Senin, 05 September 2022

PENYEMBAHAN DAN KORBAN

 

Penyembahan dan Korban

 

Dengan memperhatikan trend yang terjadi di kalangan orang-orang pada masa  kini, maka penulis mengetahui bahwa banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai penyembah Allah, tetapi tanpa pengorbanan. Banyak orang Kristen yang mengikuti kebaktian, melayani dan bahkan telah menjadi full timer di suatu Gereja tetapi belum berkorban untuk Tuhan. Beberapa orang kaya mengklaim diri telah banyak memberikan persembahan dan sumbangan untuk Gereja dan pekerjaan Tuhan, akan tetapi pemberian mereka hanyalah sebagian kecil dari berlimpah kekayaan mereka. Pada sisi lain beberapa anggota jemaat yang memiliki banyak harta dari hasil pekerjaan mereka atau gaji dari instansi tempat mereka bekerja memberikan hanya sedikit dari harta mereka sebagai persembahan. Yang paling menyakitkan adalah bahwa persembahan yang mereka serahkan melalui kantong persembahan yang diedarkan hanya senilai dengan uang parkir yang biasa dibayar kepada tukang parkir mobil atau sepeda motor setelah mereka berbelanja dengan nilai jutaan rupiah.

Dalam hal komitmen, beberapa orang yang merasa telah lama menjadi orang Kristen dan telah memberikan banyak sumbangan, atau telah terlibat dalam pelayanan selama beberapa tahun ngotot untuk dimasukkan dalam struktur organisasi atau pelayanan di Gereja setempat. Dan sekalipun mereka telah menduduki struktur atau bagian pelayanan dalam Gereja, namun mereka masih lebih fokus mengurus pekerjaan atau bisnis mereka. Dalam hal ini  mereka akan melayani apbila tidak ada kegiatan bisnis yang mendesak. Akan tetapi apabila ada kepentingan bisnis, mereka akan meninggalkan pelayanan atau meminta pelayan lain menggantikan mereka. Ketika dikonfirmasi akan kenyataan ini, biasanya para pendeta pebisnis ini mengatakan bahwa mereka mengurusi bisnis itu demi kepentingan Gereja. Inikah yang dimaksudkan oleh Kitab Suci sebagai pengorbanan? Tentu saja bukan.

Alkitab secara keseluruhan memberikan konsep yang sama sekali berbeda dengan kenyataan di atas. Orang-orang seperti di atas sesungguhnya belum berkorban untuk menyembah Tuhan. Sekalipun mereka mengklaim telah berkorban untuk pekerjaan Tuhan, namun pengorbanan yang mereka berikan hanya sebagian kecil jika dibanding dengan pengorbanan yang mereka bayarkan untuk kepentingan pribadi, pekerjaan atau bisnis mereka. Secara konsisten Alkitab memberikan informasi tentang penyembahan yang melibatkan pengorbanan. Orang-orang yang berkomitmen mengasihi Tuhan harus bersedia berkorban harta, waktu, tenaga dan bahkan perasaan. Kitab Suci mengungkapkan kebenaran tentang pengorbanan yang benar dalam penyembahan.

 

1.      Korban dalam Kitab Suci

 

Pada hakikatnya, korban merupakan bagian dalam ritual penyembahan, bukan saja hanya berlaku dalam kekristenan, melainkan dalam semua agama dan kepercayaan. Kenyataan ini pun disaksikan oleh Kitab Suci (band. Hak 16:23; 1Sam 6:4; 2Raj 3:27; 5:17). Bahkan  kesejajaran yg berasal dari bangsa-bangsa sekitar dikemukakan untuk menjelaskan korban dalam masyarakat Israel. Dan korban yang dilaksanakan dalam sistem penyembahan Israel menjadi dasar pemahaman akan pengorbanan yang sejati dalam Perjanjian Baru. Untuk mendapatkan pemahaman yang memadai tentang korban dalam penyembahan, maka dua bagian penting korban yang diungkap secara progresif dalam Alkitab yaitu korban dalam Perjanjian Lama dan korban dalam Perjanjian Baru akan dibahas di bawah ini.

 

Korban dalam Perjanjian Lama

Salah satu tema yang penting dalam Perjanjian Lama adalah korban untuk ritual ibadah atau penyembahan. William Dirness, dalam bukunya Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama membahas korban dan penyembahan sebagai salah satu pokok penting Perjanjian Lama.[1] Dapat dikatakan bahwa penyembahan dalam Perjanjian Lama senantiasa melibatkan korban. Dan tanpa korban atau wujud persembahan, penyembahan tidak diperkenankan Allah. Itulah yang dipesankan Tuhan kepada Musa ketika Ia mengatakan: “Janganlah orang menghadap ke hadiratku dengan tangan hampa” (Kel. 23:15; 34:20; Ul. 16:15).

Adalah penting bahwa korban-korban yang pertama sekali disebut dalam Perjanjian Lama bukanlah korban sembelihan zevakhim, melainkan korban persembahan Kain dan Habel (minkha, Kej. 4:3,4) dan korban bakaran Nuh (’ola, Kej. 8:20). Di sinilah pertama kali muncul sebutan mezbah.  Dalam perkembangan kemudian, korban dalam penyembahan menjadi sebuah sitem yang ditetapkan oleh Allah bersamaan dengan upacara keagamaan.

Kitab Imamat mengatur secara detail sistem korban dalam Perjanjian Lama, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaannya. Menurut Dyrness, setidaknya ada empat jenis korban yang umum dalam upacara keagamaan Israel yaitu korban bakaran (’ola), yaitu sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah atas nama si penyembah; korban sajian (minhah), semacam upeti kepada Allah demi kemauan baik; korban keselamatan (zebah atau selamin), sebagai ucapan syukur kepada Allah atau sebagai pembayaran suatu nazar; dan korban korban penebus salah atau penghapus dosa (‘asam atau hatta’at).[2] Selain itu ada jenis-jenis korban khusus yang dipersembahkan kepada Allah berhubungan dengan perayaan seperti korban paskah dan korban hari raya lainnya, atau korban perjanjian dan pemulihan perjanjian.

