Analisa Konteks Jauh
Secara mendasar, analisa konteks
jauh dari Ibrani 10:26 ini meliputi beberapa pasal sebelum dan beberapa pasal
sesudahnya. Hal ini juga akan semakin jelas dalam pembahasan garis Besar Surat
Ibrani. Banyak Sarjana Perjanjian Baru telah merumuskan garis besar Surat ini,
yang isinya secara garis besar adalah menjelaskan tentang karya Kristus,
tanggungjawab orang Kristen, peringatan dan nasihat. Dalam Ensiklopedi Alkitab
Masa Kini, Garis Besar Surat Ibrani adalah sbb: Tema ajaran: superioritas
Kristus, Ibr 1:1; 10:18. (a) Oknum Kristus, Ibr 1:1; 4:13; (b) Pekerjaan
Kristus, Ibr 4:14; 10:18; (c) Penerapan praktis tema ajaran, Ibr. 10:19; 13:25.
Menurut Bergant, pada bagian Ibrani pasal 4-10, kematian Kristus dimaknai
pengorbanan paling sempurna yang
menghapus dosa manusia untuk selama-lamanya. Untuk sampai kepada kesimpulan
ini, penulis mengajak pembacanya untuk membandingkan pengorbanan yang dilakukan
Yesus dan peran imam dalam tradisi Yahudi yang identik dengan kekudusan dan
persembahan kurban. Penulis tampaknya mau menegaskan keistimewaan pengorbanan
Kristus, karena sebagai imam Kristus sendiri mengorbankan diri-Nya sehingga
tidak ada lagi medium "korban" untuk menghubungkan Allah dan manusia. Di
sini dia mengungkapkan bahwa hanya pengorbanan Kristus yang bisa menyelamatkan
manusia.
Pada
pasal-pasal selanjutnya dikemukakan tentang saksi-saksi iman, yang mana mereka
semua hidup dalam kebenaran dan iman kepada Allah, mereka tidak pernah dengan
sengaja berbuat dosa, sehinga mereka dipastikan memperoleh keselamatan. Pasal
12 berisi tentang nasihat supaya bertekun dalam iman, dan demikian juga isi
dalam pasal 13.
Dari analisa konteks
dekat maupun konteks jauh, mereka yang sengaja berbuat dosa itu bukan
orang-orang yang sudah menjadi jemaat sejati melainkan suatu perbandingan
dengan orang yang belum memperoleh keselamatan. Oleh karenanya disampaikan
nasihat dan peringatan supaya tidak hidup seperti orang yang akan mengalami
kebinasaan. Bagi mereka yang tidak mencapai tuntutan kehendak Allah, akan ada
kebinasaan. Dengan demikian tidak ada korban penghapus dosa lagi.
Analisa Leksikal
Untuk
memperoleh pemahaman dan konsepsi ytang semakin lengkap, selain analisa
literal, juga dilakukan pembahasan atau alias secara khusus yaitu studi lata
atau yang dikenal dengan istilah analisa leksikal. Dalam rangka menemukan makna
frasa dalam Ibrani 10:26, tentang ketiadaan korban penghapus dosa jika berbuat
dosa dengan sengaja, maka ada beberapa kat menjadi kunci untuk dibahas. Adapun
kata-kata yang akan dibahas adalah: (1) sengaja; (2) berbuat dosa atau berdosa;
(3) menerima; (4) pengetahuan; (5) kebenaran; (6) tidak ada lagi; (7) korban;
(8) penghapus; dan (9) dosa. Pengurutan kata-kata yang akan dibahas ini
berdasarkan teks dalam Alkitab Terjemahan Baru.
Kata yang
pertama yaitu “sengaja” merupakan kata sifat Yunani Ekousi,wj (ekousios) yang kata dasarnya adalah e`kousi,wj (ekousin).
Menurut Gingrich Greek Lexicon, kata
ini memiliki dua pengertian yaitu (1) dengan sukarela, sukarela, atau secara
spontan, seperti yang muncul dalam 1 Petrus 5:2 “Gembalakanlah kawanan domba
Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai
dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan
pengabdian diri. Kata ini merupakan lawan dari kata avnagkastw/j (anagkastos)
yaitu tidak rela. Dan arti yang kedua adalah sengaja.
Pemakaian secara umum kata ini berkenaan dengan kesediaan untuk melakukan sesuatu tanpa dipaksa atau
ditekan - 'bersedia, dengan sukarela, atas keinginan sendiri. Dengan demikian,
kosep dari perbuatan ini adalah sukarela dari diri sendiri, bukan karena
pengaruh dari orang lain atau pihak luar. Dalam hal inilah tidak berlaku lagi
pengampunan bagi merek yang melakukannya.
Kata yang
kedua adalah berbuat dosa. Memang dalam terjemahan bahasa Indonesia terdiri
dari dua kata, namun dalam bahasa Yunaninya hanya satu kata yaitu a`martano,ntwn (hamartanonton) dengan kata dasar a`marta,nw (hamartano), sebagaimana yang telah disinggung pada
bagian analisa literal. Kata a`marta,nw (hamartano) secara
mendasar diterjemahkan “dosa.” Dalam Louw
– Nida Greek Lexicon, kata ini diartikan sebagai bertindak
bertentangan dengan kehendak dan hukum Allah - 'berbuat dosa, berbuat salah, atau
berdosa. Kata ini muncul dalam Lukas
15:18, perumpamaan tentang anak yang hilang, yang telah menghambur-hamburkan
harta milik warisan ayah mereka, kemudian ia sadar dan bertobat, lalu berkata:
Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa. Konsep dari pemakaian kata
ini adalah bahwa ia telah melakukan hal yang bertentangan dengan kehendak ayahnya.
Kata ini dipakaia dalam pengertian melakukan hal yang salah. Dari srudi kata
ini, maksud dengan berbuat dosa adalah melakukan tindakan yang bertentangan
dengan apa yang dikehendaki Allah. Dalam konteks Ibrani 10:26, artinya
melakukan tindakan yang bertentangan dengan maksud Tuhan.
Studi
kata yang ketiga adalah “menerima” dari bahasa asli Yunani yaitu labei/n (labein). Kata dasarnya adalah lamba,nw (lambano)
yang secara umum diterjemahkan mengambil atau menerima. Dalam pengertian yang
aktif, kata ini berarti, mengambil, memegang, memegang erat (Mat 26: 26a; Mrk 12: 19–21; 15:23; J 19:30; Yoh 5:10; Rv
5: 8f). Rebut Mt 21:35, 39; Luk 5:26; 9:39; 1 Kor 10:13. Juga kadang
diterjemahkan mengambil, menggambar, menangkap, mengumpulkan dan sebagainya.
Bahkan ketika kata ini digabung dengan labw.n th.n spei/ran e;rcetai (labon ten speiran) diterjemahkan “datang dengan
sepasukan” sebagaimana yang muncul dalam Yohanes 18:3. Dalam pengertian yang
pasif kata ini diterjemahkan d menerima, mendapatkan, memperoleh (Mrk 10:30;
12:40; Luk 11:10; Kis 1:20; 10:43; 20:35; 1 Kor 4: 7; 9: 24f; Yak 1:12; Why.
22:17). Kata menurut Louw – Nida, kata ini juga diterjemahkan sebagai memegang
sesuatu atau seseorang baik dengan kekuatan maupun tanpa kekuatan (Mat 26: 26a;
Mrk 12: 19–21; 15:23;Yoh. 19:30).
Jadi, kosepsinya adalah bahwa suatu benda atau hal (yang dalam hal ini
pengetahuan tentang kebenaran) telah berada di tangan atau pada seseorang yang
menerimanya. Ia telah memegang atau menerima dengan kesadaran yang aktif. Artinya
sesuatu yang diterima itu sudah ada pada mereka. Dengan demikian, mereka tidak
dapat berdalih bahwa mereka belum menerimanya.
