Senin, 05 September 2022

PENYEMBAHAN DALAM LITURGI IBADAH

 

Penyembahan dalam Liturgi Ibadah

 

Ketika masih berstatus sebagai pelajar Sekolah Teologi, saya sering diajak untuk mengiringi musik dalam beberapa persekutuan doa. Pada suatu kesempatan saya diajak mengiringi musik dalam persekutuan doa para lansia (lanjut usia). Setelah selesai ibadah, seorang kakek mendekati saya dan menanyakan tempat saya melayani. Dengan jujur saya memberitahukan bahwa saya melayani di salah satu denominasi Gereja Pentakosta. Setelah mendengar bahwa saya melayani di Gereja tersebut, air muka kakek ini terlihat berubah. Kemudian ia menguraikan dengan berbagai argumen bahwa tidak dibenarkan melakukan tepuk tangan dalam Gereja, terutama pada saat ibadah. Pada tahun yang sama seorang teman Sekolah Teologi mengatakan kepada saya bahwa ia sangat tidak tertarik mengikuti ibadah Protestan, karena hal itu hanya akan meneyebabkan dia tertidur.

Cerita di atas merupakan representasi dari kebanyakan cara pandang orang-orang Kristen pada masa kini. Pada satu sisi ada Gereja-gereja yang begitu anti dengan perubahan dan perkembangan liturgi Gereja. Seolah mereka sudah terpola dengan liturgi yang diimpor dari Eropa. Mereka anti dengan tepuk tangan, mereka merasa risih dengan sorak-sorak dan tepuk tangan. Mereka lebih merasa nyaman dengan suasana yang hening. Pada sisi lain Gereja-gereja Kharismatik berniat melepaskan diri dari liturgi ibadah yang menurut mereka sangat kaku. Bersamaan dengan lahirnya Gereja Pentakosta, mereka mencoba mengekspresikan penyembahan dengan berbagai-bagai manifestasi. Cirikhas Gereja Pentakosta atau Kharismatik adalah adanya tepuk tangan, nyanyian sorak-sorai, dan menifestasi lain seperti bahasa roh, tangisan, nubuatan dan sebagainya.

Orang-orang Kharismatik menganggap liturgi Ibadah Katolik dan Protestan sebagai liturgi ibadah yang kaku, kuno dan tidak bergairah. Sedangkan kebanyakan anggota jemaat dari Gereja-gereja Katolik dan Protestan menganggap liturgi ibadah gereja Kharismatik sebagai ibadah yang kontemporer, tidak sopan dan cenderung kacau. Silang pendapat dan perdebatan megenai liturgi dari dua kubu ini menjadi luas. Akhirnya isu liturgi itu sendiri menjadi lebih penting dari pada hakikat penyembahan itu sendiri. Ada hal-hal relatif yang dimutlakkan, sedangkan hal-hal mutlak diabaikan. Ibadah dibahas sedemikian panjang, tetapi hakikat penyembahan hampir tidak pernah disinggung.        

Dalam buku ini, penulis mencoba menguraikan secara sederhana bagaimana liturgi berkaitan dengan penyembahan, berangkat dari kebenaran Kitab Suci dan diterapkan dalam kebaktian Gerejawi. Pemahaman akan liturgi ibadah akan mempengaruhi cara dan hakikat penyembahan kita. Jangan sampai kita lupa menyembah Allah hanya karena terlalu sibuk membahas liturgi, atau kita terlalu ekspresif dalam ibadah tetapi mengabaikan liturgi.

 

1.      Liturgi Ibadah dalam Alkitab

Istilah “liturgi” berasal dari bahasa Yunani “leitourgia” yang bermakna sebagai aktifitas ritual pelayanan para imam (Luk. 1:23); dan juga berarti kegiatan pelayanan Kristen.[1] Dalam Kamus Istilah Teologia yang disusun oleh Soedarmo, liturgi adalah tata kebaktian.[2] Pada masa Perjanjian Baru, istilah ini tidak begitu populer. Justru istilah yang dipakai lebih banyak mengacu pada istilah Perjanjian Lama yaitu Upacara atau Ritual ibadah. Istilah Liturgi kemudian berkembang seiring perkembangan Gereja, dengan mencoba memformulasikan susunan acara dalam ibadah atau kebaktian. Maka Gereja-gereja Protestan di Indonesai memahami liturgi sebagai susunan acara kegiatan ibadah. Di kalangan Gereja-gereja Lutheran, liturgi dikenal dengan sebutan “Agenda.”

Dalam Perjanjian Lama, liturgi telah dilaksanakan dan biasanya dikenal dengan istilah upacara keagamaan. Isu utamanya sebenaranya bukan susunan atau urutan-urutan kegiatannya, melainkan bentuk tanggapan umat terhadap penyingkapan Allah. Dalam kegiatan menanggapi anugerah dan penyingkapan diri Allah, umat Israel dituntun untuk melakukannya dengan cara yang sesuai dengan kehendak Allah. Umat Israel pada zaman Perjanjian Lama tidak boleh dengan sembarangan menghadap ke hadirat Allah. Untuk menegakkan kekudusan Allah dalam penyembahan, maka Allah sendiri memberikan petunjuk tantang liturgi yang patut dilaksanakan. Dalam kitab Keluaran dan Imamat ditemukan berbagai-bagai aturan dan tata cara ibadah Israel sesuai dengan petunjuk Tuhan.

Kendati liturgi ibadah tidak lebih penting dari hakikat penyembahan itu, namun liturgi ibadah juga tidak boleh diabaikan. Tata cara penyembahan Israel ditentukan untuk menuntun mereka pada pengalaman akan kebenaran Allah. Allah sendiri mengatur dan menitahkan tata cara menyelenggarakan kebaktian seperti yang diungkapkan dalam Keluaran 20:22-26 (band. Ul. 30:16).

Menurut Dyrness, sedikitnya ada dua nilai yang terkandung dalam liturgi ibadah dalam Perjanjian Lama yaitu pertama, bahwa perilaku kita itu membantu untuk meneguhkan, dan mengingatkan kita akan iman dan tanggungjawab kita; kedua, juga menjadi sarana untuk mengingatkan umat akan realitas Allah.[3] Unsur utama dalam liturgi bukan pada cara lahiriahnya, melainkan sikap batiniah.

Dalam perjanjian Baru, beberapa tata cara ibadah yang terlalu menekankan lahiriah berangsur diminimalkan. Kemudian Tuhan Yesus menunjuk suatu cara yang lebih mengacu pada hal-hal batiniah yaitu “Menyembah dalam roh dan kebenaran.” Kemudian Paulus menekankan cara penyembahan melalui pembaharuan sikap. Namun demikian Paulus juga mencela tata cara ibadah yang tidak teratur, terutama dalam memanifestasikan karunia-karunia Roh Kudus. Secara prinsip, Paulus menekankan tata cara ibadah yang teratur: “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Kor. 14:40).

 

2.      Liturgi Ibadah Gerejawi

Meskipun Perjanjian Baru telah meniadakan tata cara lahiriah dalam liturgi ibadah Perjanjian Lama, namun Gereja masih memerlukan struktur ibadah dalam Gereja sebagai usaha untuk mewujudkan keteraturan. Jika tidak ada struktur atau susunan  ibadah, maka sangat besar kemungkinan terjadinya kekacauan. Tanpa susunan ibadah yang jelas, maka masing-masing orang akan melakukan penyembahan dengan cara yang tidak terstruktur. Dengan demikian maka dipastikan akan terjadi kekacauan. Kekacauan tidak mencerminkan sikap hormat kepada Allah, maka dipastikan bahwa tanpa penghormatan kepada Allah, penyembahan akan menjadi sia-sia.

Sesunguhnya liturgi ibadah dimaksudkan untuk melaksanakan ibadah dengan teratur. Keteraturan itu sendiri menunjukkan sikap hormat yang layak untuk Allah. Penekanannya bukan pada susunan acara itu melainkan sikap menghadap kepada Tuhan dan bersama-sama jemaat menyatakan korban syukur kepada Allah. Unsur terpenting dalam liturgi ibadah adalah iman, yang kemudian meluas dalam wujud kasih, korban syukur, dan segala hal yang berkenan kepada Allah.

Liturgi dalam ibadah Gerejawi membentuk pengalaman orang percaya akan kemuliaan dan keajaiban Allah. Bagi Olst, dua aspek yang terdapat dalam liturgi ibadah yaitu proklamasi dan ekspresi.[4] Pada satu sisi liturgi mengatur hubungan dengan penyataan Allah, kesaksian tampil ke muka dan proklamasi terjadi. Pada sisi yang lain, liturgi ibadah mengatur tanggapan atas Pribadi Allah dan panggilan-Nya. Melalui liturgika, orang percaya menyatakan tindakan penyerahan dirinya kepada Allah dan memuliakan nama-Nya. Kedua sisi ini tidak dapat dipisahkan. Susunan liturgi ibadah harus didasarkan pada dua sisi ini.

Meskipun pada hakikatnya liturgi ibadah berhubungan dengan penyelenggaraan penyembahan kepada Allah, dengan mencakup kedua sisi di atas (proklamasi dan ekspresi), namun gereja menginterpretasikan dan menerapkannya secara berbeda. Gereja Katolik mementingkan ekaristi dan perjamuan kudus dalam liturgi ibadah. Sedangkan gereja-gereja reformasi menempatkan pemberitaan firman sebagai pusat liturgi ibadah. Sementara itu Gereja-gereja Pentakosta atau Kharismatik menekankan pengunaan karunia-karunia Roh Kudus dalam kebaktian.

Dari berbagai denominasi Gereja-gereja Tuhan, ada unsur-unsur yang sama yang pasti ada dalam liturgi ibadah meskipun urutan-urutannya berbeda. Unsur-unsur itu meliputi pemberitaan firman, doa, pengakuan iman, nyanyian pujian dan penyembahan, pemberian kolekte (persembahan) dan doa. Beberapa hal lain yang dimasukkan dalam liturgi ibadah antara lain warta gereja (pengumuman), kesaksian, dan doa syafaat.

 

Evaluasi Liturgi Ibadah Protestan

Di kalangan Gereja-gereja yang mengikuti pola liturgi dari Eropa, liturgi ibadah biasanya dimulai dengan votum atau salam dan doa pembuka.[5] Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu puji-pujian, pengakuan dosa, pemberitaan firman, doa syafaat, pengakuan iman, dan biasanya diakhiri dengan doa berkat dan nyanyian doxologi.[6]

Dengan memperhatikan fakta dalam kehidupan gereja pada masa kini, tuduhan dari kelompok Kristen Kharismatik bahwa Ibadah dengan pola liturgi semacam itu lebih bersifat kaku, bukanlah tanpa alasan. Memang kebanyakan orang Kristen aliran Protestan lebih mengutamakan keheningan, kekhusukan dari pada gairah ibadah itu sendiri. Akhirnya substansi penyembahan dalam kebaktian itu tidak dapat diekspresikan dengan bebas.

Musik klasik yang diadopsi dari Gereja-gereja Eropa abad pertengahan masih terus dipertahankan. Akibatnya tidak sedikit anak-anak muda mulai meninggalkan denominasi Gereja mereka dan masuk ke tempat-tempat ibadah di mana mereka dapat mengekspresikan gairah penyembahan yang tidak terlalu kaku. Di sampaing itu, banyak anak-anak muda dari kalangan gereja-gereja dengan liturgi yang terlalu kaku eksodus ke tempat-tempat ibadah yang dianggap lebih ekspresif dengan alasan eksplorasi bakat atau karunia, atau dalam bahasa Kharismatik disebut “Mengembangkan talenta.”

Pola-pola ibadah yang telah disusun dan diatur sedemikian memang bertujuan untuk mengarahkan jemaat pada liturgi yang lebih teratur, namun pada sisi lain bukan tidak mungkin jemaat yang tidak mengerti hanya mengucapkan bacaan-bacaan berbalasan atau bersahutan itu sebagai rutinitas, padahal hakikat dan maknanya tidak mereka hayati. Akhirnya ibadah menjadi suatu aktifitas tradisional keagamaan.

Namun demikian bukan berarti bahwa liturgi ibadah yang seperti itu harus ditiadakan. Justru penulis melihat bahwa liturgi ibadah ini menuntut kedisiplinan dari seluruh jemaat yang mengikuti kebaktian. Penulis juga yakin bahwa susunan liturgi yang berlaku itu telah digumulkan oleh orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Ada nilai keteraturan dalam liturgi ibadah yang semacam itu, yang mana telah ditiadakan dalam liturgi ibadah gereja Kharismatik.

 

Evaluasi Liturgi Ibadah Kharismatik

Liturgi ibadah di kalangan Gereja-gereja Pentakosta atau Kharismatik diadopsi dari benua Amerika, bersamaan dengan lahirnya Gerakan Pentakosta itu sendiri. Tidak dapat disembunyikan kenyataan bahwa terbentuknya liturgi ibadah di kalangan Gereja Kharismatik merupakan bentuk pemberontakan terhadap liturgi ibadah yang dianggap terlalu kaku dari Eropa. Gerakan ini menilai bahwa ada unsur-unsur ibadah dan penyembahan yang diabaikan terutama pengunaan karunia-karunia Roh Kudus. Gerakan ini tidak mau terikat dengan kebakuan yang ada, mereka ingin mengeksplorasi karunia-karunia Roh Kudus yang mereka miliki. Maka di kalangan Gereja-gereja Pentakosta atau Kharismatik ditemukan suasana ibadah yang menurut pengautnya lebih hidup, ada manifestasi-manifestasi kuasa Roh Kudus, dan ada gerakan-gerakan atau terobosan-terobosan lain.

Gerakan ini sebenarnya merupakan usaha pembaharuan ibadah dan penyembahan dalam kekristenan. Namun bersamaan dengan usaha pembaharuan itu, ada unsur-unsur liturgi penting yang ikut dikesampingkan. Penggunaan karunia lebih mengemuka dari pada Pendalaman Alkitab atau Pemberitaan Firman. Dapat dikatakan bahwa pengajaran dalam kegiatan ibadah di Gereja-gereja Kharismatik terlalu sedikit. Maka akibatnya, kebanyakan jemaat tidak memahami hakikat iman Kristen yang sebenarnya. Mereka hanya tahu bahwa mereka orang Kristen, dan bahwa Yesus mampu melakukan segala sesuatunya. Bukan tidak mungkin bahwa penyembahan yang mereka lakukan hanya untuk ekspresi dan kepuasan diri, tanpa memperhatikan kemuliaan Allah.

Selain itu, keterbukaan Gereja Kharismatik terhadap perkembangan zaman, juga ikut meracuni liturgi ibadah mereka. Pengaruh “Gerekan Zaman Baru” (New Age Movement) seperti aktualisasi diri, kata-kata sugesti, pertapaan dan sebagainya telah masuk dalam Gereja. Maka kebanyakan jemaat tidak dapat membedakan mana iman dan mana sugesti. Mereka diyakinkan dengan mengatakan “Saya pasti Sukses,” “Saya pasti sembuh,” dan sebagainya sebagai kata-kata iman. Padahal kata-kata itu lebih merupakan kata-kata sugesti. Hal-hal yang semacam ini telah masuk sampai pada liturgi Gereja.

Gerakan Kharismatik bukan tanpa pembaharuan. Tidak sedikit orang yang telah bertobat dan menerima keselamatan karena gerakan ini. Banyak orang merasakan berkat Allah juga karena gerakan pembaharuan ini. Gereja-gereja Kharismatik pada masa kin mulai membuka diri untuk belajar firman melalui Seminari-seminari Alkitab. Bahkan bebarapa denominasi Gereja Pentakosta dan Kharismatik mulai menerapkan syarat Sarjana Strata satu bagi calon Pendeta. Ini merupakan sinyal positif supaya pemimpin-pimimpin Gereja kembali kepada kebenaran Alkitab.

Alangkah baiknya apabila pembaharuan Gereja dikukan dengan tetap memperhatikan unsur-unsur penting dalam liturgi ibadah. Tujuannya adalah supaya penyembahan dalam Gereja menjadi hidup dan bergairah. Gereja-gereja dengan liturgi ala Protestan juga harus lebih membuka diri terhadap perkembangan tata cara ibadah itu sendiri. Tujuannya adalah supaya ibadah dan penyembahan tetap hidup. Allah dimuliakan dalam kebaktian yang dilaksanakan. Ini adalah tugas generasi Kristen pada masa kini. Maka saya dan semua pembaca harus berdoa dengan sungguh-sungguh serta memberikan pengaruh yang baik dalam gereja lokal kita supaya penyembahan menjadi bergairah.  Penyembahan dalam liturgi ibadah kita harus konstruktif, kreatif dan inovatif.



Oleh: Hasrat P. Nazara



[1] Bible Works, ver. 7.0. Software Alkitab, Lexicon Bible, Fribergr Greek Lexicon, 17173. [CD ROM].

[2] R. Soedarmo, Kamus Istilah Teologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), 51.

[3] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004),  124.

[4] E. H. van Olst, Alkitab dan Liturgika (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 123

[5] Votum adalah pembacaan vote atau pengagungan kepada nama Tuhan yang biasanya dilakukan untuk mengawali sebuah ibadah. Votum bisa berupa doa berkat atau doa meminta Tuhan memberkati ibadah yang akan dilakukan. Atau dengan kata lain votum dipakai untuk menahbiskan suatu upacara ibadah.

[6] Doxologi merupakan istilah yang diadopsi dari kata doxa (yaitu memuliakan), yang berarti Nyanyian pujian untuk memuliakan Allah Tritunggal. Oleh gereja-gereja Protestan, nyanyian doxologi ini dipakai sebagai nynyian penutup kebaktian/ibadah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar