Penyembahan dalam Sejarah Gereja
Tata cara penyembahan dalam sejarah Gereja dimulai dengan cara hidup jemaat
mula-mula. Kisah Para rasul 2:41-47 melaporkan bahwa jemaat mula-mula bertekun
dalam doa, pengajaran dan persekutuan yang disertai dengan perjamuan kasih. Penyembahan juga diwujudkan melalui pengorbanan
di mana jemaat bersedia menjual harta milik mereka untuk dipersembahkan kepada
Tuhan (band. Kis. 4:32-37). Pada masa ini, sistem dan tata cara penyembahan
tidak lagi mengikuti pola keimamatan dalam Perjanjian Lama, tetapi berdasarkan
petunjuk Rasul-rasul.
Seiring dengan penyebaran Injil ke luar Yerusalem, di luar wilayah dan
pengaruh Yahudi, penyembahan tidak lagi berkiblat ke Yerusalem. Justru
penyembahan lebih mengutamakan suatu cara hidup yang sama sekali baru di dalam
Kristus, yaitu penyembahan yang menekankan iman, pengharapan dan kasih, dan
ditunjukkan melalui cara hidup yang benar, setia menyembah Yesus dan
memberitakan Injil.
Unsur-unsur yang cukup yang cukup menonjol dalam perkembangan Gereja
mula-mula adalah penggunaan karunia-karunia Roh Kudus. Jemaat melakukan
penyembahan maupun pelayanan sesuai karunia yang diberikan oleh Roh Kudus. Dalam
tata cara penyembahan itu, pengajaran tetap menjadi bagian yang sangat penting.
Materinya bukan lagi berasal dari pengajaran para Ahli Taurat, melainkan berita
tentang kematian dan kebangkitan Kristus, yang menjadi Juruselamat manusia.
Sitem penyembahan ini berlangsung sejak zaman rasul-rasul, dan diteruskan
sampai zaman Bapak-bapak Gereja. Pada masa ini juga nyanyian-nyanyian berupa
mazmur diganti dengan Himne-himne yang materinya berhubungan dengan Kristologi.
Setelah kendali Gereja dipegang oleh penguasa pemerintahan, rupanya sistem
dan tata cara penyembahan mau tidak mau terpaksa berubah. Ibadah dan
penyembahan yang tadinya dikuasai oleh orang-orang yang ditunjuk Tuhan,
kemudian dikendalikan oleh negara, dalam hal ini penguasa Roma. Dengan demikian,
maka sistem ibadah/penyembahan menjadi sebuah liturgi ibadah yang baku. Esensi
penyembahan tidak lagi didasarkan pada Alkitab semata, melainkan percampuran
antara tradisi dan budaya, dan kepentingan gereja itu sendiri. Maka tidak heran
bahwa Gereja pernah mengeluarkan Surat penghapusan dosa (indulgensia), suatu
kebijakan yang tidak berasal dari Kitab Suci.
Untuk menanggapi penyelewengan kebenaran Kitab Suci, maka muncullah
beberapa tokoh Reformasi Kristen seperti Marthin Luter, Unrich Zwingli, John
Calvin, dll. Akibatnya situasi gereja tidak dapat menjadi “para penyembah
Allah.” Konsentrasi pun bukan lagi pada penyembahan, melainkan perdebatan yang
tiada putusnya, terutama persoalan ontologi Kristus. Dapat dikatakan bahwa
penyembahan mulai diabaikan akibat perdebatan Kristologi yang berkepanjangan.
Maka Gereja mulai meninggalkan esensinya, yaitu “Penyembahan.” Sebagai
akibatnya Gereja dapat dikatakan mulai mengalami kesuaman, terutama dalam hal
penginjilan, sekalipun Gerakan penginjilan memang terus berlangsung.
Menanggapi kesuaman ini, maka muncullah golongan orang-orang Kristen
memprakarsai suatu tata cara ibadah yang baru yang dikenal dengan Gerakan
Pentakosta. Dengan tidak bermaksud menghakimi, gerakan ini seharusnya membawa
Gereja kembali pada penyembahan yang benar. Akan tetapi penekanan utama dalam
Gerakan ini, adalah penggunaan dan manifestasi karunia Roh Kudus. Dengan
penggunan karunia ini, maka orang-orang Kristen (seharusnya) kembali pada
aktifitas utamanya, yaitu menyembah Allah.
Berdirinya Gereja-gereja Pentakosta sejak lima abad yang lalu merupakan
cikal-bakal lahirnya gerakan-gerakan kharismatik. Dari golongan kharismatik ini
juga dikembangkan suatu istilah dan konsep penyembahan yang lebih khusus
“Praise and Worship” (Pujian dan Penyembahan). Gagasan dari istilah ini hanya berfokus pada tata cara ibadah kharismatik
dan tidak dapat dianggap sebagai konsep penyembahan yang menyeluruh.
Penyembahan dalam konsep dan istilah ini berhubungan dengan ucapan-ucapan
syukur yang digabung dengan alunan musik beberapa saat setelah selesai
dinyanyikannnya lagu-lagu penyembahan (lagu-lagu lembut). Penjelasan mengenai
“Praise and Worship” (Pujian dan Penyembahan) akan dibahas pada bagian selanjutnya.
(bersambung ......)
Oleh: Hasrat P. Nazara, S.Th
Tidak ada komentar:
Posting Komentar