Motif-motif korban zaman itu, juga ihwal memuliakan Allah dan pengucapan syukur atas kebaikan-Nya adalah nyata, tapi kemungkinan adanya pemikiran yang lebih khidmat tak dapat ditiadakan. Korban persembahan Nuh harus dilihat tidak melulu sebagai korban pengucapan syukur karena kelepasan, tapi juga sebagai korban pertobatan atau penebusan dosa. Ketika Yakub pergi ke Mesir (Kej 46:) ia berhenti untuk bertanya kepada Allah, dan mempersembahkan korban (zevakh) yg mungkin bersifat pertobatan. Di Mesir Israel dipanggil untuk mempersembahkan korban khidmat di padang gurun (Kel 5:3, zevakh), yang menuntut persembahan berupa hewan (Kel 10:25,26) dan dibedakan dari korban persembahan orang Mesir manapun (Kel 8:26). [3]

Korban-korban Perjanjian Lama memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita umat Allah pada masa kini antara lain:

Pertama, Allah menuntut korban yang terbaik dari umat-Nya. Ini adalah suatu keharusan dan bukan pilihan. Allah menyatakan ketegasan-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang sempurna. Allah tidak berkenan akan kewan korban yang cacat. Dalam Maleakhi 1:6-14, Allah mencela korban-korban yang dipersembahkan oleh bangsa Israel karena mereka mempersembahkan binatang yang cacat. Persembahan semacam itu merupakan penghinaan terhadap Allah. Maka Allah pun jijik dengan persembahan  itu. Allah tidak berkenan menerima korban dan persembahan dari sisa-sisa keuangan kita. Allah juga tidak menghendaki korban atau sumbangan dari barang-barang yang sudah tidak dipakai. Mungkin itu lebih cocok dipersembahkan saja ke Panti Asuhan dari pada dipersembahkan ke Gereja. Allah menghendaki korban dari harta kita yang terbaik, entah jumlahnya, juga prioritasnya. Ada kalanya seseorang memberikan sumbangan atau persembahan setelah tidak ada kepentingan lain. Jika ada kepentingan lain, maka persembahan akan dipangkas. Ini bukanlah korban. Korban yang sesungguhnya terkadang menyakitkan, yaitu tatkala kita bersedia memangkas kebutuhan yang lain demi korban persembahan kita. Itulah tuntutan dalam korban penyembahan.

Kedua, korban dalam Perjanjian Lama berlangsung secara kontiniutif dan konsistensif. Ada korban yang dipersembahkan setiap hari yaitu pagi dan sore, ada korban mingguan, dan ada korban perayaan tahunan maupun musiman. Jumlah persembahannya juga tidak boleh dikurangi dari aturan yang sudah ditetapkan. Ini memberikan pengertian bahwa korban itu bukan berdasarkan mood. Memang banyak jemaat yang bersedia berkorban lebih banyak atau memberikan sumbangan yang banyak apabila kebijakan Gereja sesuai dengan keinginannya, atau apabila suasana hatinya mendorongnya untuk memberikan lebih. Akan tetapi apabila merasa tidak cocok, ia akan mengurangi persembahan atau sumbangannya. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa penyajian korban harus berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan, tidak bergantung mood. Oleh karena itu, persembahan harus dilakukan dengan perencanaan dan persiapan yang matang.

Ketiga, Allah menuntut korban ketika menghadap kehadirat-Nya. Berkali-kali Allah memperingatkan umat Allah supaya tidak datang ke hadapan-Nya dengan tangan hampa, yaitu tanpa korban. Ide utama korban dalam Perjanjian Lama ditemukan dalam kata kerja Ibrani kipper yang biasanya diterjemahkan “mendamaikan” atau “menutupi” (Im. 1:4). Artinya orang yang menghadap ke hadirat-Nya harus menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang tidak mungkin lepas dari dosa dan oleh karenanya harus berdamai dengan Allah.  Maka prinsip yang penting dalam hal ini adalah hubungan dengan Allah, bagaimana menghormati hadirat Allah dengan korban itu. dalam Perjanjian Baru, Kristus telah menggenapi korban itu sehingga setiap orang dapat menghadap ke hadirat Allah dengan iman kepada Yesus Kristus. Maka tidaklah benar apabila ada orang-orang yang tidak datang ke Gereja karena tidak ada persembahan. Justru orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan akan mempersiapkan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada-Nya.

 

Korban dalam Perjanjian Baru

Korban-korban menurut Perjanjian Lama masih dipersembahkan selama periode penyusunan Perjanjian Baru. Akan tetapi, tema sentral dalam Perjanjian Baru adalah korban Kristus. Korban dalam Perjanjian Lama  hanyalah merupakan penuntun ke dalam korban yang sesungguhnya, yang sempurna dalam Perjanjian Baru. Pemahaman yang benar akan korban Kristus membawa kita pada konsep penyembahan yang benar. Sebab secara substansi, korban Kristus menjadi dasar penebusan kita. Tanpa korban, tidak ada penebusan dan tanpa penebusan kita tidak mungkin selamat. Sebaliknya, dengan kenyataan korban Kristus, maka kita mendapat bagian dalam anugerah Allah, dan dalam anugerah itulah kita menyembah Allah dengan mempersembahkan korban syukur.

