Penyembahan
dan Korban
Dengan memperhatikan trend yang terjadi di kalangan
orang-orang pada masa kini, maka penulis
mengetahui bahwa banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai penyembah Allah,
tetapi tanpa pengorbanan. Banyak orang Kristen yang mengikuti kebaktian,
melayani dan bahkan telah menjadi full timer di suatu Gereja tetapi belum
berkorban untuk Tuhan. Beberapa orang kaya mengklaim diri telah banyak
memberikan persembahan dan sumbangan untuk Gereja dan pekerjaan Tuhan, akan
tetapi pemberian mereka hanyalah sebagian kecil dari berlimpah kekayaan mereka.
Pada sisi lain beberapa anggota jemaat yang memiliki banyak harta dari hasil
pekerjaan mereka atau gaji dari instansi tempat mereka bekerja memberikan hanya
sedikit dari harta mereka sebagai persembahan. Yang paling menyakitkan adalah
bahwa persembahan yang mereka serahkan melalui kantong persembahan yang
diedarkan hanya senilai dengan uang parkir yang biasa dibayar kepada tukang
parkir mobil atau sepeda motor setelah mereka berbelanja dengan nilai jutaan
rupiah.
Dalam hal komitmen, beberapa orang yang merasa telah lama
menjadi orang Kristen dan telah memberikan banyak sumbangan, atau telah terlibat
dalam pelayanan selama beberapa tahun ngotot untuk dimasukkan dalam struktur
organisasi atau pelayanan di Gereja setempat. Dan sekalipun mereka telah
menduduki struktur atau bagian pelayanan dalam Gereja, namun mereka masih lebih
fokus mengurus pekerjaan atau bisnis mereka. Dalam hal ini mereka akan melayani apbila tidak ada
kegiatan bisnis yang mendesak. Akan tetapi apabila ada kepentingan bisnis,
mereka akan meninggalkan pelayanan atau meminta pelayan lain menggantikan
mereka. Ketika dikonfirmasi akan kenyataan ini, biasanya para pendeta pebisnis
ini mengatakan bahwa mereka mengurusi bisnis itu demi kepentingan Gereja.
Inikah yang dimaksudkan oleh Kitab Suci sebagai pengorbanan? Tentu saja bukan.
Alkitab secara keseluruhan memberikan konsep yang sama
sekali berbeda dengan kenyataan di atas. Orang-orang seperti di atas
sesungguhnya belum berkorban untuk menyembah Tuhan. Sekalipun mereka mengklaim
telah berkorban untuk pekerjaan Tuhan, namun pengorbanan yang mereka berikan
hanya sebagian kecil jika dibanding dengan pengorbanan yang mereka bayarkan
untuk kepentingan pribadi, pekerjaan atau bisnis mereka. Secara konsisten
Alkitab memberikan informasi tentang penyembahan yang melibatkan pengorbanan.
Orang-orang yang berkomitmen mengasihi Tuhan harus bersedia berkorban harta,
waktu, tenaga dan bahkan perasaan. Kitab Suci mengungkapkan kebenaran tentang
pengorbanan yang benar dalam penyembahan.
1.
Korban dalam Kitab Suci
Pada
hakikatnya, korban merupakan bagian dalam ritual penyembahan, bukan saja hanya
berlaku dalam kekristenan, melainkan dalam semua agama dan kepercayaan.
Kenyataan ini pun disaksikan oleh Kitab Suci (band. Hak 16:23; 1Sam 6:4; 2Raj
3:27; 5:17). Bahkan kesejajaran yg
berasal dari bangsa-bangsa sekitar dikemukakan untuk menjelaskan korban dalam
masyarakat Israel. Dan korban yang dilaksanakan dalam sistem penyembahan Israel
menjadi dasar pemahaman akan pengorbanan yang sejati dalam Perjanjian Baru.
Untuk mendapatkan pemahaman yang memadai tentang korban dalam penyembahan, maka
dua bagian penting korban yang diungkap secara progresif dalam Alkitab yaitu
korban dalam Perjanjian Lama dan korban dalam Perjanjian Baru akan dibahas di
bawah ini.
Korban
dalam Perjanjian Lama
Salah
satu tema yang penting dalam Perjanjian Lama adalah korban untuk ritual ibadah
atau penyembahan. William Dirness, dalam bukunya Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama membahas korban dan
penyembahan sebagai salah satu pokok penting Perjanjian Lama.[1] Dapat
dikatakan bahwa penyembahan dalam Perjanjian Lama senantiasa melibatkan korban.
Dan tanpa korban atau wujud persembahan, penyembahan tidak diperkenankan Allah.
Itulah yang dipesankan Tuhan kepada Musa ketika Ia mengatakan: “Janganlah orang
menghadap ke hadiratku dengan tangan hampa” (Kel. 23:15; 34:20; Ul. 16:15).
Adalah
penting bahwa korban-korban yang pertama sekali disebut dalam Perjanjian Lama
bukanlah korban sembelihan zevakhim,
melainkan korban persembahan Kain dan Habel (minkha, Kej. 4:3,4) dan korban bakaran Nuh (’ola, Kej. 8:20). Di sinilah pertama kali muncul sebutan
mezbah. Dalam perkembangan kemudian,
korban dalam penyembahan menjadi sebuah sitem yang ditetapkan oleh Allah
bersamaan dengan upacara keagamaan.
Kitab
Imamat mengatur secara detail sistem korban dalam Perjanjian Lama, mulai dari
perencanaan sampai pelaksanaannya. Menurut Dyrness, setidaknya ada empat jenis
korban yang umum dalam upacara keagamaan Israel yaitu korban bakaran (’ola), yaitu sesuatu yang dipersembahkan
kepada Allah atas nama si penyembah; korban sajian (minhah), semacam upeti kepada Allah demi kemauan baik; korban
keselamatan (zebah atau selamin), sebagai ucapan syukur kepada
Allah atau sebagai pembayaran suatu nazar; dan korban korban penebus salah atau
penghapus dosa (‘asam atau hatta’at).[2] Selain itu
ada jenis-jenis korban khusus yang dipersembahkan kepada Allah berhubungan
dengan perayaan seperti korban paskah dan korban hari raya lainnya, atau korban
perjanjian dan pemulihan perjanjian.
Motif-motif korban zaman itu, juga ihwal memuliakan Allah
dan pengucapan syukur atas kebaikan-Nya adalah nyata, tapi kemungkinan adanya
pemikiran yang lebih khidmat tak dapat ditiadakan. Korban persembahan Nuh harus
dilihat tidak melulu sebagai korban pengucapan syukur karena kelepasan, tapi
juga sebagai korban pertobatan atau penebusan dosa. Ketika Yakub pergi ke Mesir
(Kej 46:) ia berhenti untuk bertanya kepada Allah, dan mempersembahkan korban
(zevakh) yg mungkin bersifat pertobatan. Di Mesir Israel dipanggil untuk
mempersembahkan korban khidmat di padang gurun (Kel 5:3, zevakh), yang menuntut
persembahan berupa hewan (Kel 10:25,26) dan dibedakan dari korban persembahan
orang Mesir manapun (Kel 8:26). [3]
Korban-korban
Perjanjian Lama memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita umat Allah
pada masa kini antara lain:
Pertama,
Allah menuntut korban yang terbaik dari umat-Nya.
Ini adalah suatu keharusan dan bukan pilihan. Allah menyatakan ketegasan-Nya
untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang sempurna. Allah tidak berkenan
akan kewan korban yang cacat. Dalam Maleakhi 1:6-14, Allah mencela
korban-korban yang dipersembahkan oleh bangsa Israel karena mereka
mempersembahkan binatang yang cacat. Persembahan semacam itu merupakan
penghinaan terhadap Allah. Maka Allah pun jijik dengan persembahan itu. Allah tidak berkenan menerima korban dan
persembahan dari sisa-sisa keuangan kita. Allah juga tidak menghendaki korban
atau sumbangan dari barang-barang yang sudah tidak dipakai. Mungkin itu lebih
cocok dipersembahkan saja ke Panti Asuhan dari pada dipersembahkan ke Gereja.
Allah menghendaki korban dari harta kita yang terbaik, entah jumlahnya, juga
prioritasnya. Ada kalanya seseorang memberikan sumbangan atau persembahan
setelah tidak ada kepentingan lain. Jika ada kepentingan lain, maka persembahan
akan dipangkas. Ini bukanlah korban. Korban yang sesungguhnya terkadang
menyakitkan, yaitu tatkala kita bersedia memangkas kebutuhan yang lain demi
korban persembahan kita. Itulah tuntutan dalam korban penyembahan.
Kedua,
korban dalam Perjanjian Lama berlangsung secara kontiniutif dan konsistensif.
Ada korban yang dipersembahkan setiap hari yaitu pagi dan sore, ada korban
mingguan, dan ada korban perayaan tahunan maupun musiman. Jumlah persembahannya
juga tidak boleh dikurangi dari aturan yang sudah ditetapkan. Ini memberikan
pengertian bahwa korban itu bukan berdasarkan mood. Memang banyak jemaat yang
bersedia berkorban lebih banyak atau memberikan sumbangan yang banyak apabila
kebijakan Gereja sesuai dengan keinginannya, atau apabila suasana hatinya
mendorongnya untuk memberikan lebih. Akan tetapi apabila merasa tidak cocok, ia
akan mengurangi persembahan atau sumbangannya. Perjanjian Lama mengajarkan
bahwa penyajian korban harus berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan,
tidak bergantung mood. Oleh karena itu, persembahan harus dilakukan dengan
perencanaan dan persiapan yang matang.
Ketiga,
Allah menuntut korban ketika menghadap kehadirat-Nya. Berkali-kali Allah
memperingatkan umat Allah supaya tidak datang ke hadapan-Nya dengan tangan
hampa, yaitu tanpa korban. Ide utama korban dalam Perjanjian Lama ditemukan
dalam kata kerja Ibrani kipper yang
biasanya diterjemahkan “mendamaikan” atau “menutupi” (Im. 1:4). Artinya orang
yang menghadap ke hadirat-Nya harus menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang
tidak mungkin lepas dari dosa dan oleh karenanya harus berdamai dengan
Allah. Maka prinsip yang penting dalam
hal ini adalah hubungan dengan Allah, bagaimana menghormati hadirat Allah
dengan korban itu. dalam Perjanjian Baru, Kristus telah menggenapi korban itu
sehingga setiap orang dapat menghadap ke hadirat Allah dengan iman kepada Yesus
Kristus. Maka tidaklah benar apabila ada orang-orang yang tidak datang ke
Gereja karena tidak ada persembahan. Justru orang yang sungguh-sungguh
mengasihi Tuhan akan mempersiapkan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada-Nya.
Korban dalam
Perjanjian Baru
Korban-korban
menurut Perjanjian Lama masih dipersembahkan selama periode penyusunan
Perjanjian Baru. Akan tetapi, tema sentral dalam Perjanjian Baru adalah korban
Kristus. Korban dalam Perjanjian Lama
hanyalah merupakan penuntun ke dalam korban yang sesungguhnya, yang
sempurna dalam Perjanjian Baru. Pemahaman yang benar akan korban Kristus
membawa kita pada konsep penyembahan yang benar. Sebab secara substansi, korban
Kristus menjadi dasar penebusan kita. Tanpa korban, tidak ada penebusan dan
tanpa penebusan kita tidak mungkin selamat. Sebaliknya, dengan kenyataan korban
Kristus, maka kita mendapat bagian dalam anugerah Allah, dan dalam anugerah
itulah kita menyembah Allah dengan mempersembahkan korban syukur.