Kata yang
keempat adalah pengetahuan, yang diterjemahkan dari kata asli Yunani evpi,gnwsin (epignosin)
dengan kata dasar evpi,gnwsij (epignosis). Secara
mendasar kata dasar Yunani ini diartikan sebagai wawasan,
pengetahuan (Kol 1: 9f; 1 Tim 2: 4; Titus 1: 1; Filemon 6; Ibrani 10:26; 2 Ptr
1: 2); juga diterjemahkan sebagai kesadaran dalam Roma 3:20 dan mengenali dalam
Roma 1:28. Konsepsi dari kata Yunani evpi,gnwsij (epignosis) ini adalah memiliki informasi yang lebih pasti tentang
sesuatu, mungkin dengan tingkat ketelitian atau kompetensi yang tinggi,
mengenali tentang, pengetahuan tentang sesuatu. Ada pengenalan yang mendalam
tentang pengetahuan ini. Itulah sebabnya akta ini muncul dalam pernyataan Tuhan
Yesus dalam Matius 11:27 “tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak
seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan
menyatakannya.” Dalam Surat Paulus kata ini muncul dengan gagasan “mengenal
kebenaran” dalam kalimat “Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan
makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh
orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran”(1 Tim. 4.3). Dari studi
kata Yunani, ini ternyata orang-orang yang sengaja berbuat dosa telah
sungguh-sungguh mengenal kebenaran secara mendalam. Bahkan pengetahuan ini
merupakan pengetahuan sejati. Berarti mereka mengetahui
dengan pasti bahwa kematian Tuhan Yesus merupakan korban penghapus dosa yang
sempurna dan tidak ada korban yang lain yang olehnya manusia memperoleh
mengampunan atau menghapusan dosa. Hal inilah yang diketahui oleh mereka yang
dengan sengaja berbuat dosa dalam Ibrani 10:26.
Kata
kelima yang perlu dibahas adalah “kebenaran.” Kebenaran apakah yang dimaksudkan
dalam pengertian kata ini. Dalam analisa kata Yunani asli, kata yang muncul
adalah avlhqei,aj
(alehteias) sebagai
kata benda genetif femini tunggal dengan
kata dasar avlh,qeia (aletheia). Kata dasar dasar avlh,qeia (aletheia) diterjemahkan sebagai
“kebenaran.” Kosepsinya adalah isi
dari apa yang benar dan dengan demikian sesuai dengan apa yang sebenarnya
terjadi atau kebenaran yang sungguh-sungguh. Dalam Markus 5:33 muncul kata ini
dengan pernyataan “ia mengatakan yang sebenarnya terjadi” dan juga mucul dalam
Efesus 4:25 sebagai lawan dari kepalsuan. Ini artinya kejujuran. Kebenaran ini
adalah yang sungguh-sungguh terjadi, sudah pasti, sudah tentu (Mat 22:16; Mrk 12:14; Luk 22:59; Rm.
2:2). Kebenaran ini juga merupakan karakteristika dari Allah dan
Tuhan Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8.32 kata ini digunakan untuk merujuk pada
wahyu Tuhan yang dibawakan oleh Tuhan Yesus atau mungkin kepada Yesus sendiri
di mana Dia sebenarnya sebagai wahyu Tuhan. Inilah kebenaran itu. Jadi
kebenaran di sini tidak lain berhubungan dengan Pribadi Tuhan Yesus Kristus dan
juga karya keselamatan yang telah dilakukan-Nya. Jadi mereka yang dengan
sengaja berbuat dosa, tidak melakukan kehendak Allah ini sebenarnya memiliki
pengetahuan yang sejati tentang kebenaran Allah.
Studi kata
yang keenam adalah kata “tidak ada lagi”. Dalam teks bahasa Indonesia terdiri
dari tiga kata, namun dalam teks Yunaninya hanya ada satu kata yaitu kata keterangan
waktu ouvke,ti. (ouketi).
Arti dasarnya adalah tidak lagi, tidak ada lanjutan, atau tidak ada lagi. Dari
segi waktu, kata ini berarti tidak ada kesempatan (Mat
19: 6; Mrk 9: 8; Luk 15:19, 21; Yoh. 4:42; 6:66; 14:19); atau tidak akan
pernah lagi (Rm 6: 9a; Kis 20:25, 38; 2 Kor 1:23).
Ini berarti tidak diulangi lagi apa yang perlah terjadi atau apa yang pernah
dilakukan. Atau juga beraqrti tidak ada kesempatan lagi untuk mengulangi hal
yang sama. Jika kata ini diterapkan pada ayat Ibrani 10:26 berarti tidak
dilanjutkan lagi pengorbanan penghapus dosa bagi mereka yang dengan sengaja
berbuat dosa.
Kata ketujuh
yang perlu dianalisa adalah kata “korban.” Kata ini berasal dari kata Yunani qusi,a (thusia) yang
merupakan kata benda nominatif femini tunggal. Dalam Gingrich Greek Lexicon , kata ini diterjemahkan sacrifice (korban); offering (persembahan).
Pada umumnnya kata korban dan persembahan digabung untuk memberikan penekanan
yang kuat bahwa hal itu sungguh-sungguh dipersembahkan atau dikorbankan. Kata
Yunani untuk pengertian “korban” dan “persembahan” ini secara teologis muncul
dalam Efesus 5:2 “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan
diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Kata
ini juga muncul dalam Kisah Para Rasul 7:42 “Apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku
korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu,
hai kaum Israel?” Ini menunjukkan bahwa hanya Yesus yang benar telah berkorban
dan telah mempersembahkan diri-Nya untuk menghapus dosa manusia, untuk
menyelamatkan manusia. Jadi konsep korban dalam Ibrani 10:26 adalah pengorbanan
Kristus, artinya tidak ada pengorbanan lain selain dari pada korban persembahan
diri Tuhan Yesus Kristus.
Kata yang
terakhir yang akan dibahas adalah dua kata yaitu “menghapus” dan “dosa.” Dalam
bagian terakhir ayat itu muncul kata Yunani a`martiw/n (hamartion)
yang diterjemahkan “dosa.” Konsep dasarnya sama dengan dosa yang telah dibahas
sebelumnya. Ada kalanya dosa ini juga dipahami sebagai keadaan yang mengancam
atau mengikat seseorang. Untuk kata “menghapus” diterjemahkan dari kata Yunani avpolei,petai (apoleipetai) yang
merupakan kata benda, kini, pasif, indikatif, orang ketiga tunggal dari kata
dasar avpolei,pw (apoleito).
Secara mendasar arti kata Yunani ini adalah meninggalkan, membelakangi (2 Tim 4:13, 20; Titus 1: 5). Juga diterjemahkan tidak
masuk (Ibr. 4:6).
Dalam pemakaiannya, konsep meninggalkan atau tertinggal atau menghapus bisa
dipahami dalam hal sebagai kesengajaan dan juga ada yang tidak disengaja. Dalam
Ibrani 10:26 tentu saja menghapus dalam hal ini memiliki suatu alasa atau
tujuan. Artinya bahwa dosa-dosa manusia dengan sengaja dihapus atau
ditinggalkan supaya manusia memperoleh keselamatan. Akan tetapi frasa yang
dikemukakan adalah bahwa tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa mereka yang
dengan sengaja melakukan dosa.
Kesimpulan
dari analisa leksikal adalah sebagai beikut: peringatan ini dimulai dengan
keadaan di mana orang-orang yang dinasihatkan telah menerima atau telah dengan
sungguh sungguh mengelanal kebenaran sejati, bahwa hanya di dalam Yesus Kristus
ada keselamata yang pasti. Mereka mengetahui dengan pasti tentang kebenaran
itu. Namun demikian mereka dengan sengaja berbuat yang berlawanan dengan
kehendak Allah. Mereka tidak melakukan kebenaran itu, justu berbuat dosa dengan
sengaja. Dengan demikian mereka tidak memperoleh penghapusan dosa. Artinya
tidak memperoleh keselamatan.
