Kamis, 26 November 2015

Penyembahan dan Kemuliaan Allah

Penyembahan dan Kemuliaan Allah

Penyembahan tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan Allah karena penyembahan berdasarkan pada kemuliaan Allah. Tanpa menghasilkan kemuliaan Allah, kegiatan penyembahan tidak mencapai sasarannya. Oleh karena itu penyembahan dapat diidentikkan dengan kemuliaan Allah. Dengan kata lain menyembah Allah adalah memuliakan-Nya, yaitu memuliakan nama-Nya dan Pribadi-Nya. Konsep ini harus tertanam dalam hati setiap orang percaya. Dengan cara pembahasan pada sisi ini, konsep penyembahan mulai berkembang secara luas, bahwa penyembahan menyangkut Pribadi dan nama Allah yang semakin ditinggikan dan orang-orang yang menyembah-Nya semakin merendahkan diri.

1.      Kemuliaan Allah
Sesungguhnya kemuliaan Allah tidak dapat digambarkan dengan bahasa dan ungkapan apapun. Juga tidak dapat diumpamakan dengan bentuk apapun karena kemuliaan adalah salah satu sifat hakiki Allah. Sejauh yang dapat diterima dan ditangkap oleh indera manusia, Allah sering menyatakan kemuliaan-Nya kepada umat Perjanjian Lama dengan berbagai-bagai cara. Dalam perjalanan keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, Allah menyatakan kemuliaan-Nya melalui tiang awan dan tiang api. Akan tetapi kemuliaan yang dinyatakan itu belum sepenuhnya dicurahkan kepada manusia, sebab mustahil manusia dapat menangkap/menerima kepenuhan kemuliaan Allah. Allah tinggal “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri,” tidak ada manusia yang dapat melihat Dia (1 Tim. 6:16).
Istilah Ibrani yang dipakai untuk kata “kemuliaan” adalah “kavod,” biasanya diterjemahkan “kemuliaan” atau “kehormatan,” yang mengacu pada bobot atau nilai.[1] Dalam Perjanjian Baru, kemuliaan diterjemahkan dari kata “doxa” yang berarti reputasi. Sekalipun kata ini terkadang mengacu pada kehormatan manusia, namun penggunaan utamanya menggambarkan penyataan sifat dan kehadiran Allah dalam diri dan Pekerjaan Yesus Kristus. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3).
Artikel Penuntun Sabda mengemukakan berbagai pengertian frase “Kemuliaan Allah” dalam Alkitab yaitu[2]:
1.      Kadang-kadang istilah ini melukiskan kemegahan dan keagungan Allah (band. 1 Taw. 29:11; Hab 3:3-5), suatu kemuliaan yang demikian cemerlang sehingga tidak ada manusia yang dapat melihatnya dan tetap hidup (lih. Kel. 33:18-23). Paling banyak seorang dapat melihat hanyalah “gambar kemuliaan Tuhan” (bd. penglihatan Yehezkiel tentang takhta Allah, Yeh 1:26-28). Dalam arti ini, kemuliaan Allah menunjuk keunikan, kekudusan-Nya (bd. Yes 6:1-3) dan kemahatinggian-Nya (band. Rm. 11:36; Ibr. 13:21). Petrus menggunakan istilah “Yang Mahamulia” sebagai nama Allah (2 Ptr. 1:17).
  1. Kemuliaan Allah juga mengacu kepada kehadiran Allah yang tampak di antara umat-Nya, yang kemudian oleh para rabi disebut kemuliaan “shekinah.” “Shekinah” adalah kata Ibrani yang artinya "tempat tinggal (Allah)," dipakai untuk melukiskan perwujudan kehadiran dan kemuliaan Allah yang tampak. Musa melihat kemuliaan shekinah Allah di dalam tiang awan dan tiang api (Kel. 13:21); dan dalam Keluaran 29:43 shekinah disebut "kemuliaan-Ku" (band. Yes 60:2). Kemuliaan ini menyelimuti Gunung Sinai ketika Allah memberi hukum Taurat memenuhi Kemah Suci (Kel. 40:34), menuntun Israel di padang gurun (Kel. 40:36-38) dan kemudian memenuhi Bait Suci Salomo (2 Taw. 7:1; 1 Raj. 8:11-13). Secara lebih khusus, Allah tinggal di antara para kerub di Tempat Mahakudus (1 Sam. 4:4; 2 Sam. 6:2; Maz. 80:2). Yehezkiel melihat kemuliaan Allah naik dan meninggalkan Bait Suci akibat penyembahan berhala yang sudah keterlaluan (Yeh 10:4,18-19). Padanan kemuliaan shekinah dalam Perjanjian Baru ialah Yesus Kristus, yang sebagai kemuliaan Allah dalam tubuh manusiawi datang untuk tinggal di antara kita (Yoh. 1:14). Para gembala Betlehem menyaksikan kemuliaan Tuhan pada saat kelahiran Yesus (Luk. 2:9), para murid melihatnya ketika Kristus dimuliakan (Mat. 17:2; 2 Ptr. 1:16-18), dan Stefanus melihatnya ketika dirajam sampai mati (Kis. 7:55).
  2. Aspek ketiga dari kemuliaan Allah ialah kehadiran dan kuasa rohani-Nya. Sekalipun langit menceritakan kemuliaan Allah (Maz. 19:2; band. Rm. 1:19-20) dan seluruh bumi penuh dengan kemuliaan-Nya (Yes. 6:3; band. Hab. 2:14), kecemerlangan keagungan-Nya belum tampak dengan jelas saat ini dan sering terabaikan. Akan tetapi, orang percaya mengalami kemuliaan dan kehadiran Allah di dalam persekutuan, kasih, kebenaran dan manifestasi Allah melalui kuasa Roh Kudus
  3. Akhirnya, Perjanjian Lama memperingatkan bahwa semua bentuk penyembahan berhala menghina kemuliaan Allah dan mencela nama Allah. Manakala Allah menyatakan diri-Nya selaku Penebus kita, nama-Nya dimuliakan (lih. Maz. 79:9; Yer. 14:21). Seluruh pelayanan Kristus di bumi memuliakan Allah kita (Yoh. 14:13; 17:1,4-5).
Perjanjian Baru berkali-kali menghubungkan Yesus Kristus dengan kemuliaan Allah. Mukjizat-mukjizat-Nya menyatakan kemuliaan Allah (Yoh. 2:11; 11:40-44). Kristus dimuliakan di dalam "awan yang terang" (Mat 17:5) ketika Ia menerima kemuliaan (band. 2 Ptr. 1:16-19). Saat kematian Kristus merupakan saat pemuliaan-Nya (Yoh. 12:23-24; band. Yoh. 17:2-5). Ia naik ke sorga dalam kemuliaan (band. Kis 1:9; 1 Tim. 3:16), kini ditinggikan di dalam kemuliaan (Why. 5:12-13), dan pada suatu hari akan datang kembali “Di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Mat. 24:30; 25:31; Mrk. 14:62; 1 Tes. 4:17).
Sebagai implikasinya, kemuliaan Allah dialami, diterima dan dipancarkan oleh orang percaya melalui kuasa Roh Kudus. Kemuliaan Allah yang asali tidak mungkin dapat diterima oleh manusia pada masa kini. Akan tetapi kemuliaan itu diterima melalui kehadiran Kristus ke dalam dunia. Roh Kudus membawa kehadiran Allah dan Kristus kepada orang percaya (2 Kor. 3:17; 1 Ptr. 4:14). Pengalaman akan kemuliaan Allah ini merupakan perasaan mempesona akan kehadiran Allah, sama seperti yang dialami oleh para gembala di padang Betlehem (Luk. 2:8-20). Selanjutnya orang percaya memanifestasikan kemuliaan Allah yaitu kehadiran Allah itu melalui kegiatan penyembahan.

2.      Penyembahan untuk Kemuliaan Allah
Pengalaman akan kemuliaan dan kehadiran Allah yang dialami oleh orang percaya bukan untuk kemegahan manusia, bukan juga untuk membuktikan bahwa orang percaya lebih superior dari pada orang-orang yang belum percaya. Sesungguhnya kemuliaan Allah yang dipancarkan oleh orang percaya pada akhirnya harus dipersembahkan untuk kemuliaan Allah. Rasul Paulus mengungkapkan tujuan tertinggi dari seluruh pekerjaan Allah, juga semua aktifitas ciptaan-Nya yaitu untuk kemuliaan Allah, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36).
Surat Roma dikenal sebagai Surat yang sarat dengan doktrin Kristen, bahkan Marthin Luther menganggapnya sebagai pusat doktrin Perjanjian Baru. Dari pasal pertama sampai pasal sebelas, Paulus menjelaskan konsep teologia yang sesensial. Allah telah menunjukkan kasihnya melalui pembenaran dan penebusan dalam karya pengorbanan, kematian dan kebangkitan Kristus sehingga setiap orang percaya memperoleh keselamatan. Pada bagian akhir penjelasan itu, Paulus menyatakan bahwa semua itu harus dikembalikan kepada Allah. Kemudian pernyataan ini dilanjutkan dengan nasihat supaya umat Tuhan mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, dan kudus, dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Dengan cara demikian maka itu adalah ibadah (penyembahan) yang sejati.
Semua perintah maupun larangan dalam Alkitab diarahkan untuk kemuliaan Allah. Bahkan semua karya Allah termasuk penciptaan dan rencana keselamatan bertujuan untuk kemuliaan Allah. 1 Tawarikh 16:23-28 mengemukakan penyembahan untuk kemuliaan Allah:
“Bernyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab besar TUHAN dan terpuji sangat, dan lebih dahsyat Ia dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit. Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan sukacita ada di tempat-Nya. Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!”
Dalam Perjanjian Baru, terungkap dengan jelas bahwa Inkarnasi Kristus ke dunia bertujuan untuk kemuliaan Allah:
“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Fil. 2:9-11).
Karya kematian dan kebangkitan Kristus, untuk menyelamatkan manusia diperuntukkan bagi kemuliaan Allah. Allah berhak menuntut penyembahan yang memuliakan-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya. Orang-orang yang belum selamat memilih untuk tidak memuliakan Allah, dan oleh karenanya Allah menghukum mereka. Tidak demikian dengan kita yang sudah diselamatkan, Allah menuntut supaya kita menyembah dan memuliakan-Nya dan itu harus kita lakukan. Untuk orang tebusan, Allah menuntut penyembahan yang hanya memuliakan Pribadi dan nama-Nya.
Sama dengan kekudusan, kemuliaan adalah sifat hakiki Allah. Kemuliaan itu adalah milik-Nya, dan oleh karenanya kemuliaan harus ditujukan kepada-Nya. Semua kegemilangan atau kemuliaan dari makhluk hanyalah bayangan dari kemuliaan Allah. Dengan demikian, maka semua usaha untuk mendapatkan, pujian atau hal-hal yang serupa dengan itu dapat dianggap sebagai tindakan mencuri kemuliaan Allah. Dalam Yesaya 14:12-15 dilukiskan gambaran tentang Iblis yang hendak mencuri kemuliaan Allah:
“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi  Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.”
 Karena keinginan hatinya untuk mencuri kemuliaan Allah, yaitu dengan berbagai-bagai kehendak untuk menyamai Yang Mahatinggi, maka Allah menghukumnya, dan melemparkan ke dalam dunia orang mati. Perbuatan mencuri kemuliaan Allam merupakan perbuatan keji di mata Allah. Hukuman untuk perbuatan mencapai puncaknya dengan hukuman kekal, yaitu neraka untuk selama-lamanya.
Kebenaran firman ini merupakan peringatan keras bagi semua makhluk, bahkan semua ciptaan Tuhan. Allah tidak mengizinkan siapapun mengambil alih kemuliaan-Nya. Orang-orang percaya harus memahami bahwa tujuan penyembahan yang sejati adalah memuliakan Allah. Seseorang yang mengaku menyembah Allah, harus memprioriataskan kemuliaan Allah. Dalam penyembahan yang paling murni, kemuliaan Allah merupakan tujuan satu-satunya.
Seorang jemaat, pelayan, atau hamba-hamba Tuhan full-timer harus menghindari diri dari “memperoleh kemuliaan” dalam penyembahan. Memang ada tren yang menunjukkan bahwa para Pendeta, Pengkhotbah, Worship Leader, Singers, atau pelayan-pelayan lainnya mengklaim diri sebagai golongan ekslusif lebih dari jemaat-jemaat biasa. Tren ini biasanya diikuti dengan perasaan bahwa mereka lebih rohani dari pada orang-orang Kristen biasa. Akibatnya mereka berharap memperoleh pujian dari jemaat atau pengagungan dari fans. Tanpa disadari mereka telah mencuri kemuliaan Allah. Harus diingat bahwa mereka telah mendapat upahnya, yaitu mendapat pujian dari manusia, sehingga mereka kehilangan upah di hadapan Allah.
Mencuri kemuliaan Allah bukanlah berasal dari ajaran iman Kristen. Itu bukan kehendak Allah. Mengambil bagian yang hanya pantas didapatkan oleh Allah merupakan perbuatan yang berasal dari Iblis. Maka tidak heran bahwa banyak di antara para Penginjil atau Pengkhotbah yang dijuluki sebagai hamba Tuhan sekaliber dunia., atau para penyanyi rohani yang pada hakikatnya bukan penyembah Allah melainkan para penyembah Iblis. Kualitas penyembahan tidak ditentukan oleh ketenaran, kemampuan atau bakat seseorang.
Dalam konteks ini, penyembahan yang benar adalah apabila manusia yang menyembah Allah semakin merendahkan diri untuk memuliakan Allah. Sejak zaman Rasul-rasul, Bapak-bapak Gereja, sampai pada zaman sekarang, banyak para penyembah sejati telah mengorbankan jiwa raga mereka untuk kemuliaan Allah. Kesaksian dari sejarah menunjukkan bahwa beribu-ribu bahkan jutaan Penginjil dan orang percaya telah mati syahid untuk kemuliaan Allah. Penyembah dengan pemahaman yang benar akan mengorbankan segalanya, harga diri bahkan nyawanya untuk kemuliaan Allah.
Dalam Yesaya 48:11, Allah mengemukakan bahwa Ia tidak memberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain. Latar belakang ayat itu berhubungan dengan rencana Allah bagi umat-Nya. Ia melakukannya bukan karena kebaikan umat Israel, melainkan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Ia yang berjanji, dan Ia sendiri yang melakukannya. Oleh karena itu hanyalah Dia yang patut dimuliakan. Allah tidak memberikan ruang sedikit pun bagi makhluk ciptaan-Nya untuk memperoleh kemuliaan. Memang orang percaya dapat memanifestasikan kemuliaan Allah dalam dunia, akan tetapi kemuliaan yang hakiki hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Karena hanya Dia yang memiliki kemuliaan hakiki, maka hanya kepada Dia saja kemuliaan itu diberikan. Artinya hanya Dia yang patut dimuliakan.
Allah dimuliakan dalam penyembahan, dan oleh karenanya penyembahan harus diatur sedemikian untuk ditujukan bagi kemuliaan Allah. Kebaktian-kebaktian Rohani atau even-even ibadah besar lainnya terkadang mengharapkan kesuksesan dengan harapan panitia atau pihak penyelenggara mendapatkan pujian. Itu bukan tujuan penyembahan. Tujuan penyembahan  hanya satu yaitu memuliakan Allah. Sebisa mungkin, liturgi atau tata ibadah harus diupayakan supaya tidak memberikan ruang kepada pihak manapun memperoleh pujian atau penghormatan. Dengan hanya berfokus pada kemuliaan Allah, sebuah Gereja akan terarah untuk memuliakan Allah ketika mengadakan kebaktian. Demikian juga orang percaya dalam kesehariannya, harus menjalani kehidupan yang senantiasa hidup dalam kasih dan interaksi yang baik, sehingga orang lain yang melihat perbuatan itu memuliakan Allah. Inilah penyembahan yang benar, yang menghasilkan kemuliaan Allah.



[1] REM/JMP/HAO dalam J.D.Douglas (ed.) Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, JIlid II, M-Z (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2008), 98.

Rabu, 09 September 2015

Syarat-syarat Menjadi Penyembah Allah

Syarat-syarat Menjadi Penyembah Allah

Penulis Mazmur mengemukakan gambaran tentang seseorang yang boleh datang kepada Tuhan untuk menyembah-Nya. “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub” (Maz. 24:3-6). Disebutkan bahwa orang yang boleh naik ke Gunung Tuhan (artinya menghadap hadirat Tuhan) adalah mereka yang hidupnya tidak melakukan kejahatan, tetapi sebaliknya melakukan kebenaran. Akan tetapi standar apakah yang dapat dipakai untuk menetukan seseorang tidak melakukan kejahatan, lalu hidupnya benar? Bukankan setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan atau dosa? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka beberapa hal akan dikemukakan sekaligus menjabarkan syarat-syarat menjadi seorang penyembah Allah yang benar.

1.      Telah lahir baru/Diselamatkan
Dalam Yohanes 14:6, Tuhan Yesus mengemukakan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Berdasarkan konteksnya, ayat ini sedang mengungkapkan sebuah kebenaran esensial tentang ketidakmungkinan seseorang mencapai tujuan yang dikehendaki oleh Allah jikalau tidak mengenal Tuhan Yesus. Itulah sebabnya dalam ayat-ayat sebelumnya Tuhan Yesus pernah mengemukakan “Akulah pintu” (Yoh. 10:9). Pengenalan akan Tuhan Yesus tidak lain dari menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Dengan mengenal Tuhan Yesus, maka seseorang memiliki kepastian mengenal Allah yang benar.
Pengenalan akan Allah yang benar berimplikasi pada kegiatan penyembahan yang dilakukan oleh manusia. Dengan mengacu pada ketentuan jalan kepada Bapa, maka penyembahan seseorang hanya akan sampai kepada Allah jika seseorang telah dengan sungguh-sungguh diselamatkan. Jadi penyembah yang benar adalah penyembah yang telah lahir baru. Sekalipun penyembahan itu ditujukan kepada Allah yang benar, dengan motivasi yang benar dan dengan cara yang benar pula tidak memiliki kemungkinan untuk naik ke hadirat Allah jika orang-orang yang melakukannya belum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.
Dalam Perjanjian Baru, orang-orang Farisi mengaku menyembah Allah dan memang mereka melakukannya, akan tetapi mereka menolak Tuhan Yesus. Akibatnya, penyembahan mereka tidak diperkenan Allah, dan bahkan ancaman hukuman maut telah tersedia (band. Mat. 12:31-32). Para Rasul dan penulis Perjanjian Baru sebelum mengajak orang lain menyembah Tuhan, mereka selalu mendahuluinya dengan memberitakan Injil. Setelah orang-orang itu bertobat, barulah diajak untuk menyembah Allah.
Dalam kehidupan kekristenan pada masa kini, pada satu sisi mungkin mengalami kejenuhan, sementara pada sisi lain beberapa kelompok mencoba menghidupkannya kembali. Tetapi sangat disayangkan persyaratan ini kurang diperhatikan. Beberapa orang yang menyatakan diri melakukan penyembahan ternyata belum lahir baru. Beberapa aktifis Gereja mencoba menggairahkan kegiatan penyembahan, tetapi sayang penyembahan itu tercemar apabila dilakukan bersama dengan orang-orang yang belum sungguh-sungguh bertobat. Oleh karena kebutuhan akan pemain musik, pemimpin pujian yang hebat dan para penyanyi yang berbakat, ada kemungkinan orang-orang yang belum bertobat diminta untuk melayani. Pemain musiknya mungkin hebat dan penyanyinya mungkin sangat merdu, akan tetapi jika mereka belum lahir baru, mereka-mereka itu tidak dapat dianggap sebagai para penyembah Allah. Lahir baru adalah syarat utama menjadi seorang penyembah Allah.

2.      Bertumbuh dalam Kehidupan Rohani
Penyembahan menyangkut seluruh aspek kehidupan seseorang, maka dengan demikian penyembahan harus berkaitan dengan pertumbuhan rohani seseorang. Konsep bertumbuh menunjukkan bahwa kehidupan rohani seseorang yang menyembah Allah harus terus meningkat. Jika tidak bertumbuh, hanya ada satu pilihan lain yaitu mati. Bersamaan dengan kegiatan penyembahan dan komitmen untuk mengenal Allah lebih sungguh, maka seseorang akan mengalami pertumbuhan rohani, sehingga makin diperkenan Allah dalam penyembahannya.
Untuk menjadi penyembah Allah yang benar, tidaklah cukup seseorang diselamatkan tanpa komitmen untuk bertumbuh. Dalam Wahyu 3:4, Allah mencela jemaat Efesus karena mereka meninggalkan kasih yang mula-mula. Allah juga menegur jemaat Laodikia yang “suam-suam kuku,” tidak dingin atau panas. Jika dengan cara demikian, penyembahan yang mereka lakukan tidak berkenan kepada Allah. Allah hanya menginginkan kegiatan penyembahan dari orang-orang yang bergairah secara rohani, mempertahankan kasih sebagaimana kasih ketika pertama sekali menerima Tuhan Yesus.
Secara konkrit, pertumbuhan rohani dapat ditunjukkan melalui kesetiaannya mengikuti kegiatan-kegiatan ibadah di Gereja, juga komitmennya untuk melayani, pengorbanannya, dan bahkan kesaksian kehidupan kesehariannya. Elemen terpenting dalam penyembahan seseorang bukanlah kemegahan atau kemeriahan emosional, melainkan perilaku dan gaya hidup yang benar. Artinya penyembah Allah dikatakan sebagai penyembah yang “benar” apabila ia hidup dalam kebenaran Allah. Sekalipun cara penyembahannya benar, apabila hidupnya tidak benar, maka orang tersebut tidak dapat dianggap sebagai seorang penyembah.
Para hamba Tuhan full-timer, pelayan atau aktifis Gereja biasanya lebih dianggap sebagai penyembah Allah dari pada jemaat-jemaat biasa. Khususnya para pendoa, biasanya mengklaim diri sebagai penyembah garis depan. Anggapan ini sah-sah saja. Akan tetapi harus diperhatikan juga bahwa kualitas penyembahan tidak ditentukan oleh predikat yang dimiliki. Justru dalam banyak kesaksian, para pelayan, pendoa dan hamba-hamba Tuhan yang biasanya membuat perpecahan dalam Gereja. Penyembah yang benar adalah orang percaya yang sungguh-sungguh setia beribadah, mempertahankan hidup kudus dan semakin rindu kepada Tuhan.
Sebagai bahan evaluasi untuk para pelayan, ada beberapa hal yang harus diuji kembali. Banyak pelayan gereja yang kelihatannya setia hanya karena ada jadwal pelayanan, tetapi kalau tidak ada pelayanan, mereka tidak memprioritaskan ibadah. Yang lebih tragis lagi, mereka bersedia meninggalkan ibadah Gereja mereka apabila ada tawaran pelayanan (misanya main musik, memimpin pujian, dll) dari tempat lain. Atau ada juga pelayan atau jemaat yang memang akan datang beribadah di Gereja “apabila” tidak ada kegiatan lain. Jadinya, ibadah menjadi prioritas terakhir. Pelayan-pelayan dan jemaat yang semacam ini tidak memiliki komitmen untuk menyembah Allah.
Sesungguhnya komitmen dan pertumbuhan rohani dapat diterapkan dengan setia beribadah. Harus ada kerinduan yang dalam untuk beribadah. Seseorang memang harus memiliki waktu penyembahan (mezbah doa) di rumah, tetapi juga harus mengalokasikan kesempatan untuk beribadah bersama orang-orang percaya lainnya. Ibadah bersama memiliki manfaat dan makna termasuk dalam hal saling menguatkan, saling menopang dan saling berbagi. Oleh sebab itu, tidaklah cukup seseorang hanya datang beribadah di Gereja sekali setiap hari Minggu, sekalipun setiap hari berdoa di rumah. Seorang jemaat harus mengikuti kegiatan ibadah tengah minggu, misalnya persekutuan doa, Pendalaman Alkitab, dll. Itulah sebabnya penulis Ibrani menginstruksikan: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibr. 10:25). Ibadah bersama itu sangat penting, dan merupakan perintah Alkitab. Kesetiaan ibadah dapat menjadi indikator pertumbuhan rohani seseorang.
Satu hal lagi yang tidak kalah penting untuk menjadi penyembah Allah, yaitu cara atau kesaksian hidup.  Rasul Paulus menguraikan cara hidup yang berkenan kepada Allah dalam Efesus 4: 17-32. Bagian yang pertama membahas tentang cara berpikir yang baru (Ef 4:17-24). Cara berpikir yang dimaksud berhubungan dengan keputusan untuk meninggalkan cara hidup yang menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan segala macam kecemaran. Sebaliknya orang percaya harus berpikir bagaimana hidup untuk memuliakan Allah. Dengan komitmen dan kesungguhan hati untuk mencintai Tuhan, hati orang yang seperti ini akan semakin dibaharui oleh kuasa Roh Kudus (band. ay. 23), sehingga ia akan bertumbuh dalam kehidupan rohani
Bagian yang kedua menguraikan tentang cara hidup yang baru (Ef. 4:25-29), terutama yang berhubungan dengan perkataan, emosi dan pekerjaan. Para penyembah Allah harus melakukan pekerjaan yang benar/halal (jangan mencuri atau korupsi), berkata-kata benar (tidak berdusata, dan tidak berkata kotor) serta suka menolong orang lain. Allah tidak berkenan dengan kehidupan penyembah yang bekerja dengan tidak benar. Allah juga jijik akan persembahan-persembahan dari hasil penipuan. Allah menghendaki hati yang bersih dari para penyembah-Nya.
Bagian yang ketiga menyinggung tentang cara berinteraksi yang baik (Ef. 4:30-32), yaitu tidak boleh menyimpan dendam, segala kepahitan atau kemarahan. Sebaliknya seorang penyembah Allah harus senantiasa memiliki hati yang mengampuni orang lain. Pada kesempatan lain, Tuhan Yesus mengingatkan apabila seseorang datang ke hadirat Tuhan untuk menyembah, terlebih dahulu ia harus membereskan masalahnya dengan orang lain. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat. 5:23-24). Selanjutnya seorang penyembah juga harus bersikap ramah terhadap semua orang.

3.      Memiliki Komitmen untuk Menyembah Allah
Penyembahan tidak hanya bersifat temporal, juga bukan tindakan emosional sesaat. Sesungguhnya penyembahan berlangsung seumur hidup dan bahkan selama-lamanya. Untuk menyembah Allah, seseorang harus mengambil keputusan untuk menyembah Allah bukan hanya saat-saat yang menyenangkan, bukan hanya pas sesuai dengan keinginan, melainkan keputusan seumur hidup. Tanpa komitmen dan kerinduan yang luar biasa, penyembahan tidak mencapai standar yang dikehendaki oleh Allah.
Komitmen untuk menyembah merupakan keharusan, dan oleh karenanya harus menjadi pilihan bagi orang percaya. Kepada umat Israel, Yosua memprakarsai komitmen untuk menyembah Allah dengan berakata: “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos. 24:15). Tepat seperti ikrarnya, Yosua beribadah dan menyembah Allah Yahweh seumur hidupnya. Allah menghendaki kita sebagai umat-Nya untuk mengambil keputusan menyembah-Nya di tengah-tengah orang-orang yang mungkin tidak sungguh-sungguh menyembah Tuhan.
Sadrakh, Mesakh dan Abednego berkomitmen untuk menyembah hanya kepada Allah saja. Ancaman dari Raja Nebukadnezar bahwa akan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala apabila mereka tidak menyembahnya, tidak membuat mereka takut. Selanjutnya mereka berkata: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Dan. 3:17-18). Kisah ini memberikan teladan bagi orang percaya masa kini, bahwa komitmen untuk menyembah Allah terkadang harus melewati ujian. Jemaat harus bersikap tegas menunda semua kegiatan lain apabila ia telah berniat mengikuti ibadah di Gereja.
Dalam Perjanjian Baru, para murid, setelah menyaksikan karya Tuhan dan oleh kuasa Roh Kudus mengambil keputusan untuk melayani (=menyembah) Tuhan seumur hidup. Bahkan di akhir hidup mereka, para Rasul ini telah mempersembahkan jiwa raga mereka sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah melalui penderitaan, siksaan-siksaan, dan cara kematian mereka yang mengerikan. Rasul Paulus juga telah mempersembahkan hidupnya untuk melayani Allah, juga tubuhnya dipersembahkan melalui kematian yang mengerikan di dalam penjara sebagai korban persembahan yang berkenan kepada Allah. Pada tingkat yang sangat tinggi, komitmen penyembahan kepada Allah terkadang membawa seseorang pada pengorbanan, penderitaan dan kematian yang mengerikan.
Kesaksian ini juga sekaligus menantang umat Tuhan, para hamba-hamba Tuhan full-timer, apakah kita mau menyembah Tuhan sampai pada tingkat yang seperti itu? Bukan tidak mungkin bahwa banyak jemaat, juga para pelayan Gereja pada akhirnya meninggalkan pelayanan dan kegiatan Gereja hanya karena kesulitan-kesulitan sepele. Sesungguhnya, kualitas penyembahan kita tidak boleh berkurang sedikitpun ketika kita menghadapi persoalan. Justru dalam kesulitan-kesulitan ekonomi, kelemahan tubuh atau masalah lainnya, kita harus semakin menyembah Tuhan. Pada sisi lain, ada orang yang kurang setia terhadap Tuhan setelah ia menikmati kehidupan yang mapan. Dalam  kehidupan yang melimpah dengan materi pun, seseorang harus semakin menyembah Tuhan. Dengan cara yang demikian, komitmen penyembahan seseorang akan terbukti.
Secara konkrit, komitmen untuk menyembah Allah dapat ditunjukkan dengan beberapa hal. Pertama-tama keputusan untuk beribadah kepada Tuhan seumur hidup, sekaligus berhenti mengejar kakayaan yang berlebihan. Kedua, menyerahkan diri untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Seseorang yang dengan sungguh-sunggh bertobat, biasanya diikuti dengan keputusan untuk menyerahkan diri sebagai pelayan Tuhan, sekaligus melupakan kegiatan untuk mencari pekerjaan lain. Ketiga, adanya kerinduan yang dalam akan persekutuan dengan Tuhan. Berkali-kali pemazmur menyatakan hatinya haus akan Tuhan (Maz. 42:3; 63:2; 143:6). Seorang penyembah Allah patut menyukai puji-pujian, sangat mengharapkan saat-saat untuk ibadah. Ada kerinduan hati untuk bangun pagi-pagi lalu menaikkan doa dan nyanyian-nyanyian pujian kepada Allah. Ada kerinduan untuk datang beribadah dalam persekutuan-persekutuan doa, selalu mengharapkan tibanya hari Minggu untuk mengikuti kebaktian di Gereja. Itulah gambaran seseorang yang patut disebut sebagai penyembah Allah. (bersambung ..............) bagian 9

Oleh: Hasrat P. Nazara

Jumat, 04 September 2015

Pengertian Penyembahan, rangkuman konsep dari etimolgi baik Perjanjian Lama (PL) maupun dalam Perjanjian Baru (PB)

 Pengertian Penyembahan
Setelah memperhatikan kegiatan penyembahan baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian baru, maupun penyembahan dalam sejarah Gereja, serta istilah-istilah yang menjelaskan pengertian penyembahan dari segi etimologi dan terminologinya (telah diposkan sebelumnya, http://hasrat123.blogspot.co.id/2015/09/dimensi-terminologis-penyembahankata.html), maka kita dapat meformulasikan pengertian penyembahan itu secara lengkap. Perlu dicatat bahwa penyembahan yang dimaksud adalah penyembahan yang ditujukan kepada Allah, bukan lagi penyembahan kepada manusia atau ilah-ilah lain. Untuk memberikan pengertian yang tepat dan menyeluruh, maka bagian ini dimulai dengan memformulasikan definisi penyembahan, dan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan konsep penyembahan itu secara Alkitabiah.

Definisi
Sesungguhnya tidak ada formulasi yang resmi tentang pengertian penyembahan. Secara sederhana John Mac Arthur memberikan pengertian penyembahan sebagai “Penghormatan dan pemujaan kepada Allah.[1] Nelson’s Bible Dictionary mengartikan penyembahan sebagai “Reverent devotion and allegiance pledged to God” (= devosi penuh hormat dan kesetiaan penuh kepada Allah). Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh R. P. Martin: “Worship is seen as reverent devotion and service to God motivated by God's saving acts in history” (= penyembahan merupakan perenungan yang penuh hormat dan pelayanan kepada Allah yang didasarkan oleh tindakan keselamatan Allah dalam sejarah).
Banyak definisi yang telah dikemukakan berhubungan dengan penyembahan, namun tidak ada formulasi yang tuntas untuk mengungkapkannya dengan sebuah kalimat. Mengingat bahwa penyembahan lebih berhubungan dengan kehidupan praktis umat Allah, maka baik Ensiklopedi maupun Kamus-kamus Teologi tidak memberikan definisi yang formal. Untuk memberikan pengertian yang tepat, beberapa Ensiklopedi/Kamus Teologi memeberikan beberapa pertimbangan utama yang berhubungan dengan penyembahan. A Treasury of Bible Illustrations mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan penyembahan yaitu:
A.     Penyembahan merupakan ketaatan pada perintah Allah.
B.     Penyembahan menggambarkan suasana hati yang baik dan benar.
C.     Penyembahan mendorong pertumbuhan rohani seseorang.
D.     Penyembahan menunjang pengembangan rohani orang lain.
E.      Penyembahan merupakan sarana proklamasi prioritas kehidupan seseorang.
F.      Penyembahan adalah cara mengungkapkan cinta Tuhan.
G.     Penyembahan merupakan jalan untuk memuji nama Tuhan.
H.     Penyembahan adalah pengorbanan spiritual.
I.        Penyembahan adalah cara berterima kasih kepada Tuhan atas segala karya-Nya.
J.       Penyembahan adalah persekutuan dengan Allah di mana dunia tidak mendapatkannya.
K.     Penyembahan adalah pengalaman yang menyukakan hati orang percaya.

Konsepsi
Definisi-definisi penyembahan yang telah dikemukakan di atas, telah memberikan konsepsi yang lebih lengkap tentang penyembahan. Pada dasarnya, penyembahan merupakan tanggapan manusia atas karya Allah dan Pribadinya, yang ditunjukkan melalui penghormatan dan pemujaan kepada-Nya setiap saat. Sepanjang pembahasan mengenai latar belakang dan pengertian penyembahan, beberapa pokok penting yang berhubungan dengan penyembahan adalah sebagai berikut:
Pertama, penyembahan merupakan luapan hati yang hangat untuk menanggapi Pribadi dan Karya Allah. Tanggapan hati ini dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hati orang-orang percaya karena penebusan di dalam Kristus. Pemahaman yang benar akan Pribadi dan karya Allah membawa seseorang pada kehidupan yang melimpah dengan ucapan syukur, penuh sukacita, dan damai sejahtera.
Kedua, penyembahan merupakan tindakan yang berlangsung seumur hidup, konsisten, dan terus-menerus setiap saat. Penyembahan bukan hanya formalitas ibadah dalam sebuah kebaktian. Penyembahan yang benar membawa seseorang pada penyerahan hidup untuk melayani dan beribadah kepada Allah. Itulah sebabnya banyak orang seperti Paulus bersedia tidak menikah demi mempersembahkan hidup untuk melayani Allah.
Ketiga penyembahan menuntut pengorbanan, baik pengorbanan harta, tenaga, pikiran maupun jiwa. Dalam hal ini menyembah Allah berarti “memberi,” pertama-tama seluruh hidup, kemudian sikap-sikap, dan diwujudkan dengan mempersembahkan harta milik yang terbaik untuk Tuhan.
Keempat, penyembahan menuntut ketaatan dan kesetiaan. Seorang penyembah Allah tidak akan menyembah kepada Allah lain. Juga tidak memalingkan perhatiannya pada hal-hal yang bersifat hedonis. Tujuan utama hidupnya adalah memuliakan Allah, tiada kepentingan yang lain yang lebih penting dari penyembahan. Dalam ketaatan dan kesetiaan ini, ada unsur kerendahan hati, sebagai wujud nyata penghormatan kepada Allah.
Dari prinsip-prinsip penyembahan ini, maka dapat diperoleh pengertian yang cukup luas tentang penyembahan, yaitu penghormatan yang diekspresikan melalui sikap dan cara hidup yang berkenan kepada-Nya. Dalam penyembahan ada kehangatan kasih, ada sukacita, ada sikap kerendahan hati, ada komitmen dan pengorbanan. Tanpa unsur-unsur ini, penyembahan hanya akan menjadi sia-sia, suatu penyembahan palsu, dan tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi dapat dikatakan bahwa penyembahan menyentuh semua bidang  kehidupan. (bagian 8 ................ bersambung).


Oleh: Hasrat P. Nazara




[1] John Mac Arthur, Prioritas Utama dalam Penyembahan (Bandung: Kalam Hidup, 2001), 26.

Rabu, 02 September 2015

Lagu Sekolah Minggu: Di hadapanMu

Lagu Anak-anak Sekolah Minggu
KEVIN HANS NAZARA, usia 5 tahun didorong dan dipersiapkan orang tuanya untuk bernyanyi untuk menyembah Tuhan.

Oleh: Hasrat P. Nazara

Selasa, 01 September 2015

Dimensi Terminologis: "Penyembahan."Kata-kata Ibrani untuk "Penyembahan" dalam Perjanjian Lama

Dimensi Terminologis
Kenyataan bahwa penyembahan yang benar menjadi “barang langka” dapat disebabkan oleh bebarapa faktor. Selain oleh derasnya arus perkembangan zaman dan meningkatnya sikap egoisme, materialisme dan hedonisme, berkurangnya penyembahan pada masa kini juga disebabkan oleh kurangnya pemahaman konsep Alkitab tentang penyembahan itu sendiri. Penjelasan konsep penyembahan yang benar harus didasarkan pada pengungkapan Kitab Suci, yang dapat dimulai dengan memperhatikan istilah-istilah yang dipakai, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

Istilah-istilah Ibrani untuk "Penyembahan" dalam Perjanjian Lama (PL).
Sesungguhnya, banyak kata-kata Ibrani yang dapat menjelaskan pengertian penyembahan, namun tidak memungkinkan untuk dibahas secara tuntas dalam buku ini. Beberapa istilah yang dipakai untuk penyembahan dalam Perjanjian Lama antara lain adalah:
1.      Kata Ibrani utama untuk penyembahan adalah Shachah, yang berarti "sujud," "berlutut" (dalam stem Hithpael), seperti dalam Keluaran 4:31, "Berlututlah mereka dan sujud menyembah." Ekspresi penyembahan ini merupakan gabungan antara sikap tubuh dan perendahan diri di hadapan yang disembah. Pada umumnya sikap atau tindakan penyembahan ini ditunjukkan kepada orang yang derajadnya lebih tinggi, kepada yang dianggap Superior, kepada dewa-dewa dan kepada Allah. Sesungguhnya kata  Shakhah ini berasal dari akar kata kerja hawa yang artinya “merendahkan diri, menyembah.” Konsep dari kata ini dimaksudkan sebagai tindakan penghormatan seperti dalam Nehemia 8:7 “Mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.” Ekspresi sujud dan berlutut dengan muka sampai ke tanah merupakan tindakan yang lazim untuk memberikan penghormatan atau penyembahan pada masa Perjanjian Lama, juga merupakan tindakan yang lazim dalam dunia kuno sekeliling Israel. Tindakan semacam ini sering dilakukan oleh bangsa Israel untuk menanggapi kehadiran Allah (band. Kel 11:8 Yes 45:14, Yes 49:23).
Dalam Keluaran ada tiga kasus di mana mereka sujud menyembah (Shachah) TUHAN yaitu: ketika orang-orang mendengar bahwa TUHAN telah berfirman kepada Musa (Kel 04:31), ketika mereka menerima instruksi untuk merayakan Paskah (Kel 12:27), dan ketika mereka melihat tiang awan (Kel 33:10). Dalam 2 Tawarikh 20:18 Yosafat dan seluruh rakyat"sujud menyembah di hadapan Tuhan,” ketika mereka mendengar janji kemenangan-Nya.

2.      Kata Ibrani yang lain adalah Qadad, yang berarti “tersungkur.” Konsep dasarnya adalah seseorang yang menundukkan kepalanya, dan bahkan sampai tersungkur, untuk memberikan penghormatan. Akar kata dari kata ini menekankan pengabdian seseorang atau umat secara komunal atas pertolongan di saat-saat yang genting, terutama ditujukan kepada Allah. Kekaguman dan hormat terdalam menggambarkan sikap seseorang terhadap Allah, misalnya, ketika doa Eliezer secara ajaib dijawab (Kej. 24:26), dan ketika Hizkia dan seluruh rakyat menguduskan kembali Rumah Tuhan (2 Taw. 29:30). Israel bereaksi dengan cara ini ketika mereka melihat tanda-tanda Harun (Kel 04:31) menerima pernyataan bahwa Allah telah mengutus Musa untuk membebaskan mereka dari Mesir, dan ketika Paskah dimulai (Kel 12:27). Selain diterjemahkan “tersungkur” dalam berbagai versi Alkitab, kata ini juga diterjemahkan menyembah, bersujud, jatuh, beribadah, melayani, dan melakukan pengorbanan. Konsep dasarnya adalah penghormatan dan pengabdian.

(bagian ............ 6)

Oleh: Hasrat P. Nazara, S.Th