Korban
Kristus adalah kegenapan janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama. Kristus
dikatakan Domba Allah yang disembelih, darah-Nya yang suci meniadakan dosa
dunia (Yoh. 1:29,36; 1Ptr. 1:18; Why. 5:6-10; 13:8). Lebih khusus lagi, Ia
dikatakan domba Paskah yg sesungguhnya (pasakh,
1 Kor. 5:5-8). Perjanjian Baru terus-menerus menyamakan Tuhan Yesus dengan
Hamba yang menderita di dalam Yesaya 52:1-53:12 yang adalah korban penghapus
dosa, yang menghapuskan kesalahan (Dan. 9:24). Perjanjian Baru menggunakan
istilah “pendamaian” dan “tebusan” tentang Kristus dalam pengertian korban, dan
pemikiran mengenai hal disucikan oleh darah-Nya (1Yoh. 1:7).[4]
Doktrin
tentang itu dikembangkan paling terpadu dalam Surat Ibrani. Penulis menekankan
pentingnya kematian dalam korban Kristus, yakni kematian-Nya sendiri (Ibr.
2:9,14; 9:15-17,22,25-28; 13:12,20), dan kenyataan bahwa kematian-Nya sebagai
korban adalah genap dan tuntas (Ibr. 1:3; 7:21; 9:12,25-28; 10:10,12-14,18).
Paulus menggambarkan kematian Kristus sebagai “korban yang harum bagi Allah”
(Ef. 5:2).
Dalam
pengorbanan Kristus, ada aspek yang sangat penting yaitu darah-Nya yang
tercurah, yang mana Paulus membicarakannya sebagai domba Paskah yang
tersembelih (1 Kor. 5:7). Dalam Perjanjian Baru, darah berarti kehidupan yang
diambil dengan paksa, kehidupan yang dipersembahkan sebagai kurban. Ladd
memaknainya sebagai kehidupan yang diserahkan sebagai korban.[5] Itulah
korban Kristus yang sesungguhnya.
Selanjutnya,
penulis Ibrani mengemukakan bahwa Kristus telah mempersembahkan diri-Nya
sendiri sebagai korban, sekali untuk selama-lamanya (Ibr. 7:27). Korban ini
sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang percaya kepada-Nya (Ibr.
7:24) sehingga kita tidak perlu lagi mencurahkan darah kita untuk keselamatan
pribadi. Dalam bahasa teologi, konsep
ini disebut sebagai korban subtitusional (pengganti), yang berarti korban
kematian Kristus bukan hanya mewakili umat tebusan, melainkan dipahami sebagai
kematian yang menggantikan orang-orang percaya. Dengan kematian Kristus, maka
orang-orang percaya tidak mengalami pengalaman kematian yang dahsyat itu.
Dalam
Roma 6:1-4, Paulus mengungkapkan kematian subtitusional Kristus “Atau tidak
tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah
dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama
dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah
dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita
akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa
yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama
dengan kebangkitan-Nya.” Selanjutnya, kita yang telah mendapat bagian dalam
kematian dan kebangkitan Kristus perlu mempersembahkan keseluruhan hidup kita sebagai
senjata-senjata kebenaran (Rm. 6:12-13).
Sebagai
implikasinya, ada satu nilai terpenting dalam korban Kristus, yaitu penyerahan
hidup kepada Allah. Dengan pemahaman akan korban Kristus, maka kita wajib
mempersembahkan hidup kita, dengan segala ketaatan untuk dijadikan sebagai
korban yang menyenangkan hati Allah. Kristus telah memberikan kemenangan dengan
mengalahkan kuasa maut, maka kita memiliki kuasa untuk menang, mengatasi segala
kedagingan kita, dan mempersembahkan hidup kita sebagai korban. Itulah konsep
penyembahan yang dikemukakan dalam Perjanjian Baru.
2.
Hubungan Penyembahan dan Korban
Penyembahan
tidak dapat dipisahkan dari pada korban, karena korban merupakan elemen utama
dalam penyembahan. Dalam sistem kepercayaan manapun juga, ritual penyembahan
selalu melibatkan pengorbanan. Jauh sebelum bangsa Israel menerima Taurat dan
berbagai penjelasan tentang korban, bangsa-bangsa kafir telah menyelenggarakan
ritual korban dalam penyembahan-penyembahan mereka. Demikianlah setiap agama di
dunia ini selalu melibatkan apa yang namanya korban dalam penyembahan. Dalam
tradisi agama-agama kuno, mereka mempersembahkan hewan kurban, sebagai
penyembahan untuk ilah-ilah mereka. Tidak jarang juga mereka mempersembahkan
anak kandung mereka untuk menyenangkan dewa-dewa yang mereka sembah. Maka
sangat aneh apabila beberapa orang Kristen berambisi mengambil bagian pelayanan
Gerejawi tetapi tidak mau berkorban, tidak mau rugi, apalagi mempersembahkan
hidup kepada Allah.
Pada
intinya, penyembahan adalah memberikan sesuatu kepada Allah. Tindakan
penyembahan adalah tindakan memuliakan Allah, dan dalam usaha untuk memuliakan
Allah, seseorang dituntut untuk rela menderita. Penderitaan kita dalam hal ini
adalah untuk kemuliaan Allah. Penyembahan yang benar tidak mungkin berlangsung
tanpa pengorbanan, dan tanpa pengorbanan, penyembahan tidak mungkin berkenan
kepada Allah. Harus ada yang diberikan kepada Allah dalam penyembahan. Ini
bukan hanya masalah harta, yang utama adalah memberikan ucapan syukur yang
memuliakan nama-Nya.
Tokoh-tokoh
dalam Alkitab menunjukkan teladan pengorbanan dalam melayani/menyembah Tuhan.
Mereka sungguh telah melihat dan mengalami kasih Allah, maka mereka tersungkur
di hadapan Tuhan. Bagi orang yang telah melihat kemuliaan Allah, tiada lain
yang dapat dilakukan selain mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk
menyembah Tuhan. Abraham yang dikenal sebagai Bapak orang beriman telah
mengorbankan banyak hal dalam menyembah Tuhan. Bahkan dalam Kejadian 22:1-19,
dilaporkan bahwa Abraham bersedia menyembelih anak satu-satunya sebagai korban
demi ketaatan dan penyembahan kepada Allah. Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel
dan banyak nabi-nabi yang lain telah berkorban dalam pelayanan kenabian mereka.
Ini mereka lakukan bukan berdasarkan ketaatan subyektif, melainkan karena
mereka telah mengalami kemuliaan Allah. Para nabi ini mampu melihat secara
profetik kebaikan Allah yang sungguh tiada taranya, sehingga mereka bersedia
mengorbankan segalanya untuk menyembah Tuhan.
Terlebih
lagi-tokoh-tokoh Perjanjian Baru, semua murid Tuhan (mungkin kecuali Rasul
Yohenes) telah menjadi martir (orang yang mati karena kesaksian tentang
Kristus) karena mereka telah mengalami sendiri korban dan penebusan Kristus.
Menurut kesaksian Sejarah Gereja, Matius dipasak di tanah, Petrus disalib
terbalik, Lukas digantung di sebuah pohon zaitun, Paulus mati dalam penjara,
Yohanes Pembaptis juga dipenggal kepalanya, dan Rasul Yohanes dibuang ke pulau
Patmos.
Pertanyaan
yang bisa muncul adalah “Mengapa murid-murid Tuhan mau berkorban sedemikian?” Jawabannya adalah
karena mereka telah mengalami penebusan Kristus. Mereka tahu bahwa mereka hidup
bukan lagi untuk diri mereka sendiri melainkan untuk memuliakan Allah. Maka
mereka rela berkorban demi Kristus yang telah berkorban untuk mereka. Bagi
mereka, tiada penyembahan yang lebih berharga dari pada menyerahkan seluruh
hidup untuk melaksanakan perintah Tuhan, walaupun itu itu tidak mungkin lepas
dari penderitaan. Penderitaan itu adalah korban persembahan yang menyenangkan
hati Allah. Stefanus yang penuh dengan Roh Allah, dirajam batu sampai mati
sembari bersaksi tentang Kristus (band. Kis. 7). Ada kehangatan kasih Allah
yang berkobar dalah hati Stefanus sehingga ia tidak mungkin menahan mulutnya
untuk bersaksi. Dengan bersaksi tentang Kristus, maka ia menyembah Allah
walaupun itu harus dibayar dengan korban yang mahal, yaitu nyawanya sendiri.
Zakheus
yang sudah bukan rahasia lagi dikenal sebagai seorang pemeras, setelah berjumpa
dengan Tuhan Yesus bersedia mempersembahkan setengah hartanya untuk orang-orang
miskin, dan mengembalikan empat kali lipat uang dari orang-orang yang pernah ia
peras (Luk. 19:1-10). Di sini kita melihat adanya perubahan paradigma seseorang
yang telah berjumpa dengan Yesus. Orang yang awalnya seorang yang kikir kini
menjadi dermawan, dan orang yang sebelumnya pemeras, kini menjadi pemurah. Ini
representasi kehangatan kasih kepada Allah. Ada semangat yang berkobar untuk
berkorban. Penyembahan berhubungan erat dengan korban. Dapat dikatakan bahwa penyembahan identik
dengan korban.
3.
Macam-macam
Pengorbanan
Telah
dibicarakan sebelumnya bahwa penyembahan menyangkut seluruh bidang kehidupan
kita, maka dengan demikian pengorbanan juga menyangkut segala hal yang kita
miliki baik material maupun immaterial. Dalam pembahasan ini, ada beberapa
macam korban penyembahan yang dapat dipersembahkan kepada Allah sebagai wujud
kasih kita kepada-Nya yaitu korban harta, korban waktu, tenaga dan pikiran
korban perasaan, dan korban nyawa.
Korban
harta
Dalam
ritual penyembahan agama-agama kuno, korban harta berupa hewan kurban atau yang
lainnya merupakan bagian yang tidak mungkin dihindari. Demikian juga dalam
Perjanjian Lama, harus ada harta yang dipersembahkan tatkala menghadap kepada
Allah dalam penyembahan. Melalui Musa, Allah mengatur sistim penyembahan dengan
korban-korban. Konsep ini pun diterapkan oleh orang-orang Majus dari Timur,
yang walaupun mereka bukanlah orang-orang yang mengenal Allah, namun ketika
datang menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus, mereka mempersembahkan harta
benda mereka yang paling mahal yaitu emas, kemenyan dan mur (Mat. 2:11).
Dalam
sejarah Gereja pada zaman rasuli, dilaporkan bahwa jemaat mula-mula
mempersembahkan seluruh harta milik mereka untuk mendukung persekutuan mereka
dan menolong sesama yang berkekurangan. Bahkan oleh kehangatan kasih kepada
Tuhan, Yusuf yang juga disebut Barnabas bersedia menjual ladang miliknya, dan
kemudian uangnya diserahkan kepada rasul-rasul untuk mendukung pekerjaan Tuhan
(Kis. 4:32-36). Pada masa itu, jemaat saling mendukung sehingga tidak ada yang
berkekurangan di antara mereka. Inilah prinsip pelayanan dan penyembahan yang
sesungguhnya; memberi, berkorban dan bukan mencari keuntungan.
Dalam
2 Korintus 8:1-5, Paulus menceritakan teladan pengorbanan dari jemaat-jemaat di
Makedonia. “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita
mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam
kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan
mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka
meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia
untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka
memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri
mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga
kepada kami” (2 Kor. 8:2-5). Jemaat-jemaat ini sangat berkobar akan kasih
kepada Allah. Mereka terdorong oleh pemahaman akan keselamatan yang telah
mereka terima untuk mendukung pekerjaan Tuhan, dan mereka berkorban melebihi
kemampuan mereka.
Seseorang
yang mengasihi Tuhan bersedia memberikan persembahan melebihi kemampuan yang ia
miliki. Mengasihi Tuhan juga berarti bersedia memberikan hasil pertama, harta
yang terbaik dari apa yang dimiliki. Maka seseorang yang mengklaim diri sebagai
penyembah Tuhan patut bersedia mengorbankan harta miliknya untuk pekerjaan
Tuhan dan kegiatan Gerejawi. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan tidak keberatan
apabila harus memberikan sumbangan untuk kegiatan-kegiatan ibadah, juga
termasuk pembangunan rumah ibadah. Maka dengan adanya kegiatan-kegiatan khusus
dari Gereja seperti Kebaktian-kebaktian Kebangunan Rohani, atau Perayaan Natal,
Paskah dan sebagainya merupakan kesempatan bagi orang percaya untuk berkorban
bagi Tuhan.