Korban Kristus adalah kegenapan janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama. Kristus dikatakan Domba Allah yang disembelih, darah-Nya yang suci meniadakan dosa dunia (Yoh. 1:29,36; 1Ptr. 1:18; Why. 5:6-10; 13:8). Lebih khusus lagi, Ia dikatakan domba Paskah yg sesungguhnya (pasakh, 1 Kor. 5:5-8). Perjanjian Baru terus-menerus menyamakan Tuhan Yesus dengan Hamba yang menderita di dalam Yesaya 52:1-53:12 yang adalah korban penghapus dosa, yang menghapuskan kesalahan (Dan. 9:24). Perjanjian Baru menggunakan istilah “pendamaian” dan “tebusan” tentang Kristus dalam pengertian korban, dan pemikiran mengenai hal disucikan oleh darah-Nya (1Yoh. 1:7).[4]

Doktrin tentang itu dikembangkan paling terpadu dalam Surat Ibrani. Penulis menekankan pentingnya kematian dalam korban Kristus, yakni kematian-Nya sendiri (Ibr. 2:9,14; 9:15-17,22,25-28; 13:12,20), dan kenyataan bahwa kematian-Nya sebagai korban adalah genap dan tuntas (Ibr. 1:3; 7:21; 9:12,25-28; 10:10,12-14,18). Paulus menggambarkan kematian Kristus sebagai “korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:2).

Dalam pengorbanan Kristus, ada aspek yang sangat penting yaitu darah-Nya yang tercurah, yang mana Paulus membicarakannya sebagai domba Paskah yang tersembelih (1 Kor. 5:7). Dalam Perjanjian Baru, darah berarti kehidupan yang diambil dengan paksa, kehidupan yang dipersembahkan sebagai kurban. Ladd memaknainya sebagai kehidupan yang diserahkan sebagai korban.[5] Itulah korban Kristus yang sesungguhnya.

Selanjutnya, penulis Ibrani mengemukakan bahwa Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban, sekali untuk selama-lamanya (Ibr. 7:27). Korban ini sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang percaya kepada-Nya (Ibr. 7:24) sehingga kita tidak perlu lagi mencurahkan darah kita untuk keselamatan pribadi. Dalam  bahasa teologi, konsep ini disebut sebagai korban subtitusional (pengganti), yang berarti korban kematian Kristus bukan hanya mewakili umat tebusan, melainkan dipahami sebagai kematian yang menggantikan orang-orang percaya. Dengan kematian Kristus, maka orang-orang percaya tidak mengalami pengalaman kematian yang dahsyat itu.

Dalam Roma 6:1-4, Paulus mengungkapkan kematian subtitusional Kristus “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Selanjutnya, kita yang telah mendapat bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus perlu mempersembahkan keseluruhan hidup kita sebagai senjata-senjata kebenaran (Rm. 6:12-13).

Sebagai implikasinya, ada satu nilai terpenting dalam korban Kristus, yaitu penyerahan hidup kepada Allah. Dengan pemahaman akan korban Kristus, maka kita wajib mempersembahkan hidup kita, dengan segala ketaatan untuk dijadikan sebagai korban yang menyenangkan hati Allah. Kristus telah memberikan kemenangan dengan mengalahkan kuasa maut, maka kita memiliki kuasa untuk menang, mengatasi segala kedagingan kita, dan mempersembahkan hidup kita sebagai korban. Itulah konsep penyembahan yang dikemukakan dalam Perjanjian Baru.

 

2.      Hubungan Penyembahan dan Korban

Penyembahan tidak dapat dipisahkan dari pada korban, karena korban merupakan elemen utama dalam penyembahan. Dalam sistem kepercayaan manapun juga, ritual penyembahan selalu melibatkan pengorbanan. Jauh sebelum bangsa Israel menerima Taurat dan berbagai penjelasan tentang korban, bangsa-bangsa kafir telah menyelenggarakan ritual korban dalam penyembahan-penyembahan mereka. Demikianlah setiap agama di dunia ini selalu melibatkan apa yang namanya korban dalam penyembahan. Dalam tradisi agama-agama kuno, mereka mempersembahkan hewan kurban, sebagai penyembahan untuk ilah-ilah mereka. Tidak jarang juga mereka mempersembahkan anak kandung mereka untuk menyenangkan dewa-dewa yang mereka sembah. Maka sangat aneh apabila beberapa orang Kristen berambisi mengambil bagian pelayanan Gerejawi tetapi tidak mau berkorban, tidak mau rugi, apalagi mempersembahkan hidup kepada Allah.

Pada intinya, penyembahan adalah memberikan sesuatu kepada Allah. Tindakan penyembahan adalah tindakan memuliakan Allah, dan dalam usaha untuk memuliakan Allah, seseorang dituntut untuk rela menderita. Penderitaan kita dalam hal ini adalah untuk kemuliaan Allah. Penyembahan yang benar tidak mungkin berlangsung tanpa pengorbanan, dan tanpa pengorbanan, penyembahan tidak mungkin berkenan kepada Allah. Harus ada yang diberikan kepada Allah dalam penyembahan. Ini bukan hanya masalah harta, yang utama adalah memberikan ucapan syukur yang memuliakan nama-Nya.

Tokoh-tokoh dalam Alkitab menunjukkan teladan pengorbanan dalam melayani/menyembah Tuhan. Mereka sungguh telah melihat dan mengalami kasih Allah, maka mereka tersungkur di hadapan Tuhan. Bagi orang yang telah melihat kemuliaan Allah, tiada lain yang dapat dilakukan selain mempersembahkan seluruh hidup mereka untuk menyembah Tuhan. Abraham yang dikenal sebagai Bapak orang beriman telah mengorbankan banyak hal dalam menyembah Tuhan. Bahkan dalam Kejadian 22:1-19, dilaporkan bahwa Abraham bersedia menyembelih anak satu-satunya sebagai korban demi ketaatan dan penyembahan kepada Allah. Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel dan banyak nabi-nabi yang lain telah berkorban dalam pelayanan kenabian mereka. Ini mereka lakukan bukan berdasarkan ketaatan subyektif, melainkan karena mereka telah mengalami kemuliaan Allah. Para nabi ini mampu melihat secara profetik kebaikan Allah yang sungguh tiada taranya, sehingga mereka bersedia mengorbankan segalanya untuk menyembah Tuhan.

Terlebih lagi-tokoh-tokoh Perjanjian Baru, semua murid Tuhan (mungkin kecuali Rasul Yohenes) telah menjadi martir (orang yang mati karena kesaksian tentang Kristus) karena mereka telah mengalami sendiri korban dan penebusan Kristus. Menurut kesaksian Sejarah Gereja, Matius dipasak di tanah, Petrus disalib terbalik, Lukas digantung di sebuah pohon zaitun, Paulus mati dalam penjara, Yohanes Pembaptis juga dipenggal kepalanya, dan Rasul Yohanes dibuang ke pulau Patmos.

Pertanyaan yang bisa muncul adalah “Mengapa murid-murid Tuhan  mau berkorban sedemikian?” Jawabannya adalah karena mereka telah mengalami penebusan Kristus. Mereka tahu bahwa mereka hidup bukan lagi untuk diri mereka sendiri melainkan untuk memuliakan Allah. Maka mereka rela berkorban demi Kristus yang telah berkorban untuk mereka. Bagi mereka, tiada penyembahan yang lebih berharga dari pada menyerahkan seluruh hidup untuk melaksanakan perintah Tuhan, walaupun itu itu tidak mungkin lepas dari penderitaan. Penderitaan itu adalah korban persembahan yang menyenangkan hati Allah. Stefanus yang penuh dengan Roh Allah, dirajam batu sampai mati sembari bersaksi tentang Kristus (band. Kis. 7). Ada kehangatan kasih Allah yang berkobar dalah hati Stefanus sehingga ia tidak mungkin menahan mulutnya untuk bersaksi. Dengan bersaksi tentang Kristus, maka ia menyembah Allah walaupun itu harus dibayar dengan korban yang mahal, yaitu nyawanya sendiri.

Zakheus yang sudah bukan rahasia lagi dikenal sebagai seorang pemeras, setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus bersedia mempersembahkan setengah hartanya untuk orang-orang miskin, dan mengembalikan empat kali lipat uang dari orang-orang yang pernah ia peras (Luk. 19:1-10). Di sini kita melihat adanya perubahan paradigma seseorang yang telah berjumpa dengan Yesus. Orang yang awalnya seorang yang kikir kini menjadi dermawan, dan orang yang sebelumnya pemeras, kini menjadi pemurah. Ini representasi kehangatan kasih kepada Allah. Ada semangat yang berkobar untuk berkorban. Penyembahan berhubungan erat dengan korban.  Dapat dikatakan bahwa penyembahan identik dengan korban.

 

3.      Macam-macam Pengorbanan

Telah dibicarakan sebelumnya bahwa penyembahan menyangkut seluruh bidang kehidupan kita, maka dengan demikian pengorbanan juga menyangkut segala hal yang kita miliki baik material maupun immaterial. Dalam pembahasan ini, ada beberapa macam korban penyembahan yang dapat dipersembahkan kepada Allah sebagai wujud kasih kita kepada-Nya yaitu korban harta, korban waktu, tenaga dan pikiran korban perasaan, dan korban nyawa.

 

Korban harta

Dalam ritual penyembahan agama-agama kuno, korban harta berupa hewan kurban atau yang lainnya merupakan bagian yang tidak mungkin dihindari. Demikian juga dalam Perjanjian Lama, harus ada harta yang dipersembahkan tatkala menghadap kepada Allah dalam penyembahan. Melalui Musa, Allah mengatur sistim penyembahan dengan korban-korban. Konsep ini pun diterapkan oleh orang-orang Majus dari Timur, yang walaupun mereka bukanlah orang-orang yang mengenal Allah, namun ketika datang menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus, mereka mempersembahkan harta benda mereka yang paling mahal yaitu emas, kemenyan dan mur (Mat. 2:11).

Dalam sejarah Gereja pada zaman rasuli, dilaporkan bahwa jemaat mula-mula mempersembahkan seluruh harta milik mereka untuk mendukung persekutuan mereka dan menolong sesama yang berkekurangan. Bahkan oleh kehangatan kasih kepada Tuhan, Yusuf yang juga disebut Barnabas bersedia menjual ladang miliknya, dan kemudian uangnya diserahkan kepada rasul-rasul untuk mendukung pekerjaan Tuhan (Kis. 4:32-36). Pada masa itu, jemaat saling mendukung sehingga tidak ada yang berkekurangan di antara mereka. Inilah prinsip pelayanan dan penyembahan yang sesungguhnya; memberi, berkorban dan bukan mencari keuntungan.

Dalam 2 Korintus 8:1-5, Paulus menceritakan teladan pengorbanan dari jemaat-jemaat di Makedonia. “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami” (2 Kor. 8:2-5). Jemaat-jemaat ini sangat berkobar akan kasih kepada Allah. Mereka terdorong oleh pemahaman akan keselamatan yang telah mereka terima untuk mendukung pekerjaan Tuhan, dan mereka berkorban melebihi kemampuan mereka.

Seseorang yang mengasihi Tuhan bersedia memberikan persembahan melebihi kemampuan yang ia miliki. Mengasihi Tuhan juga berarti bersedia memberikan hasil pertama, harta yang terbaik dari apa yang dimiliki. Maka seseorang yang mengklaim diri sebagai penyembah Tuhan patut bersedia mengorbankan harta miliknya untuk pekerjaan Tuhan dan kegiatan Gerejawi. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan tidak keberatan apabila harus memberikan sumbangan untuk kegiatan-kegiatan ibadah, juga termasuk pembangunan rumah ibadah. Maka dengan adanya kegiatan-kegiatan khusus dari Gereja seperti Kebaktian-kebaktian Kebangunan Rohani, atau Perayaan Natal, Paskah dan sebagainya merupakan kesempatan bagi orang percaya untuk berkorban bagi Tuhan.

Uang atau harta yang kita miliki dikehendaki oleh Allah untuk mendukung dan menolong orang lain yaitu sesama orang percaya yang menderita, orang-orang miskin, janda-janda dan anak-anak yatim. Dalam Perjanjian Lama, Allah memerintahkan umat Israel untuk menolong orang miskin sehingga setiap hasil panen harus disisakan untuk orang miskin (Im. 19:9-10). Tuhan Yesus mengajar untuk bermurah hati dan menolong orang miskin (Mat. 5:42). Paulus juga mengajak Jemaat Korintus mengumpulkan uang untuk menolong saudara yang susah di Yerusalem (1 Kor. 16:1-4). Dalam Perjanjian Baru, banyak ayat yang membicarakan tentang kewajiban untuk mendukung saudara yang susah, menolong janda-janda dan anak-anak yatim. Dalam sejarah Gereja Kuno, kewajiban ini disebut sebagai derma yang sifatnya tidak memaksa, tetapi kita harus tahu bahwa itu adalah kewajiban yang harus kita lakukan. Kita mengasihi dan menyembah Tuhan dengan cara mengorbankan harta milik kita bagi orang lain.

Dalam bukunya Menggali Keuangan Gereja, Selan mengungkapkan bahwa orang-orang yang hanya membayar persembahan persepuluhan di Gereja dengan mengikuti ibadah secara normal masih dianggap sebagai kasih yang dingin.[6] Mempersembahkan persembahan persepuluhan dan kewajiban lainnya belumlah cukup untuk dianggap setia kepada Tuhan. Seseorang yang menyembah Tuhan dengan sungguh seharusnya mempersembahkan hartanya lebih banyak lagi, bahkan lebih banyak dari yang ia pergunakan. Itulah kasih dengan suhu yang panas, suatu korban penyembahan yang menggugah hati Tuhan. Rick Warren mengaku mempersembahkan sembilan puluh persen untuk pekerjaan Tuhan dari semua penghasilan dan royaltinya. Ini teladan kasih yang hangat dengan korban harta milik kepada Tuhan. Seseorang yang sungguh menyembah Allah tidak mungkin tidak mengorbankan harta miliknya. Klaim penyembahan tanpa pengorbanan hanyalah kepalsuan.

Dalam kehidupan sebagai jemaat, seseorang yang sungguh mengasihi Tuhan tentu akan mempersiapkan persembahan yang akan ia persembahkan pada saat kebaktian. Seorang jemaat yang setia kepada Tuhan patut mempersiapkan persembahan untuk kebaktian hari Minggu beberapa hari sebelumnya. Artinya dalam hal mempersembahkan persembahan pun harus dilakukan dengan persiapan dan perencanaan. Kita patut menyisihkan uang-uang persembahan yang akan kita serahkan melalui kantong kolekte pada saat kebaktian. Maksudnya bahwa persembahan untuk Kebaktian Raya pada hari Minggu seharusnya sudah kita siapkan jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga pada hari Sabtu, tepat sehari sebelum kebaktian, semua persembahan sudah dipersiapkan. Inilah gaya hidup seorang penyembah Allah.

 

 

Korban waktu, tenaga dan pikiran

Selain bersedia mengorbankan harta miliknya, seorang penyembah yang benar juga harus bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya. Mungkin banyak orang yang pada kenyataannya tidak dapat memberikan lebih banyak dari harta yang mereka miliki, karena memang mereka hanya memiliki penghasilan yang pas-pasan. Akan tetapi Allah memberikan kesempatan untuk berkorban dalam bentuk lain yaitu korban waktu dan tenaga. Memang ada kecenderungan bahwa orang-orang kaya dengan persembahan dan sumbangan-sumbangan yang besar akan dianggap lebih rohani dari pada orang-orang yang hanya bisa mengorbankan waktu dan tenaganya untuk melayani dan beribadah di Gereja. Dalam pandangan Allah, tidak ada diskriminasi kepada orang-orang yang tidak dapat memberikan persembahan yang besar. Allah sungguh memandang dan memperhatikan pengorbanan setiap orang di hadapan-Nya, entah pengorbanan harta, pengorbanan waktu, tenaga maupun pikiran.

Seseorang yang sungguh menyembah Allah harus bersedia menghabiskan banyak waktunya untuk pekerjaan Tuhan, dengan ibadah atau pelayanan. Prioritas kepada Allah membawa seseorang untuk mengesampingkan semua urusan lainnya termasuk bisnis, hobi, dan liburan. Banyak orang sekalipun mengetahui kebenaran, namun menganggap penyembahan sebagai kesempatan untuk mengisi kekosongan, menyegarkan kembali pikiran atau mencarai aktifitas sambil menunggu aktivitas lainnya. Konsep semacam ini tidak dapat dikategorikan sebagai korban waktu karena waktu yang dipergunakan itu hanya untuk mengisi waktu luang. Penyembahan bukan hanya melibatkan korban harta saja melainkan juga melibatkan pengorbanan waktu, pikiran dan tenaga. Allah menghendaki umat-Nya memiliki waktu yang tetap dengan-Nya, dan dengan waktu yang diatur dengan baik, maka segala aktifitas lain harus ditunda.

Adakalanya kita harus menunda banyak pekerjaan demi kegiatan penyembahan. Kita harus bangun pagi-pagi lalu berdoa, dan mungkin itu sedikit menghabiskan jatah waktu istrahat kita, atau mungkin kegiatan ibadah banyak menyita kesempatan untuk berlibur. Dalam kehidupan sebagai penyembah Allah, mungkin kita banyak  melewatkan kesempatan untuk menikmati kehidupan sebagaimana layaknya orang-orang yang seharusnya menikmati kehidupan. Akan tetapi dengan menghabiskan waktu bersama dengan Tuhan, kita juga akan menemukan kenikmatan rohani yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Mengorbankan waktu dengan penuh kesungguhan merupakan kegiatan yang menyenangkan hati Tuhan.

Sesaat sebelum ditangkap, murid-murid sudah sangat lelah sehingga mereka tertidur. Akan tetapi Tuhan Yesus mempergunakan kesempatan itu untuk berdoa, penulis Kitab-kitab Injil melaporkan bahwa tiga kali Tuhan Yesus maju untuk berdoa dan tiap kali Ia pulang, Ia mendapati murid-murid-Nya sudah tertidur. Doa Tuhan Yesus mungkin banyak ditafsirkan berhubungan dengan kegentaran karena tahu bahwa Ia akan ditangkap, namun bagaimanapun juga dalam hal ini Tuhan Yesus harus mengesampingkan kesempatan untuk beristirahat. Padahal kita tahu bahwa bukan hanya murid-murid yang sangat lelah, Tuhan Yesus juga sangat lelah. Selanjutnya Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mrk. 14:37).

Paulus menggambarkan seorang pengikut Kristus dengan tiga analogi yaitu: prajurit, olahragawan, dan petani. Dalam analogi sebagai seorang prajurit, Paulus mengungkapkan bahwa seorang pengikut Kristus tidak memusingkan diri dengan soal-soal kehidupannya (2 Tim. 2:4). Artinya bagi kita sebagai pengikut Kristus tidak ada waktu yang lebih besar selain digunakan untuk menyembah Tuhan, yaitu dengan melakukan kehendak-Nya, beribadah, melayani dan bersaksi. Semua waktu kita harus digunakan untuk memuliakan Tuhan.

Di tengah-tengah kesibukan, seorang penyembah Tuhan harus mempersiapkan waktu untuk beribadah dengan Tuhan. Orang percaya harus mengatur banyak waktu untuk menyembah Tuhan. Ada banyak kegiatan penyembahan yang dapat dilakukan bersama-sama di Gereja. Akan tetapi waktu yang harus disiapkan adalah kesempatan untuk berdoa secara pribadi, kemudian waktu yang harus dipersiapkan untuk ibadah keluarga atau yang sering disebut “mezbah keluarga,” baru kemudian mengatur waktu untuk datang beribadah dalam kebaktian-kebaktian di Gereja atau dalam komunitas lainnya seperti Persekutuan doa, Pendalaman Alkitab dan sebagainya. Dalam banyak kegiatan, Tuhan Yesus senantiasa mengambil kesempatan untuk berdoa kepada Allah secara pribadi. Waktu-waktu yang kita berikan untuk Tuhan, dapat dikonversi sebagai korban penyembahan kepada Tuhan.

Mengorbankan tenaga merupakan wujud yang lebih konkrit dari kegiatan penyembahan. Dalam Perjanjian Lama dikatakan “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5). Tiga unsur yang terlibat dalam hal ini yaitu hati, jiwa dan kekuatan “tenaga.” Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menambahkan satu unsur lagi yang harus dilibatkan dalam mengasihi Tuhan yaitu pikiran atau akal budi. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat. 22:37). Jadi, dalam kasih dan penyembahan kepada Tuhan, “tenaga” dan “pikiran” menjadi hal yang patut dikorbankan sebagai persembahan kepada Tuhan.

Paulus bersaksi dengan benar bahwa dalam pelayanan dan penyembahan, ia harus mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya. Bahkan ia telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk memuliakan Allah, dan dengan pengorbanan itu, ia hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan kepentingan yang patut bagi dirinya. Dalam hal ini Paulus memberikan teladan pengorbanan.

Kebenaran ini tidak boleh disalah-artikan. Memang benar bahwa seseorang harus mengorbankan banyak hal dalam kegiatan penyembahannya. Akan tetapi pengorbanan yang dimaksud harus diimbangi dengan perhatian kepada keluarga. Mengabaikan keluarga, istri dan anak-anak dengan alasan kegiatan pelayanan atau penyembahan tidak dapat dibenarkan. Pada zaman-Nya, Tuhan Yesus mengecam orang Farisi: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat. 23:23). Tuhan Yesus mencela cara ibadah mereka yang mengutamakan kegiatan keagamaan tetapi mengabaikan kewajiban yang lain, termasuk kewajiban untuk mengurus orang tua atau keluarga.

Allah sangat menghendaki penyembahan umat-Nya, tetapi tidak menginginkan kita mengabaikan keluarga. Artinya kita harus memiliki banyak waktu untuk keluarga. Justru dalam kebersamaan ini kita melakukan penyembahan yang lebih baik melalui kemesraan dan doa keluarga. Dalam konsep Kristen prioritas urutan-urutan prioritas dimulai dari keluarga, kemudian pelayanan, baru pekerjaan, dan yang terakhir adalah hobi, piknik dan sebagainya. Dalam kesemuanya itu Allah harus menjadi pusat kehidupan kita. Jadi megorbankan waktu, pikiran dan tenaga dalam penyembahan harus dipahami dalam kebenaran yang tidak boleh mengorbankan kemesraan rumah tangga. Dalam hal ini kita dapat menyembah Tuhan, mengorbankan apa yang bisa dipersembahkan dan tidak mengabaikan hal-hal penting yang lain.

 

Korban Penderitaan

Selain korban harta, korban waktu, tenaga maupun pikiran, seorang penyembah juga harus bersedia menderita. Dalam pengajarannya kepada para murid, Tuhan Yesus berkali-kali memperingatkan bahwa semua pengikutnya akan mengalami banyak penderitaan, penolakan dan bahkan dikucilkan oleh keluarganya. “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu” (Yoh. 16:2-4a).

Sejarah Kekristenan menggenapi apa yang telah dikatakan oleh Tuhan Yesus. Diskriminasi, penyiksaan, pembantaian dan sebagainya merupakan bagian dari kehidupan kekristenan. Orang-orang percaya di negara-negara yang tidak mengakui kekristenan mengalami banyak penderitaan. Dalam hal ini orang-orang percaya dapat dikatakan menjadi korban. Iman orang-orang percaya dalam keadaan seperti ini sungguh teruji. Kehendak Allah menuntut kesetiaan, dan tidak lari dari kenyataan. Kesetiaan dalam keadaan inilah yang dapat menjadi korban yang harum kepada Allah.

Dalam konteks  pelayanan dan kejemaatan, tidak jarang seorang percaya harus mengorbankan perasaannya. Oleh kenyataan bahwa memang orang-orang percaya bukanlah orang-orang yang sudah sempurna, maka ada kalanya terjadi kesalahpahaman di antara sesama jemaat, atau sesama pelayan. Seorang penyembah Allah harus memahami salah satu prinsip, yaitu bahwa penyembahan kepada Allah menuntut pengorbanan, dan tidak jarang termasuk korban perasaan. Kedewasaan seseorang akan teruji dalam menanggapi keadaan ini. Ada kalanya kesungguhan hati kita dalam menyembah Tuhan menjadi bahan tertawaan bagi orang lain, bukan karena kita salah, melainkan karena cara yang kita lakukan berbeda dengan cara yang biasanya dilakaukan secara umum.

Tidak jarang seorang yang begitu giat menyembah Tuhan akan mengalami banyak pertentangan, cemoohan, maupun salah paham dari orang lain. Ketika seseorang semakin sungguh mengasihi Tuhan, bukan tidak mungkin ujian ketaatan itu semakin tinggi. Dalam konteks pelayanan, kita tak jarang mengalami perlakuan tidak adil dari orang lain bahkan mungkin datangnya dari sesama pelayanan atau jemaat. Kita merasa sudah taat, melayani dengan sepenuh hati, tetapi masih disalah-mengerti oleh orang lain. Akhirnya kita menjadi korban perasaan. Dalam hal ini Tuhan menuntut kita untuk belajar rendah hati, tetap setia dan jangan lupa kita juga harus mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dalam Gereja. Menaggapi dengan benar semua persoalan sampai harus mengorbankan perasaan, dan tidak jarang menahan sakit dan menghadapi kesulitan merupakan salah satu korban penyembahan.

Dalam keadaan yang menderita, tertekan, menerima fitnah, dan sebagainya, Tuhan menuntut kita untuk belajar rendah hati, tetap setia, terus mengasihi Tuhan. Ada bermacam-macam penyebab penderitaan, mungkin karena kondisi tertentu misalnya bencana alam, atau  kemiskinan karena kemalasan. Akan tetapi ada orang yang taat pada Tuhan dan telah bekerja keras namun tetap mengalami berbagai-bagai pencobaan sehingga dapat dikatakan terus mengalami penderitaan. Ada kadar yang diizinkan Tuhan bagi orang yang dikasihi-Nya untuk mengalami keadaan seperti itu. Allah tidak menjanjikan kehidupan sukses materi bagi orang percaya, Allah juga tidak pernah berjanji menyingkirkan hambatan dan kesulitan bagi kehidupan kita. Alkitab menyatakan kehendak Allah bahwa Ia akan terus menyertai umat-Nya dalam penderitaan yang dialami. Ada banyak janji-janji Tuhan berkenaan dengan hal itu.

Dalam suratnya yang pertama, Petrus dengan tema utamanya tentang penderitaan menuliskan: “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu” (1 Ptr. 1:14-16). Korban yang tulus dan benar terkadang menyakitkan, akan tetapi itulah korban yang dikehendaki Allah dalam penyembahan kita. Pada bagian lain Paulus menuliskan: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Kor. 10:13).

Dari dua ayat di atas, kita mendapatkan dua kebenaran yang dapat menghibur kita. Pertama adalah bahwa penderitaan karena nama Kristus adalah kehendak Allah. Harus diingat bahwa penderitaan ini bukan karena kemalasan yang menyebabkan kemiskinan melainkan konsekwensi sebagai pengikut Kristus. Kedua, Allah ada bersama kita dalam penderitaan yang kita alami, dan penderitaan itu tidak melebihi kekuatan kita. Jadi kita jangan bersedih tatkala mengalami berbagai-bagai kesulitan. Justru dalam keadaan yang seperti itu penyembahan kita menjadi korban yang menyenangkan hati Allah.

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24). Memikul salib merupakan lambang dari penderitaan dan ini dapat dikatakan sebagai syarat untuk mengikut Yesus. Dengan memikul salib, maka seorang percaya dapat mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena dengan penderitaan, seseorang membutuhkan komitmen yang lebih tinggi untuk tetap menyembah Tuhan.

 

Korban nyawa

Pengorbanan dengan kasih yang sungguh-sungguh mampu menjadikan seseorang merelakan nyawanya sebagai korban. Tuhan Yesus sendiri mengalami banyak penderitaan. Murid-murid juga mengalami penderitaan, dan hampir semua mereka ini mati sebagai martir.[7] Para murid ini telah ditetapkan Allah untuk mati sebagai martir, dan kematian seperti ini adalah kematian yang menyenangkan hati Allah.

Sebelu naik ke Sorga, Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus seberapa ia mengasihi Tuhan Yesus. Petrus pun menjawab bahawa ia mengasih Tuhan. Tuhan Yesus memberikan pertanyaan yang sama sampai tiga lkali dan Petrus pun memberikan jawaban yang sama. Setelah itu Tuhan Yesus mengatakan: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh. 21:18-19a). Tuhan Yesus menghendaki Petrus mengasihi-Nya dengan bersaksi samapi mengorbankan nyawanya. Petrus dipanggil untuk memuliakan Allah dengan mati bagi Dia. Kesaksian sejarah menyatakan bahwa Petrus meninggal, disalib terbalik.

Murid-murid lain juga menerima panggilan yang kadarnya sama, sesuai dengan kehendak Tuhan. Matius mati dengan cara tangan dan kakinya dipasak ke tanah lalu kepalanya dipenggal. Lukas digantung pada zebuah pohon zaitun. Paulus dihukum mati melalui pengadilan Romawi setelah dipenjara sekian lama. Dalam Perjanjian Lama, Mikha dilemparkan ke dalam penjara. Yesaya dipotong-potong dengan gergaji. Mereka ini semua telah mati sebagai korban yang harum bagi Allah. Allah memanggil mereka berdasarkan kehendak dan tujuan-Nya kepada masing-masing mereka. Ada yang dipanggil untuk menderita lebih lama (seperti Rasul Yohanes) sebelum akhirnya mati sebagai martir. Ada Juga yang mati martir lebih cepat (seperti Yakobus dan Stefanus) berdasarkan kehendak Allah. kita tahu bahwa kematian mereka itu adalah kematian yang memuliakan Allah.

Konsep yang sama juga berlaku bagi kita pada masa kini. Kesungguhan kasih kita diuji dengan pertanyaan yang sama seperti yang Tuhan katakan kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku.” Apakah kita mengasihi Tuhan secara sungguh-sungguh sampai kita rela mati sebagai martir kapanpun Tuhan mau? Apakah kita mengasihi Tuhan dengan bersedia meninggalkan segala sesuatu lalu pergi sebagai misionaris (penginjil) yang sewaktu-waktu bisa dibunuh. Pertanyaan ini mamang terlalu berat dan kita punya alasan yang logis: masih mengurus keluarga, masih dibutuhkan Gereja dan sebagainya.

Ketika sedang menulis bagian ini, saya terharu sambil menangis. Saya mengaku mengasihi Tuhan dan ingin berkorban bagi Tuhan, tetapi saya belum tentu bersedia pergi untuk mati sebagai martir. Pertanyaan ini berlaku bagi kita semua: “Apakah kita mengasihi Tuhan dan mau pergi memberitakan Injil dan akan mati sebagai martir? Mungkin kita akan berkata: “Saya masih mengurus sekolah anak-anak, masih mengurus orang tua yang sudah tua” atau berbagai alasan rohani yang akan kita berikan. Padahal kita jelas-jelah mengetahui bahwa Allah menghendaki kita untuk mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya. Dengan bersedia mati sebagai martir, maka kita menunjukkan bahwa Tuhanlah yang utama dalam hidup kita.

Orang yang sungguh mengasihi Tuhan mengetahui kebenaran dari perkataan Tuhan Yesus “Diberkatilah mereka yang dianiaya demi kebenaran; karena merekalah yang akan empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10). Dianiaya tidak hanya dipahami sebagai perlakuan yang diterima yang mengakibatkan penderitaan, melainkan penganiayaan yang berujung pada pembantaian, pembunuhan secara sadis, ya sampai pada pengorbanan nyawa.

Para Rasul, jemaat mula-mula dan Bapak-bapak Gereja mengetahui kebenaran ini. Dengan demikian maka tidak sedikit di antara mereka yang mati sebagai saksi Kristus. Perkembangan dan perjalanan sejarah kekristenan tidak terlepas dari kematian yang mengerikan dari orang-orang yang telah diizinkan Tuhan. Ribuan bahkan jutaan orang-orang Kristen selama zaman kekaisaran Romawi pada abad pertama telah menjadi martir. Buku Batu-batu Tersembunyi menyajikan teladan pengorban yang telah diberikan oleh orang-orang yang telah mendahului kita. Sesaat sebelum dihukum mati, Ignatius pernah berkata: “Biarlah Iblis dan orang-orang jahat menyakitiku dengan segala macam sakit dan penyiksaan, dengan api, dengan salib, dengan bertarung melawan binatang buas, dengan tercerai-berainya anggota tubuhku; aku tidak terlalu menghargai semuanya itu, karena Aku menikmati Kristus.” Tokoh-tokoh yang lain juga memiliki prinsip yang sama “Mengambil bagian dalam pengorbanan Kristus.” Mereka telah mempersembahkan pengorbanan tertinggi untuk menyenangkan Tuhan. Ini adalah korban nyawa untuk menyenangkan hati Allah.

Dalam bukunya Prioritas Utama dalam Penyembahan, Arthur menuliskan: “Mungkin Allah akan memanggil kita untuk menderita sebagai seorang martir, tetapi apakah itu dilakukannya atau tidak, kita harus menyembah Dia dengan kerelaan untuk menderita, bahkan mati bagi Dia.”[8] Kita harus memahami salah prinsip penting dalam penyembahan, yaitu bahwa kita harus mempersembahkan segala-galanya untuk memuliakan Allah. berdasarkan kehendak-Nya, mungkin kita dipanggil untuk hidup lebih lama dan bersaksi bagi Krsitus, akan tetapi mungkin kita dipanggil untuk mati sebagai martir. Semuanya harus dipersembahkan untuk Allah. Jika kita hidup, baiklah kita hidup untuk memuliakan Tuhan , dan jika kita mati, biarlah kematian kita menjadi kematian yang memuliakan Allah. Biarlah nama Tuhan ditemukan di setiap aspek hidup dan mati kita.

Oleh: Hasrat P. Nazara


[1] Lihat: William Dyrness, Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1992), 133-137.

[2] Ibid. hal., 133-135.

[3] RTB/S dalam J.D.Douglas (ed.) Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, JIlid I, A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2008), 573.

[4] RTB/S dalam J.D.Douglas (ed.) Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, JIlid II, A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2008), 581.

[5] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru 2 (Bandung: Kalam Hidup, 1999), 172.

[6] Ruth F. Selan, Menggali Keuangan Gereja (Bandung: Kalam Hidup, 1999), 68.

[7] Murid Kristus sejati dikenal sebagai “Martir” atau yang kita kenal sebagai orang yang mati karena kesaksian Injil. Dalam Perjanjian Baru, kata yang dipakai adalah martus atau marturos, yang diturunkan dari kata marturia yaitu kesaksian, kegiatan memberi kesaksian. Jadi, mereka-mereka yang melakukan kegiatan bersaksi tentang Injil disebut sebagai martus atau marturos yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan Martir. Secara literal martir berarti “saksi.”

[8] John Mac Arthur, Prioritas Utama dalam Penyembahan (Bandung: Kalam Hidup, 2001),184.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar