikan informasi kepada orang-orang Kristen yang kecil hati dan juga memberi mereka semangat, dan mendukung kedua pendekatan tersebut dengan memanfaatkan sejumlah contoh dari kristus dan dari orang-orang yang telah hidup berhasil oleh iman. Sebagai inti dari semua ini penulis menempatkan kekekalan (karena itu tidak berubah) dari imamat kristus “menurut cara Melkizedek” (pasal 7).[19]

Dalam bukunya yang berjudul Superioritas Kristus dalam Surat Ibrani: Mengungkap Surat Ibrani, menjelaskan bahwa ada beberapa maksud penulisan secara terkait sebagai berikut:

Pertama, peringatan terhadap kemurtadan akibat Yudaisme pada umumnya surat Ibrani merupakan peringatan terhadap kemurtadan akibat Yudaisme. Orang Yahudi menilai bahwa rekan sebangsanya yang telah menjadi Kristen tidak peduli lagi terhadap ajaran Yudaisme serta pola ibadah Perjanjian Lama. Akibatnya mereka mengucilkan orang Yahudi Kristen. Surat Ibrani ditulis supaya orang Yahudi Kristen dikuatkan imannya dalam menghadapi ajaran Yudaisme. Karena murtad yang sebenarnya bukan menyangkali ajaran Yudaisme tetapi justru menyangkal kebenaran Firman Tuhan Ibrani 6: dan 10:29).

Kedua, larangan membatasi Misi seluruh Dunia orang Yahudi Kristen merasakan perlindungan di tengah rakan sebangsanya meskipun harus mengalami tantangan dari rekan sebangsanya yang memaksakan ajaran Yudaisme. Sebab waktu itu agama Kristen  belum mendapat persetujuan dari pemerintahan Romawi. Pemerintah Romawi menggangap bahwa agama Kristen merupakan bentuk agama yang mewarisi tradisi dan nilai – nilai agama  Yahudi. Di samping itu, bentuk ibadah dalam PL menarik  perhatian orang Yahudi Kristen. Surat Ibrani ditulis dengan maksud untuk mengingatkan bahwa bagian terpenting  dalam iman Kristiani adalah memberitakan keselamatan kepada semua suku bangsa. Dan juga pada zamanya lagi untuk mengingat bentuk pola ibadah Perjanjian Lama, sebab Kristus telah mendirikan sebuah dasar untuk bentuk ibadah baru.[20]

Ketiga, sebagai kesaksian mengenai karakter Kristen jumlah orang percaya setiap harinya semakin bertambah. Bertambahnya jumlah penganut agama Kristen sangat menarik perhatian banyak orang. Pesatnya pertumbuhan orang Kristen menimbulkan pertanyaan bagi penganut agama di luar Kristen.[21]

Keempat, mencegah Pengajaran Bidat Surat Ibrani ditulis untuk mencegah ajaran Sasat Gnostik Yahudi dan bidat Kolose yang merongrong ajaran Kristen. Kekristenan diperhadapkan ajran berbagai aturan tentang makanan dan minuman serta ajaran Yudaisme dari bidat gnostik Yahudi. Di samping itu, bidat Kolose mengajarkan malaikat adalah perantaraan Allah dan manusia, serta memberikan ajaran bentuk bidah kepada malaikat. Penulis surat Ibrani menyangah ajaran Gnostik Yahudi dan bidat Kolese dengan argumentasi superior Kristus dibandingkan para malaikat.[22] Dari beberapa tujuan penulisan surat yang telah dikemukakan ini, dapat diperoleh gambaran maksud dari Ibrani 10:26, bahwa mereka tidak benar-benar murtad, namun hanya merupakan suatu peringatan.

Penerima Surat Ibrani

Surat Ibrani ini dialamatkan kepada suatu jemaat generasi yang kedua, yang terancam oleh penghambatan dan cenderung mengundurkan diri dan menjadi tawar hati terhadap kepercayaan mereka. Penulis surat Ibrani memperingatkan  para pembaca akan bahaya sikap mengundurkan diri ini dan menasihatkan mereka supaya tetap bertekun. Dalam situasi jemaat yang menerima surat ini, maka yang penting ialah “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita dan menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah.[23] Sebuah buku yang berjudul Kamus Alkitab menyebutkan bahwa penulis surat Ibrani mengalamatkan tulisannya kepada jemaat “Korintus”, terutama anggota-anggota  Yahudi kristennya, antara tahun 52 dan 54 M. Surat yang lebih berbentuk khotbah ini diduga ditulis untuk memperlihatkan keunggulan dan keunikan Kristus, serta superioritas iman Kristen dibanding dengan “Yudaisme Musa”.[24]

Surat ini ditulis kepada suatu jemaat yang sudah lama berdiri (5:12) dan pernah mengalami penganiayaan (10:32-34). Surat ini ditulis untuk suatu jemaat yang mempunyai sejarah yang besar dengan para Guru dan pemimpinnya yang besar (13:7). Surat ini dialamatkan kepada suatu jemaat yang tidak didirikan oleh para Rasul secara langsung. Alamat surat ini adalah sebuah jemaat yang terkenal karena kemurahan hati dan keterbukaan warganyya (6:10). Surat Ibrani ini dituliskan kepada orang Italia, jika demikian maka kepenulisan surat Ibrani ini ditujukan kepada warga Roma.[25]

Surat ini ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi yang tinggal di Yerusalem dan sekitarnya. Dan juga ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi yang tinggal di Aleksandria. Pendangan ini cenderung di anut oleh mereka yang mendukung anggapan adanya warna Aleksandria yang kuat di dalam surat ini.Surat ini ditujukan bagi sebuah jemaat kristen Yahudi yang beribadah di Roma dan berada dalam pencobaan dan penganiayaan yang berat. Pandangan “jemaat di Roma” juga cenderung menganut teori “satujemaat”, yakni bahwa para penerima pertama surat ini adalah sebuah jemaat kecil, atau suatu “persekutuan rumah tangga” di Roma. Jemaat yang dituju oleh surat Ibrani merupakan jemaat yang kecil, tetapi mereka bisa berada dimana saja diwilayah kerajaan Romawi, dan tidak harus di Roma.[26]

Hasil dari ulasan di atas, maka penulis mengambil suatu simpulan bahwa penerima dari surat ini adalah orang-orang Kristen, hal ini dikarenakan bahwa banyak sapaan yang digunakan penulis untuk menyapa dalam surat ini, contohnya adalah “orang kudus”, “orang yang telah menerima keselamatan”, “orang beriman”. Dari hal ini membuktikan bahwa penerima surat ini yang pasti adalah orang – orang Kristen yang berada di wilayah Roma , dan surat ini juga dialamat juga kepada orang Kristen Yahudi maupun orang Kristen non Yahudi.

 

Tema ajaran Surat Ibrani

Tema ajaran dalam Surat Ibrani ini adalah tentang Superioritas Kristus yang dibagai menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut:

Pertama, oknum Kristus, yang dimaksudakan dengan oknum Kristus adalah 1). Kristus lebih unggul daripada nabi – nabi (Ibr. 1:1). Nabi- nabi yang dimaksudkan adalah pernyataan Perjanjian Lama seutuhnya. 2).Kristus lebih unggul dari pada malikat-malaikat (Ibr. 1:5, 2:18). 3). Kristus lebih unggul daripada Musa (Ibr. 3:1-19). 4). Kristus lebih unggul daripada Yosua (Ibr. 4:1-13).

Kedua, Pekerjaan Kristus. Hal ini bukan berarti Kristus bekerja seperti manusia pada umumnya akan tetapi hal yang dimaksudkan adalah tugas Kritus sebagai Imam, yaitu sebagai beirkut: 1). Keimaman-Nya ditetapkan Allah (Ibr. 4:14). 2). Keimaman-Nya sesuai dengan peraturan Melkisedek (Ibr. 5:11, 7: 28), 3). Pekerjaan Kristus dipusatkan dalam penebusan yang sempurna (Ibr. 9:11), Imam besar mempersembahkan korban yang (diriNya sendiri), dan karena korban persembahan tersebut dibuat ‘melalui Roh kekekalan’ maka korban persembahan itu lebih unggul daripada korban bakaran Lewi  (Ibr 9:11-15). Betapa mutlaknya penting kematian Kristus ditunjukkan dengan gambar wasiat yg sah (Ibr 9:16-22). Korban persembahan-Nya yg sempurna menyatakan cacat cela dari sistem imam-imam (Ibr 10:1-10). Pelayanan-Nya sempurna, tidak seperti pelayanan Harun (Ibr 10:11-18).

Ketiga, penerapan praktis tema ajaran. Ada dua hal ajaran yang disampaikan dalam surat ini yaitu : 1). Nasehat untuk tetap berpegang teguh dan 2). Suatu peringatan (wanti - wanti). Perigatan ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: a). peringatan serius melawan kemurtadan (Ibr. 10:26-31). b). dorongan berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu siding pembaca. 3). Saksi – saksi iman.[27] Itulah tujuan penulisan surat ini.

Alasan Penulisan Surat Ini

Alasan penulisan surat ini. Rumusan klasik mengenai alasan surat ini ditulis adalah sebagai berikut. Orang-orang Kristen Yahudi, apakah hanya satu jemaat ataukah dalam jumlah yang lebih banyak dan tersebar secara geografis, berada dalam bahaya akan meninggalkan kristus dan kembali ke Musa. Kemurtadan ini merupakan bahaya yang sudah dekat (2:1) berlandaskan pada ketidakpercayaan (3:12). Perilaku mengisyratkan adanya kemungkinan tersebut (5:13, 14). Mengabaikan ibadah umum (10:25), kelemahan di dalam berdoa (12:12), ketidakmurtapan tertentu di dalam melaksanakan dotrin (13:9), penolakan untuk mengajar orang lain sebagaimana seharusnya dilakukan orang yang sudah dewasa imannya (5:12), dan mengabaikan Alkitab (2:1) merupakan gejala-gejala lainnya dari kelemahan rohani. Bahayanya adalah bahwa orang-orang yang merupakan “saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam pengadilan surgawi (3:1) bisa “murtad lagi” (6:6) atau “murtad dari Allah yang hidup” (3:12).

Untuk mencegah perkembangan kearah itu, penulis surat ibrani menekankan keunggulan kristus di dalam serangkaian kontras dengan para Malaikat, Musa, Harun, Melkizedek, dan sistem dari kitab Imamat. Tujuan dari semua kontras tersebut ialah menunjukkan keunggulan kristus dari Yudaisme.

Chiri Khas Surat Ibrani

Surat Ibrani sangat dipengaruhi oleh Filo orang Aleksandria. Namun sebenarnya pendekataanya tidak seperti Filo, memiliki sifat historis dan simbolis. Di sini perlu diperhatikan adanya perbedaan yang alegori dan yang simbolis. Dalam pendekatan yang simbolis penulis melihat dua arti, yang satu apa yang benar-benar terjadi “historis” dan yang kedua artinya diperluas menjadi simbol “lambang”. Penulis Surat Ibrani memandang PL sebagai historis, tidak seperti alegori.[28] Untuk Ibrani 10:26, memang berisi suatu hal yang belum benar-benar terjadi. Ini adalah suatu peringatan keras kepada mereka yang sangat mungkin meninggalkan ajaran kebenaran.

Struktur dan Genre Surat Ibrani

Secara terminologi, struktur dalam kepenulisan Surat atau Kitab adalah susunan isi, yang mana membahas berbagai pokok ajaran dan tema-tema tertentu. Menurut kamus umum, Struktur adalah pengaturan dan pengorganisasian unsur-unsur yang saling terkait dalam suatu objek material atau sistem, atau objek atau sistem yang terorganisasi.[29] Sementara itu, yang dimaksud dengan genre adalah serapan untuk ragam, yaitu pembagian suatu bentuk seni atau tutur tertentu menurut kriteria yang sesuai untuk bentuk tersebut.[30] Atau dengan kata lain, genre adalah jenis sastra, yang mana ketika diterapkan pada penulisan Surat Ibrani, menunjuk pada jenis sastra dalam kepenulisan Surat tersebut. Secara umum, genre merupakan sastra Ibrani dalam Perjanjian Lama, yang terdiri dari Historis, Hukum, Nubuat, Sapiential dan Puisi. Jika dilihat dari jenis Surat Ibrani, maka genrenya masuk dalam kategori hukum.

Dalam Surat Ibrani, ada banyak pembahasan mengenai struktur dan isi surat ini. Namun secara umum strukturnya adalah sbb:

Pertama, Ibrani 1:1-4:13: Bagian ini berbicara mengenai Kristus sebagai penyataan Allah yang paling sempurna. Di sini disebutkan bahwa mengenai Firman Allah yang disampaikan melalui Yesus Kristus lebih baik jika dibandingkan dengan Firman Allah yang disampaikan melalui melalui Malaekat dan Musa.[31]

Kedua, Ibrani 4:14-10:31: Pada bagian ini, kematian Kristus dimaknai pengorbanan paling sempurna yang menghapus dosa manusia untuk selama-lamanya. Untuk sampai kepada kesimpulan ini, penulis mengajak pembacanya untuk membandingkan pengorbanan yang dilakukan Yesus dan peran imam dalam tradisi Yahudi yang identik dengan kekudusan dan persembahan kurban. Penulis tampaknya mau menegaskan keistimewaan pengorbanan Kristus, karena sebagai imam Kristus sendiri mengorbankan dirinya sehingga tidak ada lagi medium "korban" untuk menghubungkan Allah dan manusia.[32]

Ketiga, Ibrani 10:32-12:29: menyatakan bahwa pengharapan atas korban penghapusan dosa yang dilakukan oleh Yesus menjadikan manusia layak memasuki dunia surgawi.[2]

Terakhir, Ibrani 13:1-25: berisi nasihat dan penutup. Jadi kesemuanya mengandung ajaran tentang cara atau gaya kehidupan orang-orang yang sudah memperoleh keselamatan. Dengan memperhatikan struktur dan genre Surat Ibrani, maka makna frase dalam pasal 10:26 berkaitan dengan hukum yang mewajibkan orang-orang yang sudah memperoleh keselamatan menjunjung tinggi keselamatan melalui karya dan pengorbanan Kristus.

Kesimpulan Analisa Historis

Kesimpulan dari analisa hostoris adalah: penerima surat Ibrani terdiri dari berbagai suku bangsa. Pada saat yang bersamaan mereka sedang mengalami penganiayaan yang hebat, sehingga sangat mungkin mereka berhenti mengikuti ajaran kebenaran. Ada juga di antara jemaat-jemaat Kristen tersebut yang hanya mengaku Kristen secara lahiriah, mereka inilah yang pada akhirnya tidak memperoleh korban penghapusan dosa sehingga tidak diselamatkan. Oleh karena jemaat sejati (penerima surat) diperingatkan supaya mereka tetap mengikuti jalan kebenaran. Tidak ada di antara mereka yang dinyatakan telah murtad, namun mereka diberikan peringatan supaya tidak meninggalkan ajaran yang benar.

 

Analisa Teologis

Isu yang cukup penting dalam pembahasan ayat ini adalah tentang kemungkinan adanya fakta kemurtadan atau kemungkinan kehilangan keselamatan bagi mereka yang pernah memperoleh keselamatan. Sebagaimana yang telah disinggung pada bab sebelumnya, bahwa setidaknya ada dua pandangan teologis tentang kemurtadan. Penganut Armenianisme berpendapat bahwa orang percaya bisa kehilangan keselamatan. Sementara pandangan yang berbeda dimiliki oleh penganut paham calvinisme, bahwa orang yang sudah percaya tidka mungkin kehilangan keselamatan. Jika kedua pandangan ini diterapkan pada Ibrani 10:26 maka ada beragam pandangan yang muncul. Pandangan Armenian menganggap bahwa orang percaya penerima surat Ibrani bisa saja murtad setelah mereka menerima keselamatan dari Tuhan. Pandangan Calvinisme berkata bahwa tidak mungkin orang yang sudah selamat kehilangan keselamatan. Yang ada dalam Ibrani 10:26 itu adalah mereka yang telah diajarkan jalan keselamatan tidak mau menerima keselamatan itu, sehingga mereka tidak mungkin selamat.

Dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, ditemukan fakta bahwa mereka-mereka yang tidak taat pada Hukum Taurat tidak memperoleh keselamatan. Itulah yang dicontohkan oleh penulis Ibrani dalam Ibrani 10:28-30 bagaimana mereka akan menerima hukuman apabila tidak melaksanakan perintah dan larangan dalam Taurat Musa. Akan tetapi sesungguhnya Allah belum selesai berkarya, Ia akan memelihara umat-Nya supaya pada akhirnya memperoleh keselamatan melalui kematian Kristus. Hill dan Walton berpendapat bahwa Perjanjian Lama memberikan dasar bagi Konsepesi kepastian karya Allah dalam Perjanjian Baru: ”Perjanjian Lama meninggalkan kita dengan pengharapan. Segala sesuatu berada di bawah penguasaan-Nya yang mahatinggi. Rencana-Nya tidak digagalkan dan takkan pernah digagalkan.”[33] Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Kaiser, bahwa janji keselamatan yang diberikan kepada Bapa Leluhur mulai dari Abramahm, Ishak, Yakb, Musa dan Daud, merupakan janji yang digenapi secara berkesinangmbungan, yang mencapai puncaknya dalam karya keselamatan dalam Yesus Kristus.[34]

Pandangan keselamatan dalam Perjanjian Lama tidak terlepas dari kosep keselamatan dalam Perjanjian Baru. Oleh karenannya dapat dikatakan bahwa Allah terus berkarya secara sama baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Allah tidak mungkin gagal. Ia senantiasa memberikan petunjuk supaya umat datang kepada-Nya untuk memperoleh keselamatan. Jika menolaknya, mereka tidak mungkin memeproleh keselamatan dari tempat lain. Demikian juga penerima Surat Ibrani, mereka yang menetahui kebenaran bahwa hanya Yesus satu-satunya Juruselamat untuk pengampunan dosa mereka, namun terus-menerus menolak anugerah itu, pada akhirnya mereka tidak diselamatkan.

Dalam Perjanjian Baru

Dalam konsep yang bersifat Teologis, Perjanjian Baru mengemukakan bahwa orang-orang Kristen sejati tidak mungkin beralih dari keselamatan yang telah mereka peroleh. Ada Roh Kudus yang menjaga hati mereka. Dalam Surat-surat Paulus, ia mengajarkan bahwa orang yang sudah memperoleh keselamatan tidak mungkin beralih. Keselamatan disediakan sebagai anugerah dari Allah yang adil, yang berbuat dalam rahmat kepada pendosa yang tidak layak. Pendosa yang oleh anugerah iman, percaya kepada keadilan Kristus yg sudah menebus dia dengan kematian-Nya dan membenarkan dia oleh kebangkitan-Nya. Oleh Roh yang sama sarana keselamatan berikutnya memampukan dia berjalan dalam kehidupan yang baru, sambil makin mematikan perbuatan-perbuatan daging (Rom 8:13) sampai akhirnya ia dijadikan sama dengan Kristus (Rom 8:29) dan keselamatannya digenapi dalam kemuliaan (Fil 3:21).[35]

Dalam Efesus 1:3-14 Paulus menjelaskan karya Allah Tritunggal, di mana secara khusus Roh Kudus memateraikan orang-orang kudus sebagai jaminan bahwa kita adalah milik Allah samapai selama-lamanya. Dalam Surat Injil Yohanes, Tuhan Yesus telah menyatakan bahwa semua yang ada di dalam tangan Bapa tidak mungkin lepas dari-Nya (band. Yoh. 10:28-29). Roma 8:38-39 menyatakan dengan sungguh tentang kepastian keselamatan: ”Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Secara teologis, konsepsi ini berulang kali dikemukakan dalam Surat Ibrani. Pada pasal sebelumnya (8:4-6) dikemukakan tentang mereka yang pernah mengecap karunia rohani, namun murtad. Ayat-ayat ini sepertinya mendukung pandangan yang menyatakan bahwa keselamatan bisa hilang apabila murtad atau jika dengan sengaja berbuat dosa. Peter Wongso mengemukakan bahwa ada yang menganggap ayat ini berbicar atentang orang Kristen benaran yang memiliki kemungkinan murtad:

Ada juga yang meninjau dari latar belakang sejarah dengan menganggap tidak lama kemudian Yeursalem akan mengalami penganiyaan yang besar, umat Kristen yang harus tahan terhadap penganiaayaan dapat murtad kepada Tuhan, maka sebelumnya diperingatkan.[36]

 

Dalam Tafsirna Alkitab Masa Kini juga dikemukakan bahwa sengaja berbuat dosa dalam hal ini  berhubungan dengan pernyataan,”mereka yang pernah diterangi hatinya” atau dengan kata lain menentang Allah setelah menerima kebenaran itu.[37] Dalam Surat Ibrani, diperoleh gambaran bahwa ada kemunkinan kemurtadan dalam pengertian adanya kemungkinan kehilangan keselamatan.

Wesley Brill dalam bukunya ”Dasar yang Teguh” mengemukakan adanya kemungkinan seseorang yang sudah memperoleh keselamatan untuk murtad, sehingga kehilangan keselamatan seperti tulisannya beriut ini:

Ada beberapa orang yang memegang jabatan penting di dalam jemaat Kristus yang menjadi murtad. Mereka tidak lagi percaya akan asas Alkitab dan Firman Tuhan. Ada juga orang-orang yang dengan sengaja berbalik dari Yesus Kristus. Oleh sebab itu Tuhan memberikan beberapa ayat peringatan di dalam Alkitab, bukan supaya kita takut sehingga putus asa, tetapi untuk menjaga agar kita sampai kepada kehendak Allah, dan supaya kita tetap bertahan dan berusaha sampai kepada kesudahan. Kita patut menyelidiki diri kita apakah kita tetap tegak di dalam iman. Untuk setiap ayat peringatan ada lima ayat yang menyatakan jaminan keselamatan orang yang percaya.[38]

 

Selanjutnya ia memberikan pernyataan bahwa orang-orang Kristen bisa kehilangan keselamatan dengan beberapa bukti ayat-ayat dari Alkitab:

Apakah kita diselamatkan oleh sebab kita berjaga-jaga dan bertekun dan berusaha? Tidak! Tetapi hal-hal itu menyatakan hubungan kita dengan Kristus, menyatakan kasih kita dan ketaatan kita kepada Kristus. Sebaliknya, apakah kita diselamatkan oleh iman jikalau kita tetap dalam dosa-dosa kita? Tidak! Lihatlah 1 Korintus 6:9,10; Wahyu 22:15 dan Galatia 5:19-21.[39]

 

Hal ini juga ditegaskannya dalam bukunya yang lain: ”Orang yang demikian telah murtad dari Kristus, mereka tidak boleh dikatakan memiliki pengetahuan yang dangkal, melainkan orang yang sungguh-sungguh orang Kristen.”[40] Dalam hal ini Brill mengajarkan bahwa apabila kita tidak mempertahankan keselamatan, apalagi dengan sengaja berbuat dosa, maka kita akan kehilangan keselamatan. David Hegelberg juga menafsirkan bahwa ayat ini merupakan bagian dari peringatan keras, yang berlaku bagi orang-orang yang menolak penebusan.[41] Di sini ia berpandangan bahwa orang Kristen memiliki kemungkinan untuk murtad, yang berarti bisa kehilangan keselamatan. The Epistle to Hebrews juga mengemukakan tafsiran bahwa bagi jemaat Kristen ada dua kemungkinan jalan hidup, yaitu pengharapan dan hukuman.[42] Yang ia maksudkan hukuman adalah kehilangan keselamatan. Ia mengaitkan ayat ini dengan penolakan terhadap hukum musa dalam ayat selanjutnya. Sekalipun bangsa Israel merupakan bangsa pilihan Allah, namun hanya mereka yang melakukan Hukum Musa yang akan diselamatkan.

Pandangan lain mengemukakan bahwa ini bukanlah soal kehilangan keselamtan bagi orang-orang Kristen sungguhan. Ini adalah peringatan bagi mereka yang sudah mengetahui dengan sungguh-sungguh kebenaran, namun tidak mau menerima kebenaran itu dan dengan terus-menerus sengaja berbuat dosa. Tafsiran dari Wiersbe memberikan indikasi bahwa mereka yang murtad ini adalah orang-orang Kristen benaran, yang memang sudah menerima keselamatan.[43] Mereka terus-menerus mempertahankan perbuatan baik, atau dengan kata lain mulai hanyut atau menyimpang dari firman Allah. Dengan demikian menghina Tuhan. Selanjutnya Wiersbe mengemukakan bahwa hukuman dari anak-anak Tuhan ini bukan masuk neraka melainkan konsekwensi dosa, disiplin dan ganjaran. Ia mencontohkan akibat dosa yang dilakukan oleh Daud.[44] Daud tidak masuk neraka melainkan menerima ganjaran dari Allah. Akan tetapi ini tidak berbicara mengenai kehilangan keselamatan. Di sini dia maksudkan bahwa ketiadaan korban penghapus dosa untuk yang sengaja berbuat dosa adalah tidak adanya kesempatan untuk memakai nama itu dalam pelayanan atau mengklaim korban itu untuk kegiatan-kegiatan rohani.

Pada sisi lain, lebih banyak penafsir yang berpendapat bahwa Ibrani 10:26 tidak membicarakan tentang kehilangan keselamatan. Ini adalah peringatan, yang merupakan kecenderungan orang-orang Kristen pada masa itu. Hal ini tidak sunguh-sungguh telah terjadi, melainkan suatu peringatan keras. Itulah sebabnya dipakai kata ”jika” suatu pengandaian. Pasal-pasal peringatan dalam Ibrani seolah-olah menyarankan bahwa orang Kristen masih tetap bebas untuk kembali kepada cara hidup mereka yang lama: ”Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14). ”Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya”  tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat” (Ibr 6:4- 6).[45] Akan tetapi belum tentu ini berbicara tentang kemurtadan dari orang yang sudah lahir baru. Istilah lahir baru menunjuk pada pengertian memperanakkan, mengandung atau melahirkan.[46] Istilah lahir baru ini muncul dalam Perjanjian Baru Matius 19: 28 dan Titus 3:5. Ayat-ayat ini membicarakan tentang kehidupan yang baik, yang pada akhirnya mereka tetap selamat. Dalam Perjanjian Baru lainnya, 1 Yohanes 6:16 mengemukakan tentang adanya dosa yang mendatangkan maut dan adanya dosa yang tidak mendatangkan maut. Dalam ayat ini Yohanes menyatakan bahwa yang perlu diperingatkan adalah perbuatan dosa yang mendatangkan maut. Sedangkan untuk mereka yang melakukan dosa yang mendatankan maut tidak ada pendapat, artinya dibiarkan. Sementara itu Penulis Ibrani memberikan peringatan, yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah lahir baru.    

Jika surat ini dikirim kepada orang Yahudi yang telah menggabungkan diri dengan gereja Kristen, tetapi tidak mau menyerahkan diri mereka kepada Kristus, maka pengajarannya jelas: terus atau tinggalkan! Tetapi, jika surat ini ditulis kepada orang Kristen, surat ini tampaknya menegaskan bahwa sekalipun telah menjadi Kristen kita tetap diberi kesempatan untuk memilih keluar lagi. Yang terakhir ini sukar diterima sebagai ajaran Ibrani, sebab bertentangan dengan kata-kata Yesus sendiri (seperti dalam Yoh 10:29), berlawanan dengan berbagai analogi keselamatan (dapatkah seorang Kristen dibatalkan kelahiran kembalinya?) dan menentang kuasa Tuhan yang mampu menjaga keselamatan domba- domba-Nya.[47] Gareth Lee Cockerill menafsirkan bahwa ayat ini merupakan suatu contoh yang menjadi peringatan kepada penerima surat. Jadi dalam hal ini tidak ada kehilangan keselamatan bagi jemaat yang telah dilahirkan kembali. Dalam Perjanjian Baru dengan tegas menyatakan tidak ada kehilangan keselamatan, yang ada adalah penghukuman bagi mereka yang belum percaya.

Secara teologis, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian, diperoleh kesimpulan bahwa Ibrani 10:26 merupakan peringatan keras kepada jemaat yang cenderung meninggalkan persekutuan Kristen. Mereka yang dinyatakan pada akhirnya tidak memperoleh korban penghapusan dosa adalah mereka yang hanya menerima Yesus secara lahiriah. Dalam hal ini, bukan orang yang sudah ada dalam Kristus (atau jemaat Kristen) yang akan binasa, melainkan mereka yang hanya menerima Yesus secara lahiriah, belum sungguh-sungguh bertobat, malahan dengan sengaja berbuat dosa, mereka inilah yang tidak mungkin diselamatkan. Dalam bagian terakhir perikop itu dikemukakan ” Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.”

Oleh: Dewi Hia & Hasrat Nazara

[1] Ola, Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Batu : Departemen Multimedia Literature YPPII, 1993), 155.

[2] J.D.Douglas. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2007), 411.

[3] Dave Hagelberg, Tafsiran Ibrani (Bandung : Kalam Hidup, 2003), 3

[4]Charles F.Pfeiffer & Evertt F. Harrison, Tafsiran Alkitab Wycliffe volume 3, (Malang: Gandum Mas, 2001), 916.

[5]William barcley, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Surat Ibrani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 10.

 

[6]Peter Wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab Surat Ibrani, (Malang: 1993), 7.

 

[7]Henry. H. Halley, Penuntun Kedalam Perjanjian Baru, (Surabaya: YAKIN, t.t), 269.

 

[8]Peter wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab surat ibrani,7.

 

[9]Adina chapman, Pengantar Perjanjian Baru, (Bandung: Kalam Hidup, 2004), 43.

 

[10]Henhry H.Halley, Penuntun Ke dalam Perjanjian Baru, (Surabaya: YAKIN, 1979), 269.

[11]Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kristis terhadap Masalah-masalahnya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 266.

 

[12]______, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2000), 412.

 

[13]Merril. C. Tenney, survey perjanjian baru, (Malang: Gandum Mas, 2001), 443.

 

[14]Henhry H. Halley, Penuntun Ke dalam Perjanjian Baru (Surabaya: YAKIN, 1979), 269.

[15]Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, Tafsiran Alkitab Wycliffe, volume 3, 920.

 

[16]Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta:Kanisius, 2002), 414.

 

[17]John Arthur Thomas Robinson, "Redating the New Testament", (t.k.p: Westminster Press, 1976). 369.

 

[18]Fonck, Leopold. "Epistle to the Hebrews". The Catholic Encyclopedia. Vol. 7. (New York: Robert Appleton Company, 2009), 1910.

[19]Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, tafsiran Alkitab Wycliffe, volume 3, (malang 2001 Gandum Mas), 917.

[20]Rifai, Superioritas Kristus dalam Surat Ibrani: Mengungkap Surat Ibrani (t.kp: t.p, t.p), 33.

 

[21]Ibid, 34.

[22]Rifai, Superioritas Kristus dalam Surat Ibrani: Mengungkap Surat Ibrani, 35

[23] Henk Ten Napel, Jalan yang lebih utama (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2006), 188.

[24]W.R.F.Browning, Kamus Alkitab (Jakarta : IKAPI, 2009), 141.

 

[25] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari “Surat Ibrani” (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 9.

 

[26] Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, tafsiran Alkitab Wycliffe, volume 3, 920.

[27]Sabda. Online Bible Versi Indonesia, ver 2.0. Software Alkitab. Biblika dan Alat-alat. Yayasan Lembaga Sabda. CD-ROM.

[28]Donal Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3 (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), 339.

 

[29] Oxford English Dictionary (dalam bahasa Inggris). https://id.wikipedia.org/wiki/Struktur. Diakses tanggal 10 Mei 2021

[30] https://id.wikipedia.org/wiki/Genre. Diakses 11 Mei 20201.

[31] Dianne Bergant & Robert J. Karris (eds). 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. 413.

[32] Ibid.

[33] Andrerw E. Hil dan John H. Walton, Survey Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004)734.

[34] Walter C. Kaiser, Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004), 337.

[35] Ensikolopedi Alkitab, …

[36] Peter Wongso, 474.

[37] ____________ dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini; Jilid 3: Perjanjian Baru (Jakarta: Yayaan Komunikasi Bina Kasih/OMF: 2004), 760.

[38] J. Wesley Brill, Dasar yang Teguh (Bandung: Kalam Hidup, 1999), 211.

[39] Ibid.

[40] John Wesley Brill, Tafsiran Surat Ibrani (Bandung: Kalam Hidup, 1999), 168.

[41] Dave Hegelberg, Tafsiran Ibrani dari Bahasa Yunani (Yogyakarta: Andi, 2008), 53.

[42] Charles R. Erdman, The Epistle to the Hebrews, 107-108.

[43] Warren W. Wiersby, Yakin di dalam Kristus: Bagaimana Kehidupan Kristen yang Stabil (Bandung: kalam Hidupn 1999), 138-139

[44] Ibid.

[45] John Balchin dkk, Intisari Alkitab: Perjanjian Baru (Jakarta: {Persekutuan Pembaca Kristen, 2010), 100.

[46] Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Keselamatan (Surabaya: Momentum, 2012), 117.

[47] John Balchin dkk, Intisari Alkitab: Perjanjian Baru, 100.



[1] Analisis Ekousi,wj Ibrani 10:26 dalam Bible Works, ver. 7.0. Software Alkitab, BGT Morphology, [CD ROM].

[2] Kata e`kousi,wj dalam Gingrich Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, [CD ROM].

[3] Kata a`marta,nw dalam Louw – Nida Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, [CD ROM].

[4]Kata lamba,nw dalam Louw – Nida Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, [CD ROM].

[5] Kata evpi,gnwsij dalam Gingrich Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, [CD ROM].

[6] Ibid.

[7] Analisis “avpolei,petaiHebrew 10:26 dalam, Bible Works, ver. 7.0. Software Alkitab, BGT Morphology, [CD ROM].

[8] Analisis “ouvke,tiHebrew 10:26 dalam, Bible Works, ver. 7.0. Software Alkitab, BGT Morphology, [CD ROM].

[9] Kata qusi,a dalam Gingrich Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, [CD ROM].

[10] Analisis “avpolei,petaiHebrew 10:26 dalam, Bible Works, ver. 7.0. Software Alkitab, BGT Morphology, [CD ROM].

[11] Kata avpolei,pw dalam Gingrich Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, [CD ROM].

[12]Bambang Subandrijo, Menyingkap Pesan-pesan Perjanjian Baru 2 (Bandung: Bina Media Informasi, 2010), 15.

 

[13]Michael Keene, Alkitab “sejarah, proses terbentuknya dan pengaruhnya, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 118.

 

[14]Peter Walker, In the Steep of Saint Paul (Yogyakarta: IKAPI, 2009), 188.

[15]Eddy Frances, Surat Kepada Orang Ibrani, 69.



[1] Dianne Bergant & Robert J. Karris (eds). 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. 413.



[1] J.D.Douglas. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2007), 411.


[1] “Hebrew 10:26) dalam Adam Clarke's Commentary, Electronic Database. Copyright © 1996, 2003, 2005, 2006 by Biblesoft, Inc. All rights reserved.)



[1] " Hebrews 10:19-39" dalam PC Bible Study 5, Barnes' Notes, Electronic Database. Copyright © 1997, 2003, 2005, 2006 by Biblesoft, Inc. All rights reserved.

[2] Peter Wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab Ibrani (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2004), 475



Oleh: Dewi Hia & Hasrat Nazara