Analisa Historis
Pada bagian ini
penulis akan memaparkan historis atau sejarah apa yang terkandung di dalam ayat
ini, hal ini dilakukan agar mendapatkan makna yang lebih rinci dari Ibrani
10:26, karena dengan begitu penulis akan mendapatkan kemungkinan – kemungkinan
untuk memperjelas maksud dari ayat yang sedang dibahas. Ulasanya sebagai
berikut:
Surat Ibrani ini ditulis dengan tujuan dan maksud yang
jelas yaitu salah satunya adalah untuk menghimpau setiap orang agar tidak
murtad, dan memiliki iman yang hanya tertuju kepada Allah saja. Alsan penulis
surat Ibrani menyampaikan dalam surat ini untuk
mempertegas bahwa Kristus lebih dari segalanya. Mengapa hal ini
disampaikan oleh penulis agar setiap pembaca surat mengetahui bahwa pada saat
itu ada beberapa hal yang sangat penulis waspadai yaitu tentang a). Bahaya
kemurtadaan, b). membandingkan Kristus dengan tokoh dan nabi-nabi yang terdapat
di dalam Perjanjian Lama, c). Kembali kepada arah Yudaisme, dan lebih kepada
suatu tradisi Yahudi.
Kita setuju bahwa
surat Ibrani dituliskan pada tahun 64 – 70, sedangkan pada saat itu Roma sedang
dipimpin oleh Kaisar Nero. Kaisar Nero pada zaman itu adalah Kaisar yang
menganiaya umat Kritiani. Pada saat itu hal yang tergambar di dalam surat ini
adalah suatu peristiwa dimana jemaat
Kristen Yahudi yang takut dipandang sebagai pecahan dari Yudaisme,penulis
menghimbau agar orang – orang tidak kembali kepada sinagoge, tetapi untuk
bersama-sama menangung cemoohan karena mengikut Yesus yang tersalibkan. Karena
dimata orang – orang Roma, Yudaisme merupakan agama yang sah (religion
licita), sedangkan Kristen tidak dipandang sebagai suatu agama. Hal ini
terlihat dimana orang – orang Yahudi dibebaskan dari pengorbanan kepada dewa –dewa atau kepada Kaisar. Namun,
apa yang akan terjadi begitu otoritas Romawi mengetahui bahwa gerakan Kristen
ini sekarang didominasi oleh orang – orang non Yahudi dan yang semakin tidak
diakui oleh kelompok Yudaisme, sehingga hal ini sangat membuat situasi di Roma
sungguh menyulitkan.
Namun jika kita mengingat konteks pada waktu itu (abad I)
dimana orang Kristen pada saat itu mengalami penganiayaan yang amat berat
khususnya pada pemerintahan Nero dan Diocletian. Dari kondisi ini membuktikan bahwa posisi orang
Kristen yang ada pada saat itu adalah suatu kondisi yang sedang dilema, orang
Kristen yang ada saat itu sedang merasa dilema dikarenakan harus diperhadapkan
dengan suatu pilihan, pilihan tersebut adalah antara Yesus dengan Kaisar yang
ada saat itu. Dengan adanya kondisi ini membuat orang Kristen yang tadinya
percaya dan memiliki iman kepada Yesus pada akhirnya menyangkal imanya kepada Yesus. Sikap inilah yang disebut
sebagai suatu tindakan “menyalibkan Yesus yang kedua kali dan menghina-Nya di
depan muka umum (ayat 6b)” Edy Frances mengatakan bahwa orang-orang Kristen yang memiliki sikap
seperti ini adalah orang Kristen yang disebut akan binasa dan diposisikan
sebagai orang yang tidak pernah dilahirkan kembali. Dan mereka adalah
orang-orang yang belum benar-benar mengalami suatu pertobatan. Jadi bisa
dikatakan bahwa orang-orang ini adalah orang yang tetap memiliki pola hidup
yang lama dan belum sepenuhnya bertobat, hanya saja orang-orang ini mirip dengan ornag percaya
yang asli. Bisa dikatakan bahwa kehidupan orang-orang itu penuh dengan
kejahatan ibarat tanah terus menghasilkan semak duri dan rumput duri, walaupun
sudah banyak menerima air hujan (ayat 7-8).
Latar Belakang Kitab Ibrani
Kitab
Ibrani adalah sebuah surat yang unik dan istimewa dikarenakan oleh beberapa
pandangan menurut pengamatan penulis. Dimana kitab ini merupakan surat yang
tidak mencantumkan secara terang terangansiapa jati diri penulis atau nama
penulis dan tidak diawali dengan satu kata sapaan yang hangat seperti mungkin
kata pembukaan, perkenalan seperti surat yang lainnya.” Yang mana surat-surat
yang pada jaman abad pertama selalu membubuhkan alamat dan tujuan surat secara
lengkap.
Dalam hal
ini, penulis mencoba mengungkapkan latar belakang kitab Ibrani ini. Mengapa
sampai surat ini dituliskan dan dikirim kepada orang Ibrani. Orang Ibrani dalam
Perjanjian Lama merujuk kepada keturunan Sem anak dari Nuh, atau suku bangsa.
J.D. Douglas mengatakan:
Dalam Perjanjian Lama secara mantap menggunakan ‘ivri’ sebagai suku
bangsa. Karena istilah ini sering diucapkan oleh atau dialamatkan kepada
orang-orang Non – Israel, maka banyak menganggap dalam ‘ivri’ adalah
kemungkinan lain mengacu kepada orang ‘Israel’ dalam situasi dimana orang
tersebut bukanlah warga Negara merdeka yang berdaulat atas sebidang tanah,
mungkin sesuai dengan bg-bg PL.
Pertumbuhan yang sangat
pesat dari gereja orang – orang bukan Yahudi yang terlepas dari Yudaisme baik
dalam sifat maupun keyakinannya hanya dimungkinkan oleh perpisahan yang tegas
dan mutlak diantara keduanya anggota-anggota gereja Yahudi masih berpegang pada
pelaksanaan hukum secara ketat, meskipun mereka mempercayakan keselamatan
mereka kepada Yesus sang Mesias.
Pada waktu itu keterangan diantara orang-orang Yahudi dan
bukan Yahudi yang tersa panjang tiga puluh tahun yang pertama dari sejarah
Kristen makin menghebat, ketika gereja menyaingi sinagoge dalam jumlah dan
dalam jumlah perkembangannya di dunia. Kitab Ibrani ditulis untuk menjawab dilemma
tersebut. Selain itu juga kitab Ibrani ini menunjukakan tempat-tempat pemukiman
orang-orang Yahudi. “ Selain orang-orang Yahudi yang tinggal di Israel, masih
ada orang-orang Yahudi yang tinggal di tempat-tempat lain pada zaman Perjanjian
Baru. Ada yang tinggal di Mesir, di kota-kota pantai Afrika bagian Utara, di
propinsi Asia kecil, di Italia, dan dipantai Eropa bagian selatan. Keadaan
orang-orang Yahudi ini sering mengalami aniaya dan ditindas.”
Penulis Surat Ibrani
Surat
ini sampai saat ini belum diketahui siapa yang menjadi penulis surat Ibrani
ini, ada yang mengatakan bahwa penulis surat ini adalah Rasul Paulus, Apolos,
Barnabas, Lukas dan Timotius. Semua tokoh ini pernah disebut sebagai penulis
surat Ibrani beserta dengan setiap argumen mendukung yang mengklain sebagai
penulis dari surat ini. Surat ini sendiri tidak menyebutkan atau bahkan
menyinggung secara tersirat sekalipun siapa yang menulisnya. Terdapat dua
pandangan utama yang paling menonjol dalam menetapkan penulisan surat ini,
yaitu sebagai berikut:
Pertama bahwa yang menulis surat ini adalah Paulus,
alasan yang digunakan untuk mendukung pandangan ini yaitu adanya seorang
penulis tidak dikenal yang telah dibina dan dipengaruhi oleh Rasul Paulus
sehingga memberikan warna Paulus yang khas kepada surat ini.
Kedua Tradisi Aleksandria dan pengaruhnya,
berlandaskan penggunaan Perjanjian Lama terutama secara tipologi.
Dalam
buku Tafsiran Alkitab Wycliffe volume 3,Charles
F. Pfeiffer&
Evertt F Harrison mengungkapkan beberapa alasan yang mendukung Rasul Paulus
sebagai penulis surat dan alasan yang membantah bahwa tidaklah paulus yang
menuliskan surat ini, berikut ulasanya:
1). Alasan pendukung Penulisnya Paulus
Pertama, Alasan yang mendukung kepenulisan Paulus sangat
bersandar pada pasal 13 dari surat ini. Sifat pribadi dari pasal ini merupakan
ciri khas Rasul Paulus, demikian pula gaya penulisan suratnya. Penyebutan
Timotius dan Italis (13: 23) tampaknya berhubungan langsung dengan dengan sang
Rasul. Hal yang lainnya juga adalah terdapat persamaan yang menonjol di antara
bahasa surat ini dengan bahasa surat-surat paulus (1:4, 2:2, 7:18, 12:22) dan
argumnetasi Kristologi yang terdapat dalam surat ini sama dengan Kristologi
Paulus di dalam surat-suratnya.William
barcley, dalam bukunya yang berujudul “pemahaman
Alkitab setiap hari surat ibrani” menegaskan bahwa bapak gereja memberikan
pendapat bahwa penulis kitab ibrani itu ialah Paulus. Namun berbeda alasan yang
diutarakan mereka masing-masing. “Clement dari Alexadria cenderung berpendapat
bahwa pauluslah yang mula-mula menulis surat ini dalam bahasa ibrani, lalu
Lukas menerjemahkannya,sebab gaya bahasanya berbeda sekali dengan gaya bahasa
Paulus”
Pada abad kedua, rektor sekolah teologia Alexandri, Pantaenus (30-190 TM),
menerima sepenuhnya bahwa Paulus adalah penulis surat ini. Kemudian muridnya
yang benama Clement (150-15 TM), meneruskan ajaran gurunya juga menerima Paulus
sebagai penulis surat ini. Namun demikian ia menambahkan penjelasan sebagai
berikut: surat ini ditulis oleh rasul Paulus dalam bahasa ibrani, kemudian
diterjemahkan oleh Lukas dalam bahasa Yunani.
Ada pandangan dari
tokoh bapak gereja barat, yakni Eusebiusyang berpendapat bahwa Pauluslah yang menulis kitab ibrani.
Namun dia tidak memberikan sama sekali apa yang menjadi alasannya. Ferner
fenton memikir, bahwa tak ada orang selain Paulus yang sanggup menulis semuanya
kitab ibrani itu dalam bahasa ibrani, yang mungkin disuruh orang lain
menerjemahkannya kedalam bahasa Yunani lewat menyruh pembantunya.Ada
juga tokoh lainnya yang hidup antara tahun 347 sampai 420 TM yaitu Jerome
Hieromineus,
saat menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa Latin, ia berpendapat bahwa Rasul Pauluslah yang menulis kitab
Ibrani”.Dr.
Campbell Morgan memperkirakanbahwa Surat Ibrani itu ditulis oleh Lukas dengan
cara didikte, dan sumber pemikirannya ialah Paulus.Sedangkan Schofield menduga
bahwa kitan Ibrani itu adalah hasil khotbah atau pengajaran Paulus yang bisa
diajarkan di sinagogesinagoge orang Yahudi”.
Sekalipun faktanya ada berbagai perbedaan tentang siapa penulis sesungguhnya
surat Ibrani, tetapi pada umumnya,
pandangan yang turun-temurun melalui abad-abad, dan masih dipegang, ialah bahwa
Rasul Pauluslah yang menulis surat Ibrani ini.
2). Alasan Pendukung Tidaklah Paulus yang menulis
Beberapa alasan yang menyatakan bahwa bukanlah Rasul
Paulus yang menulis, yaitu sebagai berikut: a). Tidak disebutnya nama Rasul
Paulus secara khusus sebagai penulis sebagaimana dilakukan olehnya di dalam
surat – surat yang diakui telah dituslinya. b). pemakaian bahasa yang kaidah
penyusunan, pembahasan dan gaya penulisnnya lebih tinggi daripada yang
digunakan Paulus. c). Pengembangan logika dari argumentasi yang dikemukakan
bukan merupakan ciri Paulus, Irama surat Ibrani bersifat retoris dan
Hellenistis, dan gaya penulisannya secara umum, jauh lebih tenang dan ketat
dibandingkan dengan gaya penulisan Paulus. Hal selanjutnya yang menjadi suatu
perbedaan doktrinal sangatlah tampah dalam surat ini, doktrin itu adalah : 1).
Pembahasan tentang iman, 2). Pandangan eskatologi yang terdapat dalam pasl 12,
3). Penerapan hukum Musa di dalam argumtasinya, 4). Konsep tentang tempat
peribadatan.
Menurut Willi Merxsen dalam bukunya pengantar perjanjian baru bahwa Penulis surat ini tidak
mencantumkan namanya, sehingga tidak diketahui pasti. Pada abad-abad pertama
kekristenan hingga Abad Pertengahan, surat Ibrani diyakini ditulis oleh Rasul Paulus, meskipun
tidak dimulai dengan nama Paulus, seperti surat-surat Paulus lainnya. Sedangkan menurut
pendapat dari Klemen dan Orgenes memiliki pendapat bahwa penulis surat Ibrani
ini adalah Rasul Paulus. Hal ini dikarenakan, menurut pendapat Klemen bahwa
surat ini ditulis dalam dialek Ibrani, tetapi diterjemahkan oleh Lukas dan
mungkin juga dalam proses penerjamahan pada waktu mendapatkan pengaruh dari
tradisi dari pendahuluanya yaitu Pantaenus.
Pendapat yang sama juga disampaikan
oleh Merrill. C. Tenney, berpendapat bahwa yang menulis surat ibrani itu ialah
rekan dari Timotius dan mungkin termasuk rekan Paulus (Ibr 13:23). Ia
menafsirkan seperti itu dengan alasan, yang menulis kitab ibrani ini mengutip
kata seperti “orang benar itu akan hidup oleh percayanya (Hab 2:4) sama seperti
diperbuat oleh Paulus dalam roma 1:17, dan Gal 3:11.
Namun yang terpenting bahwa “tidak dituliskan dengan
jelas siapa penulis dari surat Ibrani ini, hanyalah Tuhan yang mengetahui
dengan pasti.” Tetapi pada umumnya, pandangan yang turun-temurun melalui
abad-abad, dan masih dipegang, ialah bahwa Rasul Pauluslah yang menulis surat
Ibrani ini.
Jadi, penulis membuat suatu simpulan bahwa penulis dari
Surat Ibrani ini adalah Rasul Paulus, karena dari segi tata bahasa dan gaya
yang khas yang dimiliki Pauluslah yang cocok untuk menulis surat ini. Serta hal
ini juga sependapat dengan pendapat dari buku – buku yang lain yang menyatakan
bahwa Paulus adalah penulis dari surat Ibrani ini.
Tahun Penulisan Kitab Ibrani
Penulisan surat Ibrani ini juga menjadi suatu pokok
pembahasan, dimana tahun penulisannya ini banyak dibicaran oleh beberapa tokoh
yang menyebutkan berbagai pandangan tentang tahun penulisan ini, berikut adalah
beberapa pendapat, yaitu:
Berbagai faktor
ikut menentukan tanggal surat ini ditulis, yang terpenting di antara semua
faktor tersebut tampaknya ialah pertikaian Yahudi-Romawi yang terjadisesudah
tahun 68 M serta dihancurkan Bait Allah pada tahun 70 M. memang petingkaian,
bait Allah dan dihancurkan Yerusalem tidak disebut di dalam surat ini. Oleh
karena itu muncul dugaan bahwasurat ini di tulis sebelum tahun 68 M atau
sesudah tahun 80 M. Sebaliknya, canonFarrar, Cambridge Greek Testament ( sesudah ini disingkat CGT), mewakili
berbagai pandangan abad kesembilan belas, dan Gleason L. Archer didalam bukunya
the Epistle to the Hebrews: A study
manual, dua-duanya mengusulkan tanggal penulisan di antara tahun 64 M dan
68 M. Archer kemudian mempersempit lagi jangka ini menjadi tahun 65 atau 66 M
sebagai tahun yangpaling masuk akal, sesuai dengan bukti-bukti dari dalam dan
dari luar surat. Semua pandangan yang dikemukakan mengenai tanggal penulisan
menekankan pentingnya soal tidak tercantumnya dalam surat tersebut rangkaian
peristiwa yang terjadi di Yerusalem pada dasarwarsa keenam abad pertama.
Surat Ibrani ini
ditulis beberapa waktu sesudah generasi pertama pewartaan Kristen. Beberapa
penafsir memahami hal itu dengan mengacu pada ibadat kuil Yahudi masa itu,
karena mempergunakan waktu sekarang dalam melukiskan kurban-kurban Yahudi.
Surat Ibrani tidak menyebuh tentang kenisah Herodes atau upacaranya. Kenisah
itu dihancurkan oleh pasukan Roma tahun 70 M dan tidak ada bukti berdasarkan
ini bahwa Surat Ibrani ditulis sebelum atau sesudah penghancuran.John Arthur Thomas Robinson dalam bukunya yang
berjudul "Redating the New Testament" menjelaskan bahwa surat Ibrani ditulis sebelum tahun 100
Masehi, Robinson menyakini surat ini ditulis pada tahun 67 M. Sedangkan Fonck, Leopold mengungkapkan dalam bukunya yang berujudl
“Epistle to the Hebrews” menjelaskan bahwa penggunaan istilah-istilah dari Kemah Suci dalam kitab ini
memberikan tarikh penulisannya sebelum kehancuran Bait Suci pada tahun 70 M,
karena jika penulis tahu mengenai kehancuran Yerusalem dan Bait Suci pasti akan
mempengaruhi perkembangan argumennya. Jadi, tarikh penulisan kitab ini
diperkirakan adalah sekitar pertengahan kedua tahun 63, atau permulaan tahun
64.
Dari ulasan yang telah dipaparakan oleh penulis di atas,
maka penulis mengambil suatu simpulan bahwa tahun kepemulisan dari surat Ibrani
adalah pada tahu 64 – 70. Mengapa pada tahun ini, hal ini dikarenakan bahwa situasi
orang – orang Kristen Yahudi yang mengalami penyiksaan dan runtuhnya Bait Sucilah yang menjadi suatu
patron bagi penulis untuk menyatakan bahwa ini ditulis pada waktu itu.
Tujuan Penulis
Kitab Ibrani
Tujuan utama surat ini ialah memberikan informasi kepada
orang-orang Kristen yang kecil hati dan juga memberi mereka semangat, dan
mendukung kedua pendekatan tersebut dengan memanfaatkan sejumlah contoh dari
kristus dan dari orang-orang yang telah hidup berhasil oleh iman. Sebagai inti
dari semua ini penulis menempatkan kekekalan (karena itu tidak berubah) dari
imamat kristus “menurut cara Melkizedek” (pasal 7).
Dalam bukunya yang
berjudul Superioritas Kristus dalam Surat
Ibrani: Mengungkap Surat Ibrani, menjelaskan bahwa ada beberapa maksud
penulisan secara terkait sebagai berikut:
Pertama, peringatan
terhadap kemurtadan akibat Yudaisme pada umumnya surat Ibrani merupakan
peringatan terhadap kemurtadan akibat Yudaisme. Orang Yahudi menilai bahwa
rekan sebangsanya yang telah menjadi Kristen tidak peduli lagi terhadap ajaran
Yudaisme serta pola ibadah Perjanjian Lama. Akibatnya mereka mengucilkan orang
Yahudi Kristen. Surat Ibrani ditulis supaya orang Yahudi Kristen dikuatkan
imannya dalam menghadapi ajaran Yudaisme. Karena murtad yang sebenarnya bukan
menyangkali ajaran Yudaisme tetapi justru menyangkal kebenaran Firman Tuhan
Ibrani 6: dan 10:29).
Kedua,
larangan membatasi Misi seluruh Dunia orang Yahudi Kristen merasakan
perlindungan di tengah rakan sebangsanya meskipun harus mengalami tantangan
dari rekan sebangsanya yang memaksakan ajaran Yudaisme. Sebab waktu itu agama Kristen belum mendapat persetujuan dari pemerintahan
Romawi. Pemerintah Romawi menggangap bahwa agama Kristen merupakan bentuk agama
yang mewarisi tradisi dan nilai – nilai agama
Yahudi. Di samping itu, bentuk ibadah dalam PL menarik perhatian orang Yahudi Kristen. Surat Ibrani
ditulis dengan maksud untuk mengingatkan bahwa bagian terpenting dalam iman Kristiani adalah memberitakan
keselamatan kepada semua suku bangsa. Dan juga pada zamanya lagi untuk
mengingat bentuk pola ibadah Perjanjian Lama, sebab Kristus telah mendirikan
sebuah dasar untuk bentuk ibadah baru.
Ketiga,
sebagai kesaksian mengenai karakter Kristen jumlah orang percaya setiap harinya
semakin bertambah. Bertambahnya jumlah penganut agama Kristen sangat menarik
perhatian banyak orang. Pesatnya pertumbuhan orang Kristen menimbulkan
pertanyaan bagi penganut agama di luar Kristen.
Keempat,
mencegah Pengajaran Bidat Surat Ibrani ditulis untuk mencegah ajaran Sasat
Gnostik Yahudi dan bidat Kolose yang merongrong ajaran Kristen. Kekristenan
diperhadapkan ajran berbagai aturan tentang makanan dan minuman serta ajaran
Yudaisme dari bidat gnostik Yahudi. Di samping itu, bidat Kolose mengajarkan
malaikat adalah perantaraan Allah dan manusia, serta memberikan ajaran bentuk
bidah kepada malaikat. Penulis surat Ibrani menyangah ajaran Gnostik Yahudi dan
bidat Kolese dengan argumentasi superior Kristus dibandingkan para malaikat. Dari beberapa tujuan
penulisan surat yang telah dikemukakan ini, dapat diperoleh gambaran maksud
dari Ibrani 10:26, bahwa mereka tidak benar-benar murtad, namun hanya merupakan
suatu peringatan.
Penerima Surat Ibrani
Surat Ibrani ini
dialamatkan kepada suatu jemaat generasi yang kedua, yang terancam oleh penghambatan
dan cenderung mengundurkan diri dan menjadi tawar hati terhadap kepercayaan
mereka. Penulis surat Ibrani memperingatkan
para pembaca akan bahaya sikap mengundurkan diri ini dan menasihatkan
mereka supaya tetap bertekun. Dalam situasi jemaat yang menerima surat ini,
maka yang penting ialah “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan
kepada kita dan menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah. Sebuah buku yang berjudul Kamus Alkitab menyebutkan
bahwa penulis surat Ibrani mengalamatkan tulisannya kepada jemaat “Korintus”,
terutama anggota-anggota Yahudi
kristennya, antara tahun 52 dan 54 M. Surat yang lebih berbentuk khotbah ini
diduga ditulis untuk memperlihatkan keunggulan dan keunikan Kristus, serta
superioritas iman Kristen dibanding dengan “Yudaisme Musa”.
Surat ini ditulis
kepada suatu jemaat yang sudah lama berdiri (5:12) dan pernah mengalami
penganiayaan (10:32-34). Surat ini ditulis untuk suatu jemaat yang mempunyai
sejarah yang besar dengan para Guru dan pemimpinnya yang besar (13:7). Surat
ini dialamatkan kepada suatu jemaat yang tidak didirikan oleh para Rasul secara
langsung. Alamat surat ini adalah sebuah jemaat yang terkenal karena kemurahan
hati dan keterbukaan warganyya (6:10). Surat Ibrani ini dituliskan kepada orang
Italia, jika demikian maka kepenulisan surat Ibrani ini ditujukan kepada warga
Roma.
Surat ini ditujukan
kepada orang-orang Kristen Yahudi yang tinggal di Yerusalem dan sekitarnya. Dan
juga ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi yang tinggal di Aleksandria.
Pendangan ini cenderung di anut oleh mereka yang mendukung anggapan adanya
warna Aleksandria yang kuat di dalam surat ini.Surat ini ditujukan bagi sebuah
jemaat kristen Yahudi yang beribadah di Roma dan berada dalam pencobaan dan
penganiayaan yang berat. Pandangan “jemaat di Roma” juga cenderung menganut
teori “satujemaat”, yakni bahwa para penerima pertama surat ini adalah sebuah
jemaat kecil, atau suatu “persekutuan rumah tangga” di Roma. Jemaat yang dituju
oleh surat Ibrani merupakan jemaat yang kecil, tetapi mereka bisa berada dimana
saja diwilayah kerajaan Romawi, dan tidak harus di Roma.
Hasil dari ulasan
di atas, maka penulis mengambil suatu simpulan bahwa penerima dari surat ini
adalah orang-orang Kristen, hal ini dikarenakan bahwa banyak sapaan yang
digunakan penulis untuk menyapa dalam surat ini, contohnya adalah “orang
kudus”, “orang yang telah menerima keselamatan”, “orang beriman”. Dari hal ini
membuktikan bahwa penerima surat ini yang pasti adalah orang – orang Kristen
yang berada di wilayah Roma , dan surat ini juga dialamat juga kepada orang
Kristen Yahudi maupun orang Kristen non Yahudi.
Tema ajaran Surat Ibrani
Tema ajaran dalam Surat Ibrani ini adalah tentang Superioritas Kristus yang
dibagai menjadi tiga bagian yaitu sebagai berikut:
Pertama,
oknum Kristus, yang dimaksudakan dengan oknum Kristus adalah 1). Kristus lebih
unggul daripada nabi – nabi (Ibr. 1:1). Nabi- nabi yang dimaksudkan adalah
pernyataan Perjanjian Lama seutuhnya. 2).Kristus lebih unggul dari pada
malikat-malaikat (Ibr. 1:5, 2:18). 3). Kristus lebih unggul daripada Musa (Ibr.
3:1-19). 4). Kristus lebih unggul daripada Yosua (Ibr. 4:1-13).
Kedua,
Pekerjaan Kristus. Hal ini bukan berarti Kristus bekerja seperti manusia pada
umumnya akan tetapi hal yang dimaksudkan adalah tugas Kritus sebagai Imam,
yaitu sebagai beirkut: 1). Keimaman-Nya ditetapkan Allah (Ibr. 4:14). 2).
Keimaman-Nya sesuai dengan peraturan Melkisedek (Ibr. 5:11, 7: 28), 3).
Pekerjaan Kristus dipusatkan dalam penebusan yang sempurna (Ibr. 9:11), Imam
besar mempersembahkan korban yang (diriNya sendiri), dan karena korban
persembahan tersebut dibuat ‘melalui Roh kekekalan’ maka korban persembahan itu
lebih unggul daripada korban bakaran Lewi
(Ibr 9:11-15). Betapa mutlaknya penting kematian Kristus ditunjukkan
dengan gambar wasiat yg sah (Ibr 9:16-22). Korban persembahan-Nya yg sempurna
menyatakan cacat cela dari sistem imam-imam (Ibr 10:1-10). Pelayanan-Nya
sempurna, tidak seperti pelayanan Harun (Ibr 10:11-18).
Ketiga, penerapan praktis tema ajaran. Ada dua hal ajaran yang
disampaikan dalam surat ini yaitu : 1). Nasehat untuk tetap berpegang teguh dan
2). Suatu peringatan (wanti - wanti). Perigatan ini dibagi menjadi beberapa
bagian yaitu: a). peringatan serius melawan kemurtadan (Ibr. 10:26-31). b). dorongan
berdasarkan pengalaman-pengalaman masa lalu siding pembaca. 3). Saksi – saksi
iman. Itulah tujuan penulisan surat ini.
Alasan Penulisan Surat Ini
Alasan penulisan
surat ini. Rumusan klasik mengenai alasan surat ini ditulis adalah sebagai
berikut. Orang-orang Kristen Yahudi, apakah hanya satu jemaat ataukah dalam
jumlah yang lebih banyak dan tersebar secara geografis, berada dalam bahaya
akan meninggalkan kristus dan kembali ke Musa. Kemurtadan ini merupakan bahaya
yang sudah dekat (2:1) berlandaskan pada ketidakpercayaan (3:12). Perilaku
mengisyratkan adanya kemungkinan tersebut (5:13, 14). Mengabaikan ibadah umum
(10:25), kelemahan di dalam berdoa (12:12), ketidakmurtapan tertentu di dalam
melaksanakan dotrin (13:9), penolakan untuk mengajar orang lain sebagaimana
seharusnya dilakukan orang yang sudah dewasa imannya (5:12), dan mengabaikan
Alkitab (2:1) merupakan gejala-gejala lainnya dari kelemahan rohani. Bahayanya
adalah bahwa orang-orang yang merupakan “saudara-saudara yang kudus, yang
mendapat bagian dalam pengadilan surgawi (3:1) bisa “murtad lagi” (6:6) atau
“murtad dari Allah yang hidup” (3:12).
Untuk mencegah perkembangan kearah itu, penulis surat
ibrani menekankan keunggulan kristus di dalam serangkaian kontras dengan para
Malaikat, Musa, Harun, Melkizedek, dan sistem dari kitab Imamat. Tujuan dari
semua kontras tersebut ialah menunjukkan keunggulan kristus dari Yudaisme.
Chiri Khas Surat Ibrani
Surat Ibrani sangat dipengaruhi oleh Filo orang
Aleksandria. Namun sebenarnya pendekataanya tidak seperti Filo, memiliki sifat
historis dan simbolis. Di sini perlu diperhatikan adanya perbedaan yang alegori
dan yang simbolis. Dalam pendekatan yang simbolis penulis melihat dua arti,
yang satu apa yang benar-benar terjadi “historis” dan yang kedua artinya
diperluas menjadi simbol “lambang”. Penulis Surat Ibrani memandang PL sebagai
historis, tidak seperti alegori. Untuk Ibrani 10:26, memang berisi suatu hal yang belum
benar-benar terjadi. Ini adalah suatu peringatan keras kepada mereka yang
sangat mungkin meninggalkan ajaran kebenaran.
Struktur dan Genre Surat Ibrani
Secara terminologi, struktur dalam kepenulisan Surat atau Kitab
adalah susunan isi, yang mana membahas berbagai pokok ajaran dan tema-tema tertentu. Menurut
kamus umum, Struktur adalah pengaturan
dan pengorganisasian unsur-unsur yang saling terkait dalam suatu objek material
atau sistem, atau
objek atau sistem yang terorganisasi. Sementara itu, yang dimaksud dengan genre adalah serapan untuk ragam, yaitu pembagian suatu bentuk seni atau tutur tertentu
menurut kriteria yang sesuai untuk bentuk tersebut. Atau dengan kata lain,
genre adalah jenis sastra, yang mana ketika diterapkan pada penulisan Surat
Ibrani, menunjuk pada jenis sastra dalam kepenulisan Surat tersebut. Secara
umum, genre merupakan sastra Ibrani dalam Perjanjian Lama, yang terdiri dari Historis, Hukum, Nubuat, Sapiential
dan Puisi. Jika dilihat dari jenis Surat Ibrani, maka genrenya masuk dalam
kategori hukum.
Dalam
Surat Ibrani, ada banyak pembahasan mengenai struktur dan isi surat ini. Namun
secara umum strukturnya adalah sbb:
Pertama,
Ibrani
1:1-4:13: Bagian ini berbicara mengenai
Kristus sebagai penyataan Allah yang paling sempurna. Di sini disebutkan bahwa
mengenai Firman Allah yang disampaikan melalui Yesus Kristus lebih baik jika
dibandingkan dengan Firman Allah yang disampaikan melalui melalui Malaekat dan
Musa.
Kedua, Ibrani
4:14-10:31: Pada bagian ini, kematian Kristus dimaknai pengorbanan
paling sempurna yang menghapus dosa manusia untuk selama-lamanya. Untuk sampai
kepada kesimpulan ini, penulis mengajak pembacanya untuk membandingkan
pengorbanan yang dilakukan Yesus dan peran imam dalam tradisi Yahudi yang
identik dengan kekudusan dan persembahan kurban. Penulis tampaknya mau
menegaskan keistimewaan pengorbanan Kristus, karena sebagai imam Kristus
sendiri mengorbankan dirinya sehingga tidak ada lagi medium "korban"
untuk menghubungkan Allah dan manusia.
Ketiga, Ibrani
10:32-12:29: menyatakan bahwa pengharapan atas korban penghapusan
dosa yang dilakukan oleh Yesus menjadikan manusia layak memasuki dunia surgawi.[2]
Terakhir, Ibrani
13:1-25: berisi nasihat dan penutup. Jadi
kesemuanya mengandung ajaran tentang cara atau gaya kehidupan orang-orang yang
sudah memperoleh keselamatan. Dengan memperhatikan struktur dan genre Surat
Ibrani, maka makna frase dalam pasal 10:26 berkaitan dengan hukum yang
mewajibkan orang-orang yang sudah memperoleh keselamatan menjunjung tinggi
keselamatan melalui karya dan pengorbanan Kristus.
Kesimpulan Analisa Historis
Kesimpulan dari analisa
hostoris adalah: penerima surat Ibrani terdiri dari berbagai suku bangsa. Pada
saat yang bersamaan mereka sedang mengalami penganiayaan yang hebat, sehingga
sangat mungkin mereka berhenti mengikuti ajaran kebenaran. Ada juga di antara
jemaat-jemaat Kristen tersebut yang hanya mengaku Kristen secara lahiriah,
mereka inilah yang pada akhirnya tidak memperoleh korban penghapusan dosa
sehingga tidak diselamatkan. Oleh karena jemaat sejati (penerima surat)
diperingatkan supaya mereka tetap mengikuti jalan kebenaran. Tidak ada di
antara mereka yang dinyatakan telah murtad, namun mereka diberikan peringatan
supaya tidak meninggalkan ajaran yang benar.
Analisa
Teologis
Isu yang cukup
penting dalam pembahasan ayat ini adalah tentang kemungkinan adanya fakta kemurtadan
atau kemungkinan kehilangan keselamatan bagi mereka yang pernah memperoleh
keselamatan. Sebagaimana yang telah disinggung pada bab sebelumnya, bahwa
setidaknya ada dua pandangan teologis tentang kemurtadan. Penganut Armenianisme
berpendapat bahwa orang percaya bisa kehilangan keselamatan. Sementara
pandangan yang berbeda dimiliki oleh penganut paham calvinisme, bahwa orang
yang sudah percaya tidka mungkin kehilangan keselamatan. Jika kedua pandangan
ini diterapkan pada Ibrani 10:26 maka ada beragam pandangan yang muncul.
Pandangan Armenian menganggap bahwa orang percaya penerima surat Ibrani bisa
saja murtad setelah mereka menerima keselamatan dari Tuhan. Pandangan Calvinisme
berkata bahwa tidak mungkin orang yang sudah selamat kehilangan keselamatan.
Yang ada dalam Ibrani 10:26 itu adalah mereka yang telah diajarkan jalan
keselamatan tidak mau menerima keselamatan itu, sehingga mereka tidak mungkin
selamat.
Dalam Perjanjian Lama
Dalam
Perjanjian Lama, ditemukan fakta bahwa mereka-mereka yang tidak taat pada Hukum
Taurat tidak memperoleh keselamatan. Itulah yang dicontohkan oleh penulis
Ibrani dalam Ibrani 10:28-30 bagaimana mereka akan menerima hukuman apabila
tidak melaksanakan perintah dan larangan dalam Taurat Musa. Akan tetapi
sesungguhnya Allah belum selesai berkarya, Ia akan memelihara umat-Nya supaya
pada akhirnya memperoleh keselamatan melalui kematian Kristus. Hill dan Walton
berpendapat bahwa Perjanjian Lama memberikan dasar bagi Konsepesi kepastian
karya Allah dalam Perjanjian Baru: ”Perjanjian Lama meninggalkan kita dengan
pengharapan. Segala sesuatu berada di bawah penguasaan-Nya yang mahatinggi.
Rencana-Nya tidak digagalkan dan takkan pernah digagalkan.”
Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh Kaiser, bahwa janji keselamatan yang
diberikan kepada Bapa Leluhur mulai dari Abramahm, Ishak, Yakb, Musa dan Daud,
merupakan janji yang digenapi secara berkesinangmbungan, yang mencapai
puncaknya dalam karya keselamatan dalam Yesus Kristus.
Pandangan
keselamatan dalam Perjanjian Lama tidak terlepas dari kosep keselamatan dalam
Perjanjian Baru. Oleh karenannya dapat dikatakan bahwa Allah terus berkarya
secara sama baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Allah
tidak mungkin gagal. Ia senantiasa memberikan petunjuk supaya umat datang
kepada-Nya untuk memperoleh keselamatan. Jika menolaknya, mereka tidak mungkin
memeproleh keselamatan dari tempat lain. Demikian juga penerima Surat Ibrani,
mereka yang menetahui kebenaran bahwa hanya Yesus satu-satunya Juruselamat
untuk pengampunan dosa mereka, namun terus-menerus menolak anugerah itu, pada
akhirnya mereka tidak diselamatkan.
Dalam Perjanjian Baru
Dalam konsep
yang bersifat Teologis, Perjanjian Baru mengemukakan bahwa orang-orang Kristen
sejati tidak mungkin beralih dari keselamatan yang telah mereka peroleh. Ada
Roh Kudus yang menjaga hati mereka. Dalam Surat-surat Paulus, ia mengajarkan
bahwa orang yang sudah memperoleh keselamatan tidak mungkin beralih. Keselamatan
disediakan sebagai anugerah dari Allah yang adil, yang berbuat dalam rahmat
kepada pendosa yang tidak layak. Pendosa yang oleh anugerah iman, percaya
kepada keadilan Kristus yg sudah menebus dia dengan kematian-Nya dan
membenarkan dia oleh kebangkitan-Nya. Oleh Roh yang sama sarana keselamatan
berikutnya memampukan dia berjalan dalam kehidupan yang baru, sambil makin
mematikan perbuatan-perbuatan daging (Rom 8:13) sampai akhirnya ia dijadikan
sama dengan Kristus (Rom 8:29) dan keselamatannya digenapi dalam kemuliaan (Fil
3:21).
Dalam Efesus
1:3-14 Paulus menjelaskan karya Allah Tritunggal, di mana secara khusus Roh
Kudus memateraikan orang-orang kudus sebagai jaminan bahwa kita adalah milik
Allah samapai selama-lamanya. Dalam Surat Injil Yohanes, Tuhan Yesus telah
menyatakan bahwa semua yang ada di dalam tangan Bapa tidak mungkin lepas
dari-Nya (band. Yoh. 10:28-29). Roma 8:38-39 menyatakan dengan sungguh tentang
kepastian keselamatan: ”Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik
malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun
yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah,
ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih
Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Secara
teologis, konsepsi ini berulang kali dikemukakan dalam Surat Ibrani. Pada pasal
sebelumnya (8:4-6) dikemukakan tentang mereka yang pernah mengecap karunia
rohani, namun murtad. Ayat-ayat ini sepertinya mendukung pandangan yang
menyatakan bahwa keselamatan bisa hilang apabila murtad atau jika dengan
sengaja berbuat dosa. Peter Wongso mengemukakan bahwa ada yang menganggap ayat
ini berbicar atentang orang Kristen benaran yang memiliki kemungkinan murtad:
Ada juga yang meninjau dari latar belakang sejarah dengan menganggap tidak
lama kemudian Yeursalem akan mengalami penganiyaan yang besar, umat Kristen
yang harus tahan terhadap penganiaayaan dapat murtad kepada Tuhan, maka
sebelumnya diperingatkan.
Dalam Tafsirna Alkitab Masa Kini juga dikemukakan bahwa
sengaja berbuat dosa dalam hal ini
berhubungan dengan pernyataan,”mereka yang pernah diterangi hatinya”
atau dengan kata lain menentang Allah setelah menerima kebenaran itu.
Dalam Surat Ibrani, diperoleh gambaran bahwa ada kemunkinan kemurtadan dalam
pengertian adanya kemungkinan kehilangan keselamatan.
Wesley Brill
dalam bukunya ”Dasar yang Teguh”
mengemukakan adanya kemungkinan seseorang yang sudah memperoleh keselamatan
untuk murtad, sehingga kehilangan keselamatan seperti tulisannya beriut ini:
Ada beberapa orang yang memegang jabatan penting di dalam jemaat Kristus
yang menjadi murtad. Mereka tidak lagi percaya akan asas Alkitab dan Firman
Tuhan. Ada juga orang-orang yang dengan sengaja berbalik dari Yesus Kristus.
Oleh sebab itu Tuhan memberikan beberapa ayat peringatan di dalam Alkitab,
bukan supaya kita takut sehingga putus asa, tetapi untuk menjaga agar kita
sampai kepada kehendak Allah, dan supaya kita tetap bertahan dan berusaha
sampai kepada kesudahan. Kita patut menyelidiki diri kita apakah kita tetap
tegak di dalam iman. Untuk setiap ayat peringatan ada lima ayat yang menyatakan
jaminan keselamatan orang yang percaya.
Selanjutnya ia memberikan pernyataan bahwa orang-orang
Kristen bisa kehilangan keselamatan dengan beberapa bukti ayat-ayat dari
Alkitab:
Apakah kita diselamatkan oleh sebab kita berjaga-jaga dan bertekun dan
berusaha? Tidak! Tetapi hal-hal itu menyatakan hubungan kita dengan Kristus,
menyatakan kasih kita dan ketaatan kita kepada Kristus. Sebaliknya, apakah kita
diselamatkan oleh iman jikalau kita tetap dalam dosa-dosa kita? Tidak! Lihatlah
1 Korintus 6:9,10; Wahyu 22:15 dan Galatia 5:19-21.
Hal ini juga ditegaskannya dalam bukunya yang lain:
”Orang yang demikian telah murtad dari Kristus, mereka tidak boleh dikatakan
memiliki pengetahuan yang dangkal, melainkan orang yang sungguh-sungguh orang
Kristen.” Dalam
hal ini Brill mengajarkan bahwa apabila kita tidak mempertahankan keselamatan,
apalagi dengan sengaja berbuat dosa, maka kita akan kehilangan keselamatan.
David Hegelberg juga menafsirkan bahwa ayat ini merupakan bagian dari peringatan
keras, yang berlaku bagi orang-orang yang menolak penebusan.
Di sini ia berpandangan bahwa orang Kristen memiliki kemungkinan untuk murtad,
yang berarti bisa kehilangan keselamatan. The Epistle to Hebrews juga
mengemukakan tafsiran bahwa bagi jemaat Kristen ada dua kemungkinan jalan
hidup, yaitu pengharapan dan hukuman.
Yang ia maksudkan hukuman adalah kehilangan keselamatan. Ia mengaitkan ayat ini
dengan penolakan terhadap hukum musa dalam ayat selanjutnya. Sekalipun bangsa
Israel merupakan bangsa pilihan Allah, namun hanya mereka yang melakukan Hukum
Musa yang akan diselamatkan.
Pandangan lain
mengemukakan bahwa ini bukanlah soal kehilangan keselamtan bagi orang-orang
Kristen sungguhan. Ini adalah peringatan bagi mereka yang sudah mengetahui
dengan sungguh-sungguh kebenaran, namun tidak mau menerima kebenaran itu dan
dengan terus-menerus sengaja berbuat dosa. Tafsiran dari Wiersbe memberikan
indikasi bahwa mereka yang murtad ini adalah orang-orang Kristen benaran, yang
memang sudah menerima keselamatan.
Mereka terus-menerus mempertahankan perbuatan baik, atau dengan kata lain mulai
hanyut atau menyimpang dari firman Allah. Dengan demikian menghina Tuhan. Selanjutnya
Wiersbe mengemukakan bahwa hukuman dari anak-anak Tuhan ini bukan masuk neraka
melainkan konsekwensi dosa, disiplin dan ganjaran. Ia mencontohkan akibat dosa
yang dilakukan oleh Daud.
Daud tidak masuk neraka melainkan menerima ganjaran dari Allah. Akan tetapi ini
tidak berbicara mengenai kehilangan keselamatan. Di sini dia maksudkan bahwa
ketiadaan korban penghapus dosa untuk yang sengaja berbuat dosa adalah tidak
adanya kesempatan untuk memakai nama itu dalam pelayanan atau mengklaim korban
itu untuk kegiatan-kegiatan rohani.
Pada sisi
lain, lebih banyak penafsir yang berpendapat bahwa Ibrani 10:26 tidak
membicarakan tentang kehilangan keselamatan. Ini adalah peringatan, yang
merupakan kecenderungan orang-orang Kristen pada masa itu. Hal ini tidak
sunguh-sungguh telah terjadi, melainkan suatu peringatan keras. Itulah sebabnya
dipakai kata ”jika” suatu pengandaian. Pasal-pasal peringatan dalam Ibrani
seolah-olah menyarankan bahwa orang Kristen masih tetap bebas untuk kembali
kepada cara hidup mereka yang lama: ”Karena kita telah beroleh bagian di dalam
Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan
iman kita yang semula” (Ibr 3:14). ”Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya”
tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat” (Ibr
6:4- 6). Akan
tetapi belum tentu ini berbicara tentang kemurtadan dari orang yang sudah lahir
baru. Istilah lahir baru menunjuk pada pengertian memperanakkan, mengandung
atau melahirkan. Istilah
lahir baru ini muncul dalam Perjanjian Baru Matius 19: 28 dan Titus 3:5.
Ayat-ayat ini membicarakan tentang kehidupan yang baik, yang pada akhirnya
mereka tetap selamat. Dalam Perjanjian Baru lainnya, 1 Yohanes 6:16 mengemukakan
tentang adanya dosa yang mendatangkan maut dan adanya dosa yang tidak
mendatangkan maut. Dalam ayat ini Yohanes menyatakan bahwa yang perlu diperingatkan
adalah perbuatan dosa yang mendatangkan maut. Sedangkan untuk mereka yang
melakukan dosa yang mendatankan maut tidak ada pendapat, artinya dibiarkan.
Sementara itu Penulis Ibrani memberikan peringatan, yang menunjukkan bahwa
mereka adalah orang-orang yang sudah lahir baru.
Jika surat ini
dikirim kepada orang Yahudi yang telah menggabungkan diri dengan gereja
Kristen, tetapi tidak mau menyerahkan diri mereka kepada Kristus, maka
pengajarannya jelas: terus atau tinggalkan! Tetapi, jika surat ini ditulis
kepada orang Kristen, surat ini tampaknya menegaskan bahwa sekalipun telah
menjadi Kristen kita tetap diberi kesempatan untuk memilih keluar lagi. Yang
terakhir ini sukar diterima sebagai ajaran Ibrani, sebab bertentangan dengan
kata-kata Yesus sendiri (seperti dalam Yoh 10:29), berlawanan dengan berbagai
analogi keselamatan (dapatkah seorang Kristen dibatalkan kelahiran kembalinya?)
dan menentang kuasa Tuhan yang mampu menjaga keselamatan domba- domba-Nya.
Gareth Lee Cockerill menafsirkan bahwa ayat ini merupakan suatu contoh yang
menjadi peringatan kepada penerima surat. Jadi dalam hal ini tidak ada
kehilangan keselamatan bagi jemaat yang telah dilahirkan kembali. Dalam
Perjanjian Baru dengan tegas menyatakan tidak ada kehilangan keselamatan, yang
ada adalah penghukuman bagi mereka yang belum percaya.
Secara
teologis, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian, diperoleh kesimpulan
bahwa Ibrani 10:26 merupakan peringatan keras kepada jemaat yang cenderung
meninggalkan persekutuan Kristen. Mereka yang dinyatakan pada akhirnya tidak
memperoleh korban penghapusan dosa adalah mereka yang hanya menerima Yesus
secara lahiriah. Dalam hal ini, bukan orang yang sudah ada dalam Kristus (atau
jemaat Kristen) yang akan binasa, melainkan mereka yang hanya menerima Yesus
secara lahiriah, belum sungguh-sungguh bertobat, malahan dengan sengaja berbuat
dosa, mereka inilah yang tidak mungkin diselamatkan. Dalam bagian terakhir
perikop itu dikemukakan ” Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri
dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.”
Oleh: Dewi Hia & Hasrat Nazara
Henhry
H.Halley, Penuntun Ke dalam Perjanjian
Baru, (Surabaya: YAKIN, 1979), 269.
Kata e`kousi,wj dalam Gingrich Greek Lexicon.
Bible Works, ver. 6.0. Software Alkitab,
Lexicon Bible, [CD ROM].
Kata a`marta,nw dalam
Louw – Nida
Greek Lexicon. Bible Works, ver. 6.0. Software
Alkitab, Lexicon Bible, [CD
ROM].