Jumat, 28 Agustus 2015

Dimensi Historis, Penyembahan dalam Sejarah Gereja

Penyembahan dalam Sejarah Gereja
Tata cara penyembahan dalam sejarah Gereja dimulai dengan cara hidup jemaat mula-mula. Kisah Para rasul 2:41-47 melaporkan bahwa jemaat mula-mula bertekun dalam doa, pengajaran dan persekutuan yang disertai dengan perjamuan kasih. Penyembahan juga diwujudkan melalui pengorbanan di mana jemaat bersedia menjual harta milik mereka untuk dipersembahkan kepada Tuhan (band. Kis. 4:32-37). Pada masa ini, sistem dan tata cara penyembahan tidak lagi mengikuti pola keimamatan dalam Perjanjian Lama, tetapi berdasarkan petunjuk Rasul-rasul.
Seiring dengan penyebaran Injil ke luar Yerusalem, di luar wilayah dan pengaruh Yahudi, penyembahan tidak lagi berkiblat ke Yerusalem. Justru penyembahan lebih mengutamakan suatu cara hidup yang sama sekali baru di dalam Kristus, yaitu penyembahan yang menekankan iman, pengharapan dan kasih, dan ditunjukkan melalui cara hidup yang benar, setia menyembah Yesus dan memberitakan Injil.
Unsur-unsur yang cukup yang cukup menonjol dalam perkembangan Gereja mula-mula adalah penggunaan karunia-karunia Roh Kudus. Jemaat melakukan penyembahan maupun pelayanan sesuai karunia yang diberikan oleh Roh Kudus. Dalam tata cara penyembahan itu, pengajaran tetap menjadi bagian yang sangat penting. Materinya bukan lagi berasal dari pengajaran para Ahli Taurat, melainkan berita tentang kematian dan kebangkitan Kristus, yang menjadi Juruselamat manusia. Sitem penyembahan ini berlangsung sejak zaman rasul-rasul, dan diteruskan sampai zaman Bapak-bapak Gereja. Pada masa ini juga nyanyian-nyanyian berupa mazmur diganti dengan Himne-himne yang materinya berhubungan dengan Kristologi.
Setelah kendali Gereja dipegang oleh penguasa pemerintahan, rupanya sistem dan tata cara penyembahan mau tidak mau terpaksa berubah. Ibadah dan penyembahan yang tadinya dikuasai oleh orang-orang yang ditunjuk Tuhan, kemudian dikendalikan oleh negara, dalam hal ini penguasa Roma. Dengan demikian, maka sistem ibadah/penyembahan menjadi sebuah liturgi ibadah yang baku. Esensi penyembahan tidak lagi didasarkan pada Alkitab semata, melainkan percampuran antara tradisi dan budaya, dan kepentingan gereja itu sendiri. Maka tidak heran bahwa Gereja pernah mengeluarkan Surat penghapusan dosa (indulgensia), suatu kebijakan yang tidak berasal dari Kitab Suci.
Untuk menanggapi penyelewengan kebenaran Kitab Suci, maka muncullah beberapa tokoh Reformasi Kristen seperti Marthin Luter, Unrich Zwingli, John Calvin, dll. Akibatnya situasi gereja tidak dapat menjadi “para penyembah Allah.” Konsentrasi pun bukan lagi pada penyembahan, melainkan perdebatan yang tiada putusnya, terutama persoalan ontologi Kristus. Dapat dikatakan bahwa penyembahan mulai diabaikan akibat perdebatan Kristologi yang berkepanjangan. Maka Gereja mulai meninggalkan esensinya, yaitu “Penyembahan.” Sebagai akibatnya Gereja dapat dikatakan mulai mengalami kesuaman, terutama dalam hal penginjilan, sekalipun Gerakan penginjilan memang terus berlangsung.
Menanggapi kesuaman ini, maka muncullah golongan orang-orang Kristen memprakarsai suatu tata cara ibadah yang baru yang dikenal dengan Gerakan Pentakosta. Dengan tidak bermaksud menghakimi, gerakan ini seharusnya membawa Gereja kembali pada penyembahan yang benar. Akan tetapi penekanan utama dalam Gerakan ini, adalah penggunaan dan manifestasi karunia Roh Kudus. Dengan penggunan karunia ini, maka orang-orang Kristen (seharusnya) kembali pada aktifitas utamanya, yaitu menyembah Allah.

Berdirinya Gereja-gereja Pentakosta sejak lima abad yang lalu merupakan cikal-bakal lahirnya gerakan-gerakan kharismatik. Dari golongan kharismatik ini juga dikembangkan suatu istilah dan konsep penyembahan yang lebih khusus “Praise and Worship” (Pujian dan Penyembahan). Gagasan dari istilah ini hanya berfokus pada tata cara ibadah kharismatik dan tidak dapat dianggap sebagai konsep penyembahan yang menyeluruh. Penyembahan dalam konsep dan istilah ini berhubungan dengan ucapan-ucapan syukur yang digabung dengan alunan musik beberapa saat setelah selesai dinyanyikannnya lagu-lagu penyembahan (lagu-lagu lembut). Penjelasan mengenai “Praise and Worship” (Pujian dan Penyembahan) akan dibahas pada bagian selanjutnya.

(bersambung ......)

Oleh: Hasrat P. Nazara, S.Th

Tidak ada komentar:

Posting Komentar