Uang atau harta yang kita miliki dikehendaki oleh Allah untuk mendukung dan menolong
orang lain yaitu sesama orang percaya yang menderita, orang-orang miskin,
janda-janda dan anak-anak yatim. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan
umat Israel untuk menolong orang miskin sehingga setiap hasil panen harus
disisakan untuk orang miskin (Im. 19:9-10). Tuhan Yesus mengajar untuk bermurah
hati dan menolong orang miskin (Mat. 5:42). Paulus juga mengajak Jemaat
Korintus mengumpulkan uang untuk menolong saudara yang susah di Yerusalem (1
Kor. 16:1-4). Dalam Perjanjian Baru, banyak ayat yang membicarakan tentang
kewajiban untuk mendukung saudara yang susah, menolong janda-janda dan
anak-anak yatim. Dalam sejarah Gereja Kuno, kewajiban ini disebut
sebagai derma yang sifatnya tidak
memaksa, tetapi kita harus tahu bahwa itu adalah kewajiban yang harus kita
lakukan. Kita mengasihi dan menyembah Tuhan dengan cara
mengorbankan harta milik kita bagi orang lain.
Dalam
bukunya Menggali Keuangan Gereja,
Selan mengungkapkan bahwa orang-orang yang hanya membayar persembahan
persepuluhan di Gereja dengan mengikuti ibadah secara normal masih dianggap
sebagai kasih yang dingin.[6]
Mempersembahkan persembahan persepuluhan dan kewajiban lainnya belumlah cukup
untuk dianggap setia kepada Tuhan. Seseorang yang menyembah Tuhan dengan
sungguh seharusnya mempersembahkan hartanya lebih banyak lagi, bahkan lebih
banyak dari yang ia pergunakan. Itulah kasih dengan suhu yang panas, suatu
korban penyembahan yang menggugah hati Tuhan. Rick Warren mengaku
mempersembahkan sembilan puluh persen untuk pekerjaan Tuhan dari semua
penghasilan dan royaltinya. Ini teladan kasih yang hangat dengan korban harta
milik kepada Tuhan. Seseorang yang sungguh menyembah Allah tidak mungkin tidak
mengorbankan harta miliknya. Klaim penyembahan tanpa pengorbanan hanyalah
kepalsuan.
Dalam
kehidupan sebagai jemaat, seseorang yang sungguh mengasihi Tuhan tentu akan
mempersiapkan persembahan yang akan ia persembahkan pada saat kebaktian.
Seorang jemaat yang setia kepada Tuhan patut mempersiapkan persembahan untuk
kebaktian hari Minggu beberapa hari sebelumnya. Artinya dalam hal
mempersembahkan persembahan pun harus dilakukan dengan persiapan dan
perencanaan. Kita patut menyisihkan uang-uang persembahan yang akan kita
serahkan melalui kantong kolekte pada saat kebaktian. Maksudnya bahwa
persembahan untuk Kebaktian Raya pada hari Minggu seharusnya sudah kita siapkan
jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga pada hari Sabtu, tepat sehari sebelum
kebaktian, semua persembahan sudah dipersiapkan. Inilah gaya hidup seorang
penyembah Allah.
Korban
waktu, tenaga dan pikiran
Selain
bersedia mengorbankan harta miliknya, seorang penyembah yang benar juga harus
bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya. Mungkin banyak orang yang
pada kenyataannya tidak dapat memberikan lebih banyak dari harta yang mereka
miliki, karena memang mereka hanya memiliki penghasilan yang pas-pasan. Akan tetapi
Allah memberikan kesempatan untuk berkorban dalam bentuk lain yaitu korban
waktu dan tenaga. Memang ada kecenderungan bahwa orang-orang kaya dengan
persembahan dan sumbangan-sumbangan yang besar akan dianggap lebih rohani dari
pada orang-orang yang hanya bisa mengorbankan waktu dan tenaganya untuk
melayani dan beribadah di Gereja. Dalam pandangan Allah, tidak ada diskriminasi
kepada orang-orang yang tidak dapat memberikan persembahan yang besar. Allah
sungguh memandang dan memperhatikan pengorbanan setiap orang di hadapan-Nya,
entah pengorbanan harta, pengorbanan waktu, tenaga maupun pikiran.
Seseorang
yang sungguh menyembah Allah harus bersedia menghabiskan banyak waktunya untuk
pekerjaan Tuhan, dengan ibadah atau pelayanan. Prioritas kepada Allah membawa
seseorang untuk mengesampingkan semua urusan lainnya termasuk bisnis, hobi, dan
liburan. Banyak orang sekalipun mengetahui kebenaran, namun menganggap
penyembahan sebagai kesempatan untuk mengisi kekosongan, menyegarkan kembali
pikiran atau mencarai aktifitas sambil menunggu aktivitas lainnya. Konsep
semacam ini tidak dapat dikategorikan sebagai korban waktu karena waktu yang
dipergunakan itu hanya untuk mengisi waktu luang. Penyembahan bukan hanya
melibatkan korban harta saja melainkan juga melibatkan pengorbanan waktu,
pikiran dan tenaga. Allah menghendaki umat-Nya memiliki waktu yang tetap
dengan-Nya, dan dengan waktu yang diatur dengan baik, maka segala aktifitas
lain harus ditunda.
Adakalanya
kita harus menunda banyak pekerjaan demi kegiatan penyembahan. Kita harus
bangun pagi-pagi lalu berdoa, dan mungkin itu sedikit menghabiskan jatah waktu
istrahat kita, atau mungkin kegiatan ibadah banyak menyita kesempatan untuk
berlibur. Dalam kehidupan sebagai penyembah Allah, mungkin kita banyak melewatkan kesempatan untuk menikmati
kehidupan sebagaimana layaknya orang-orang yang seharusnya menikmati kehidupan.
Akan tetapi dengan menghabiskan waktu bersama dengan Tuhan, kita juga akan
menemukan kenikmatan rohani yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan
dunia. Mengorbankan waktu dengan penuh kesungguhan merupakan kegiatan yang
menyenangkan hati Tuhan.
Sesaat
sebelum ditangkap, murid-murid sudah sangat lelah sehingga mereka tertidur.
Akan tetapi Tuhan Yesus mempergunakan kesempatan itu untuk berdoa, penulis
Kitab-kitab Injil melaporkan bahwa tiga kali Tuhan Yesus maju untuk berdoa dan
tiap kali Ia pulang, Ia mendapati murid-murid-Nya sudah tertidur. Doa Tuhan
Yesus mungkin banyak ditafsirkan berhubungan dengan kegentaran karena tahu
bahwa Ia akan ditangkap, namun bagaimanapun juga dalam hal ini Tuhan Yesus
harus mengesampingkan kesempatan untuk beristirahat. Padahal kita tahu bahwa
bukan hanya murid-murid yang sangat lelah, Tuhan Yesus juga sangat lelah.
Selanjutnya Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging
lemah” (Mrk. 14:37).
Paulus
menggambarkan seorang pengikut Kristus dengan tiga analogi yaitu: prajurit,
olahragawan, dan petani. Dalam analogi sebagai seorang prajurit, Paulus
mengungkapkan bahwa seorang pengikut Kristus tidak memusingkan diri dengan
soal-soal kehidupannya (2 Tim. 2:4). Artinya bagi kita sebagai pengikut Kristus
tidak ada waktu yang lebih besar selain digunakan untuk menyembah Tuhan, yaitu
dengan melakukan kehendak-Nya, beribadah, melayani dan bersaksi. Semua waktu
kita harus digunakan untuk memuliakan Tuhan.
Di
tengah-tengah kesibukan, seorang penyembah Tuhan harus mempersiapkan waktu
untuk beribadah dengan Tuhan. Orang percaya harus mengatur banyak waktu untuk
menyembah Tuhan. Ada banyak kegiatan penyembahan yang dapat dilakukan
bersama-sama di Gereja. Akan tetapi waktu yang harus disiapkan adalah
kesempatan untuk berdoa secara pribadi, kemudian waktu yang harus dipersiapkan
untuk ibadah keluarga atau yang sering disebut “mezbah keluarga,” baru kemudian
mengatur waktu untuk datang beribadah dalam kebaktian-kebaktian di Gereja atau
dalam komunitas lainnya seperti Persekutuan doa, Pendalaman Alkitab dan
sebagainya. Dalam banyak kegiatan, Tuhan Yesus senantiasa mengambil kesempatan
untuk berdoa kepada Allah secara pribadi. Waktu-waktu yang kita berikan untuk
Tuhan, dapat dikonversi sebagai korban penyembahan kepada Tuhan.
Mengorbankan
tenaga merupakan wujud yang lebih konkrit dari kegiatan penyembahan. Dalam
Perjanjian Lama dikatakan “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5). Tiga unsur yang
terlibat dalam hal ini yaitu hati, jiwa dan kekuatan “tenaga.” Dalam Perjanjian
Baru, Tuhan Yesus menambahkan satu unsur lagi yang harus dilibatkan dalam
mengasihi Tuhan yaitu pikiran atau akal budi. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat.
22:37). Jadi, dalam kasih dan penyembahan kepada Tuhan, “tenaga” dan “pikiran”
menjadi hal yang patut dikorbankan sebagai persembahan kepada Tuhan.
Paulus
bersaksi dengan benar bahwa dalam pelayanan dan penyembahan, ia harus
mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya. Bahkan ia telah mengorbankan seluruh
hidupnya untuk memuliakan Allah, dan dengan pengorbanan itu, ia hampir tidak
memiliki waktu untuk memikirkan kepentingan yang patut bagi dirinya. Dalam hal
ini Paulus memberikan teladan pengorbanan.
Kebenaran
ini tidak boleh disalah-artikan. Memang benar bahwa seseorang harus
mengorbankan banyak hal dalam kegiatan penyembahannya. Akan tetapi pengorbanan
yang dimaksud harus diimbangi dengan perhatian kepada keluarga. Mengabaikan
keluarga, istri dan anak-anak dengan alasan kegiatan pelayanan atau penyembahan
tidak dapat dibenarkan. Pada zaman-Nya, Tuhan Yesus mengecam orang Farisi:
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan
kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu:
keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang
lain jangan diabaikan” (Mat. 23:23). Tuhan Yesus mencela cara ibadah mereka
yang mengutamakan kegiatan keagamaan tetapi mengabaikan kewajiban yang lain,
termasuk kewajiban untuk mengurus orang tua atau keluarga.
Allah
sangat menghendaki penyembahan umat-Nya, tetapi tidak menginginkan kita
mengabaikan keluarga. Artinya kita harus memiliki banyak waktu untuk keluarga.
Justru dalam kebersamaan ini kita melakukan penyembahan yang lebih baik melalui
kemesraan dan doa keluarga. Dalam konsep Kristen prioritas urutan-urutan
prioritas dimulai dari keluarga, kemudian pelayanan, baru pekerjaan, dan yang
terakhir adalah hobi, piknik dan sebagainya. Dalam kesemuanya itu Allah harus
menjadi pusat kehidupan kita. Jadi megorbankan waktu, pikiran dan tenaga dalam
penyembahan harus dipahami dalam kebenaran yang tidak boleh mengorbankan
kemesraan rumah tangga. Dalam hal ini kita dapat menyembah Tuhan, mengorbankan
apa yang bisa dipersembahkan dan tidak mengabaikan hal-hal penting yang lain.
Korban
Penderitaan
Selain
korban harta, korban waktu, tenaga maupun pikiran, seorang penyembah juga harus
bersedia menderita. Dalam pengajarannya kepada para murid, Tuhan Yesus
berkali-kali memperingatkan bahwa semua pengikutnya akan mengalami banyak
penderitaan, penolakan dan bahkan dikucilkan oleh keluarganya. “Kamu akan
dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan
menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian,
karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini
Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah
mengatakannya kepadamu” (Yoh. 16:2-4a).
Sejarah
Kekristenan menggenapi apa yang telah dikatakan oleh Tuhan Yesus. Diskriminasi,
penyiksaan, pembantaian dan sebagainya merupakan bagian dari kehidupan
kekristenan. Orang-orang percaya di negara-negara yang tidak mengakui
kekristenan mengalami banyak penderitaan. Dalam hal ini orang-orang percaya
dapat dikatakan menjadi korban. Iman orang-orang percaya dalam keadaan seperti
ini sungguh teruji. Kehendak Allah menuntut kesetiaan, dan tidak lari dari
kenyataan. Kesetiaan dalam keadaan inilah yang dapat menjadi korban yang harum
kepada Allah.
Dalam
konteks pelayanan dan kejemaatan, tidak
jarang seorang percaya harus mengorbankan perasaannya. Oleh kenyataan bahwa
memang orang-orang percaya bukanlah orang-orang yang sudah sempurna, maka ada kalanya
terjadi kesalahpahaman di antara sesama jemaat, atau sesama pelayan. Seorang
penyembah Allah harus memahami salah satu prinsip, yaitu bahwa penyembahan
kepada Allah menuntut pengorbanan, dan tidak jarang termasuk korban perasaan.
Kedewasaan seseorang akan teruji dalam menanggapi keadaan ini. Ada kalanya
kesungguhan hati kita dalam menyembah Tuhan menjadi bahan tertawaan bagi orang
lain, bukan karena kita salah, melainkan karena cara yang kita lakukan berbeda
dengan cara yang biasanya dilakaukan secara umum.
Tidak
jarang seorang yang begitu giat menyembah Tuhan akan mengalami banyak
pertentangan, cemoohan, maupun salah paham dari orang lain. Ketika seseorang
semakin sungguh mengasihi Tuhan, bukan tidak mungkin ujian ketaatan itu semakin
tinggi. Dalam konteks pelayanan, kita tak jarang mengalami perlakuan tidak adil
dari orang lain bahkan mungkin datangnya dari sesama pelayanan atau jemaat.
Kita merasa sudah taat, melayani dengan sepenuh hati, tetapi masih
disalah-mengerti oleh orang lain. Akhirnya kita menjadi korban perasaan. Dalam
hal ini Tuhan menuntut kita untuk belajar rendah hati, tetap setia dan jangan
lupa kita juga harus mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dalam
Gereja. Menaggapi dengan benar semua persoalan sampai harus mengorbankan
perasaan, dan tidak jarang menahan sakit dan menghadapi kesulitan merupakan
salah satu korban penyembahan.
Dalam
keadaan yang menderita, tertekan, menerima fitnah, dan sebagainya, Tuhan
menuntut kita untuk belajar rendah hati, tetap setia, terus mengasihi Tuhan.
Ada bermacam-macam penyebab penderitaan, mungkin karena kondisi tertentu
misalnya bencana alam, atau kemiskinan
karena kemalasan. Akan tetapi ada orang yang taat pada Tuhan dan telah bekerja
keras namun tetap mengalami berbagai-bagai pencobaan sehingga dapat dikatakan
terus mengalami penderitaan. Ada kadar yang diizinkan Tuhan bagi orang yang
dikasihi-Nya untuk mengalami keadaan seperti itu. Allah tidak menjanjikan
kehidupan sukses materi bagi orang percaya, Allah juga tidak pernah berjanji menyingkirkan
hambatan dan kesulitan bagi kehidupan kita. Alkitab menyatakan kehendak Allah
bahwa Ia akan terus menyertai umat-Nya dalam penderitaan yang dialami. Ada
banyak janji-janji Tuhan berkenaan dengan hal itu.
Dalam
suratnya yang pertama, Petrus dengan tema utamanya tentang penderitaan
menuliskan: “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab
Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang
harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu,
melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu” (1 Ptr.
1:14-16). Korban yang tulus dan benar terkadang menyakitkan, akan tetapi itulah
korban yang dikehendaki Allah dalam penyembahan kita. Pada bagian lain Paulus
menuliskan: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan
biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu
Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu
dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat
menanggungnya” (1 Kor. 10:13).
Dari
dua ayat di atas, kita mendapatkan dua kebenaran yang dapat menghibur kita.
Pertama adalah bahwa penderitaan karena nama Kristus adalah kehendak Allah.
Harus diingat bahwa penderitaan ini bukan karena kemalasan yang menyebabkan
kemiskinan melainkan konsekwensi sebagai pengikut Kristus. Kedua, Allah ada
bersama kita dalam penderitaan yang kita alami, dan penderitaan itu tidak
melebihi kekuatan kita. Jadi kita jangan bersedih tatkala mengalami
berbagai-bagai kesulitan. Justru dalam keadaan yang seperti itu penyembahan
kita menjadi korban yang menyenangkan hati Allah.
Lalu
Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka:
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24). Memikul salib merupakan lambang dari
penderitaan dan ini dapat dikatakan sebagai syarat untuk mengikut Yesus. Dengan
memikul salib, maka seorang percaya dapat mempersembahkan yang terbaik kepada
Tuhan. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena dengan penderitaan, seseorang
membutuhkan komitmen yang lebih tinggi untuk tetap menyembah Tuhan.
Korban
nyawa
Pengorbanan
dengan kasih yang sungguh-sungguh mampu menjadikan seseorang merelakan nyawanya
sebagai korban. Tuhan Yesus sendiri mengalami banyak penderitaan. Murid-murid
juga mengalami penderitaan, dan hampir semua mereka ini mati sebagai martir.[7] Para murid
ini telah ditetapkan Allah untuk mati sebagai martir, dan kematian seperti ini
adalah kematian yang menyenangkan hati Allah.
Sebelu
naik ke Sorga, Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus seberapa ia mengasihi Tuhan
Yesus. Petrus pun menjawab bahawa ia mengasih Tuhan. Tuhan Yesus memberikan
pertanyaan yang sama sampai tiga lkali dan Petrus pun memberikan jawaban yang
sama. Setelah itu Tuhan Yesus mengatakan: “Sesungguhnya ketika engkau masih
muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja
kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan
tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang
tidak kaukehendaki. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus
akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh. 21:18-19a). Tuhan Yesus menghendaki
Petrus mengasihi-Nya dengan bersaksi samapi mengorbankan nyawanya. Petrus
dipanggil untuk memuliakan Allah dengan mati bagi Dia. Kesaksian sejarah
menyatakan bahwa Petrus meninggal, disalib terbalik.
Murid-murid
lain juga menerima panggilan yang kadarnya sama, sesuai dengan kehendak Tuhan.
Matius mati dengan cara tangan dan kakinya dipasak ke tanah lalu kepalanya
dipenggal. Lukas digantung pada zebuah pohon zaitun. Paulus dihukum mati
melalui pengadilan Romawi setelah dipenjara sekian lama. Dalam Perjanjian Lama,
Mikha dilemparkan ke dalam penjara. Yesaya dipotong-potong dengan gergaji.
Mereka ini semua telah mati sebagai korban yang harum bagi Allah. Allah
memanggil mereka berdasarkan kehendak dan tujuan-Nya kepada masing-masing
mereka. Ada yang dipanggil untuk menderita lebih lama (seperti Rasul Yohanes)
sebelum akhirnya mati sebagai martir. Ada Juga yang mati martir lebih cepat
(seperti Yakobus dan Stefanus) berdasarkan kehendak Allah. kita tahu bahwa
kematian mereka itu adalah kematian yang memuliakan Allah.
Konsep
yang sama juga berlaku bagi kita pada masa kini. Kesungguhan kasih kita diuji
dengan pertanyaan yang sama seperti yang Tuhan katakan kepada Petrus: “Apakah
engkau mengasihi Aku.” Apakah kita mengasihi Tuhan secara sungguh-sungguh
sampai kita rela mati sebagai martir kapanpun Tuhan mau? Apakah kita mengasihi
Tuhan dengan bersedia meninggalkan segala sesuatu lalu pergi sebagai misionaris
(penginjil) yang sewaktu-waktu bisa dibunuh. Pertanyaan ini mamang terlalu
berat dan kita punya alasan yang logis: masih mengurus keluarga, masih
dibutuhkan Gereja dan sebagainya.
Ketika
sedang menulis bagian ini, saya terharu sambil menangis. Saya mengaku mengasihi
Tuhan dan ingin berkorban bagi Tuhan, tetapi saya belum tentu bersedia pergi
untuk mati sebagai martir. Pertanyaan ini berlaku bagi kita semua: “Apakah kita
mengasihi Tuhan dan mau pergi memberitakan Injil dan akan mati sebagai martir?
Mungkin kita akan berkata: “Saya masih mengurus sekolah anak-anak, masih mengurus
orang tua yang sudah tua” atau berbagai alasan rohani yang akan kita berikan.
Padahal kita jelas-jelah mengetahui bahwa Allah menghendaki kita untuk
mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya. Dengan bersedia mati sebagai martir,
maka kita menunjukkan bahwa Tuhanlah yang utama dalam hidup kita.
Orang
yang sungguh mengasihi Tuhan mengetahui kebenaran dari perkataan Tuhan Yesus “Diberkatilah
mereka yang dianiaya demi kebenaran; karena merekalah yang akan empunya
Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10). Dianiaya tidak hanya dipahami sebagai perlakuan
yang diterima yang mengakibatkan penderitaan, melainkan penganiayaan yang
berujung pada pembantaian, pembunuhan secara sadis, ya sampai pada pengorbanan
nyawa.
Para
Rasul, jemaat mula-mula dan Bapak-bapak Gereja mengetahui kebenaran ini. Dengan
demikian maka tidak sedikit di antara mereka yang mati sebagai saksi Kristus.
Perkembangan dan perjalanan sejarah kekristenan tidak terlepas dari kematian
yang mengerikan dari orang-orang yang telah diizinkan Tuhan. Ribuan bahkan jutaan
orang-orang Kristen selama zaman kekaisaran Romawi pada abad pertama telah
menjadi martir. Buku Batu-batu
Tersembunyi menyajikan teladan pengorban yang telah diberikan oleh
orang-orang yang telah mendahului kita. Sesaat sebelum dihukum mati, Ignatius
pernah berkata: “Biarlah Iblis dan orang-orang jahat menyakitiku dengan segala
macam sakit dan penyiksaan, dengan api, dengan salib, dengan bertarung melawan
binatang buas, dengan tercerai-berainya anggota tubuhku; aku tidak terlalu
menghargai semuanya itu, karena Aku menikmati Kristus.” Tokoh-tokoh yang lain
juga memiliki prinsip yang sama “Mengambil bagian dalam pengorbanan Kristus.”
Mereka telah mempersembahkan pengorbanan tertinggi untuk menyenangkan Tuhan.
Ini adalah korban nyawa untuk menyenangkan hati Allah.
[1] Lihat: William
Dyrness, Tema-tema
dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1992),
133-137.
[2] Ibid. hal.,
133-135.
[3] RTB/S dalam
J.D.Douglas (ed.) Ensiklopedi Alkitab
Masa Kini, JIlid I, A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2008),
573.
[4] RTB/S dalam
J.D.Douglas (ed.) Ensiklopedi Alkitab
Masa Kini, JIlid II, A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,
2008), 581.
[5] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru 2 (Bandung:
Kalam Hidup, 1999), 172.
[6] Ruth F. Selan, Menggali
Keuangan Gereja (Bandung: Kalam Hidup, 1999), 68.
[7] Murid Kristus sejati
dikenal sebagai “Martir” atau yang kita kenal sebagai orang yang mati karena
kesaksian Injil. Dalam Perjanjian Baru, kata yang dipakai adalah martus atau marturos, yang diturunkan dari kata marturia yaitu kesaksian, kegiatan memberi kesaksian. Jadi,
mereka-mereka yang melakukan kegiatan bersaksi tentang Injil disebut sebagai martus atau marturos yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Martir. Secara
literal martir berarti “saksi.”
[8] John Mac Arthur, Prioritas Utama dalam Penyembahan (Bandung:
Kalam Hidup, 2001),184.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar